bookworm's

Kukila

Nak, dua hal aku benci dalam hidup: September dan pohon mangga. September tidak pernah mau beranjak dari rumah. Betah. Ia sibuk meletakkan neraka di seluruh penjuru. Di ruang tamu. Di ranjang. Di meja makan. Bahkan di dada. Batang pohon mangga tetap selutut persis prasasti batu. Ia berdiri mengekalkan dosa-dosa – dan dosa adalah pemimpin yang baik bagi penyesalan-penyesalan. – M. Aan Mansyur, Kukila

Sudah lama saya ngefans sama akun twitter @hurufkecil – saya sering sekali me-retweet dan beberapa bahkan terpajang pada tab favourite saya. Sudah lama pula saya tahu bahwa pemiliki asli akun itu adalah seorang penyair asal Makassar, M. Aan Mansyur. Sudah lama pula saya tahu ia telah menulis sebuah buku berjudul Kukila yang merupakan kumpulan cerita (prosa). Namun, baru seminggu lalu saya benar-benar menemukan dan membeli bukunya, di toko buku Gramedia Kertajaya 🙂

Biasanya, saya lebih sering ke toko buku Togamas Petra atau Gramedia Expo – entah untuk benar-benar belanja buku bulanan, atau sekedar cuci-cuci mata dan numpang baca. Tapi, saya lebih menyukai Gramedia Kertajaya. Tidak sebesar lainnya, memang, namun buku-buku di sana tertata lebih rapih. A Brief History of Time –nya Stephen Hawking bahkan benar-benar berada di rak “sains populer”. Bandingkan saja dengan di Gramedia Expo, buku tersebut tak bisa ditemukan lewat katalog komputer dan ternyata tersasar di rak “sejarah” hanya karena judul terjemahnya adalah Sejarah Singkat Waktu! Itupun tertutup buku-buku lainnya dan butuh waktu sejam lebih menemukannya!

Di rak sastra, mulai dari Pramoedya Ananta Toer sampai kumpulan puisi Chairil Anwar dan Sapardi Djoko Damono masih ada. Dan tak sulit menemukannya: Kukila. Saya langsung membelinya.

Sebelum Rusdi pergi, mata lembap kami bersalaman diam-diam.

“Tidak perlu berusaha melupakan pohon mangga itu. Kau harus tahu lupa adalah lahan subur kenangan-kenangan. Biarkan ia mengalir seumpama sungai. Saatnya akan tiba, kau akan betul-betul lupa, Kukila,” katanya.

kukila

Kukila sama mengagumkannya dengan tweet-tweet Aan Mansyur, dan bahkan lebih memesona. Teman sebelah kamar kost saya, Rynda, menyebut tulisan-tulisannya aneh – dia bahkan membacanya sambil tertawa-tawa. Nggak jelas, katanya 😆

Tapi saya terpesona, ah tidak, terkagum-kagum juga belum cukup mendeskripsikan; saya takjub! Ide-idenya memang gila, iya, gila. Aneh. Beberapa sepertinya merupakan pengalaman unik si penulis sendiri. Lucu. Namun Aan Mansyur mengemasnya dengan rangkaian frasa yang luar biasa: puitis, khas penyair. Diksinya sangat tidak biasa. Saya seperti membaca puisi di dalam prosa. Dan saya pun jatuh cinta dalam keindahan syair-syairnya.

Ada keinginan yang harus aku relakan mendekam di dada saja, atau keinginan itu melukai orang lain, lalu berbalik melukaiku lebih dalam.

Saya tidak terlalu suka membaca puisi. Ah, tepatnya bukan begitu. Saya suka membaca puisi. Tapi tidak terlalu suka jika disuruh mengungkapkan maknanya; kata-kata dunia yang saya kenal terlalu terbatas untuk sekedar menjabarkan salah dua-atau-tiga. Satu kalimat puisi bisa memiliki belasan makna. Oke, saya bukan sastrawan, bukan pula pemerhati sastra; hanya penikmat. Dan dari kacamata penikmat sastra, itulah yang membedakan puisi dan prosa menurut saya. Ketika membaca prosa, imajinasi kita boleh jadi bebas, namun tetap terarah.

Tapi puisi…tidak. Puisi adalah pembebas; kebebasan yang mutlak.

Mungkin karena alasan itu pulalah saya tidak pernah berhasil menulis puisi atau fiksi mini; saya menilai diri saya sendiri terlalu jelas untuk mencipta sesuatu yang harus tersamar adanya. Saya pernah mencoba, tapi selalu berakhir di keranjang barang sisa. Lucunya, pikir saya, puisi tidak mungkin dan tidak boleh terlalu biasa. Dan saya, sama seperti terhadap gitaris atau pelukis, akan dengan mudah jatuh cinta kepada seorang puitis.

Ada lebih banyak kata dalam diam.

Pada Kukila, setiap katanya bernapaskan puisi, dan punya lebih banyak nyawa dari yang bisa saya uraikan di sini. Saya bahkan tidak mampu memilih kalimat-kalimat mana yang cukup indah untuk dituliskan – semuanya terlalu indah! Duh, tambah ngefans deh sama mas satu ini 😳 Nah, sebelum menilai saya terlalu berlebihan, cobalah membaca Kukila dahulu 🙂

Ah, Kukila, ia memang layak dicintai 🙂

*sumber gambar : di sini

Iklan

One thought on “Kukila

  1. Aku berlutut dan membelai nisannya, kemudian kuletakan seikat bunga lili putih kesayangannya bersama sebuah buku tulis berwarna hitam. 1000 Puisi untuk Rara, judul yang sangat bodoh itu tertera di sampulnya. Sebenarnya aku sudah mulai menulisnya sejak Rara jadi pacarku, tapi aku terlalu malu untuk menunjukkan puisi-puisi tak romantis itu pada siapapun, dan bermaksud memberinya sebagai hadiah kejutan untuk Rara suatu hari nanti, mungkin ketika jumlahnya benar-benar mencapai 1000. Namun aku bahkan tak bisa menyelesaikan separuhnya, inspirasiku telah mati.

**Silakan Berkomentar~! ^.^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s