this is college

Bersyukur

Kadang, menyegerakan dan tidak menunda-nunda apa yang mampu kita lakukan sekarang dan saat ini juga merupakan cerminan rasa syukur atas apa yang kita terima.

Sampai saat tulisan ini dibuat, saya belum sama sekali memperoleh data untuk dianalisis – jangankan data, memberi perlakuan saja belum, padahal ini sudah hampir memasuki bulan keempat dari enam bulan rentang pengerjaan skripsi. Gelisah? Pasti. Takut? Apalagi. Saya takut tidak bisa menyelesaikan skripsi tepat pada waktunya, takut jika ditinggalkan teman-teman saya, takut tidak bisa memenuhi janji untuk lulus sesuai target yang saya janjikan, juga ketakutan-ketakutan lainnya. Bermacam ketakutan ini bukan tak berdasar.

Sebagian dari kita biasanya sudah memiliki rancangan jangka pendek tentang apa yang akan kita lakukan selama setahun ke depan; begitu pula saya. Selama ini, saya bekerja berdasarkan target tersebut. Saya tidak bisa membayangkan jika saya harus menerima kemungkinan terburuk dan merombak total rancangan itu gara-gara skripsi yang tidak selesai tepat pada waktunya – yang tentu saja berimbas pada wisuda yang tertunda juga. Bukan berarti saya tidak punya plan cadangan, ada. Hanya saja saya tidak bisa membayangkan kalau saya harus menerimanya. Tidak. Saya belum siap.

Saya jadi berpikir, beruntunglah mereka yang bisa mengerjakan skripsi di awal waktu, tidak tertunda oleh faktor-faktor X yang jujur saja menyengsarakan jiwa. Terlebih lagi bagi yang sudah mendapat kesadaran penuh untuk bertanggung jawab terhadap tugas akhirnya itu – kini, saya memperhatikan, kemajuan mereka begitu signifikan dibanding yang lainnya. Jika hasil penelitiannya kurang bagus, mereka masih punya waktu untuk mengulanginya kembali. Mereka bisa jadi sudah sampai pada tahap uji, menganalisis data, diskusi sana-sini tentang anomali yang terjadi, mencicil powerpoint dan BAB-BAB selanjutnya, dan lain-lainnya. Sementara saya?

Saya jadi berpikir, benar-benar merugi mereka yang sebenarnya bisa mengerjakan skripsi sejak dulu, tapi memilih untuk menunda-nunda dan lambat mengerjakannya. Saya terkadang bertanya, mengapa Tuhan memberikan berkah waktu dan kemudahan bagi mereka yang menyia-nyiakannya, namun bagi yang benar-benar mengharapkannya, Dia menjawabnya dengan perintah untuk bersabar. Tapi saya tidak dimaksudkan untuk mengerti mengapa. Mungkin, bukan sekarang.

Saya jadi berpikir, dan saya yakin, tidak menunda-nunda merupakan cermin bersyukur paling nyata. Tidak dalam sesumbar doa-doa, tidak pula dalam status thank GOD dan sebangsanya.

Kepada diri saya sendiri dan teman-teman seperjuangan yang telah sejak lama mencoba, namun belum menemukan titik terang, mungkin Tuhan ingin agar kami berbaik sangka; berbaik sangka terhadap keputusanNya. Kita akan dibuat mengerti, pada waktunya. Sekarang, berprasangka baik saja, karena berbaik sangka adalah salah satu jalan untuk menerima; penerimaan yang ikhlas, penantian yang sabar. Karena Tuhan lebih tahu segalanya…

sumber gambar : di sini

8 thoughts on “Bersyukur

  1. Pengalaman seperti di atas sudah pernah saya rasakan, Jeng.
    Berusahalah, berusaha, berusaha dan berdoa.
    Meski tidak bisa tepat waktu, Insya Alloh pekerjaan itu akan selasai pada waktu yang tepat.

    Semangattttttt. ^_*

  2. i have nothing to say sep…… dari dulu aku juga merasa kayak gak adil gitu, mereka yang bisa malah gak ngerjain, sedangkan yang yg ingin ngerjain banyak yang gak bisa …. tapi sayang aku tak pernah menemukan kata2 yg pas untuk mengungkapkannya 😀

    cayooooo cep 😆

**Silakan Berkomentar~! ^.^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s