bookworm's

Perjalanan Rasa

“Tak ada yang lebih menyakitkan daripada membuat diri kita sendiri kehilangan harapan, bukan? Barangkali, suatu hari kau memang akan pergi – sebab kau harus pergi. Tapi jangan hari ini. Jangan sekarang: Aku masih ingin melihat matamu yang penuh harapan!

“Ada saatnya kita harus melepaskan harapan… kadang-kadang harapan adalah pengalih perhatian.”

“Percayalah, kesedihan adalah hadiah – agar pada saatnya kita dihibur dengan cara paling membahagiakan. Seringkali kita memang dibuat tak mengerti sebab kita memang tak perlu mengerti.. seringkali hidup memang harus dilanjutkan dengan cara yang tak kita inginkan… Tapi, percayalah pada waktu: Semua pasti berlalu, yang tersisa tinggal kenangan…”

“O, kenangan, demi masa laluku yang tidak teratur, mengapa aku justru bisa jauh lebih berbahagia di pelukanmu? Ke mana kebahagiaan-kebahagiaan itu? Ke mana kebebasan-kebebasan itu?”

“Jadi, masihkah kau selalu berharap untuk kembali pada masa lalu? Jika begitu, rasanya, kita harus kembali belajar berjalan.”

“Kita selalu diberi kesempatan untuk menoleh ke belakang, memeriksa apa saja yang pernah kita lakukan dan putuskan: Tetapi bukan untuk kembali. Apa yang telah terjadi barangkali memang harus terjadi dan tak pernah ada manusia yang sanggup lolos dari hisapan lubang hitam kesalahan. Teruslah berjalan: Sebab satu-satunya cara untuk berusaha menjadi manusia yang lebih baik adalah dengan tidak berhenti mencobanya.”

“Kadang kita curiga bahwa Tuhan tidak memberikan rencana terbaikNya buat kita. Kadang kita berpikir hidup terlanjur tak adil membuat kita terus-menerus menderita. Kadang kita iri melihat orang lain yang bisa berbahagia sementara kita tidak. Ah, kadang-kadang kita hanya perlu jeda, menunda semua asumsi dan prasangka…”

“Dan aku menemukan keberanianku pada ketakutanmu – pada rasa percayamu bahwa aku akan selalu ada di sampingmu.”

“Adam, kita ini apa?

Kita? Jawabmu, tersenyum. Kita adalah dua manusia yang masih bisa berbahagia.”

“Tetapi, Adam, perempuan lebih suka diberi kepastian – bukan harapan yang setiap hari menimbulkan keraguan.”

“Jika keyakinan mengajarkan kebencian, terberkatilah orang-orang yang meragu.”

“Berhentilah gelisah. Tak usah terlalu percaya pada hitungan-hitungan. Hiduplah dalam keberkahan. Lihatlah dari apa yang sudah kualami selama jutaan tahun cahaya: Keinginan adalah sumber penderitaan. Berbahagialah dalam keberkahan.”

“Jika kau mendapati dirimu cepat menyerah sekaligus inkonsisten dengan sejumlah tekad dan cita-cita yang sudah kau pancangkan di awal perjalanan: Belajarlah menjadi sombong! Bukankah orang sombong selalu punya cukup alasan dalam hidupnya untuk bisa membuktikan semua perkataannya? Jadilah orang sombong yang baik: Tersebab sejatinya kesombongan sepenuhnya merupakan hak Tuhan, maka pinjamlah sebentar, lalu bekerjalah sungguh-sungguh untuk sampai pada pengertian bahwa kesombongan yang tak dibuktikan jauh lebih hina dan lebih kerdil daripada kekalahan manapun. Dan jangan lupa berdoa: Semoga Tuhan lebih menyayangi orang sombong yang bersungguh-sungguh daripada seorang rendah hati yang pemalas…”

“Didengarkan adalah saat lawan bicara kita mendengar dengan penuh perhatian.”

“Kenapa aku menangis? Kenapa kamu menangis? Sebagian dari kita percaya bahwa kita bisa membuat perbedaan, kita bisa mengubah sesuatu, hingga saatnya kita benar-benar terbangun, dan menyadari bahwa kita telah gagal.”

“Aku juga tidak mengerti. Tapi keputusan terbaik tak dibuat agar semua orang mengerti, bukan? Keputusan terbaik adalah apa yang paling kita mengerti tentang diri kita sendiri dan apa yang paling membahagiakan untuk kita jalani.”

“Jodoh bukan cuma soal perasaan.”

“Semua luka akan sembuh, tapi tidak semuanya akan hilang.”

“Sesungguhnya, di sanalah kita ingin sendiri: Mengasingkan diri dari kebisingan, mengakrabi ruang-ruang hati milik kita masing-masing. Bukan untuk jadi pengecut: Kita ingin sendiri karena kita menyadari bahwa kita manusia biasa yang mungkin terluka. Percayalah, semua ‘luka’ akan sembuh, pada saatnya.”

Dan…

“Semoga Tuhan mendekatkan semua rahasia perasaan pada jawabannya.”

perjalananrasa

Dikutip dari Perjalanan Rasa karya Fahd Djibran (@fahdisme)🙂

sumber gambar : di sini

**Silakan Berkomentar~! ^.^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s