this is college

Dialogo

T : “Kau tau, S. Ujian itu tidak diperuntukkan untuk menilai seberapa keras seseorang berusaha, namun seberapa jauh kemampuannya. Nilai A, tidak dihadiahkan bagi mereka yang bekerja paling keras, tapi untuk mereka yang memiliki kapabilitas.”

S : “Antara kerja keras dan kapabilitas ada hubungan kausalitas. Kesuksesan terdiri dari 99% kerja keras dan 1% kecerdasan, keberuntungan, gifted, atau apalah itu.”

T : “Memang, tapi kerja keras harus didukung oleh metode yang tepat untuk mencapai kapabilitas yang baik. Berapa banyak yang menghabiskan waktu lebih lama namun memperoleh lebih sedikit?”

S : “Maksudmu yang harus aku perbaiki adalah metode, begitu? Untuk mencapai kualitas di atas kuantitas waktu belajar?”

T : “Tepat. Beruntung aku lebih tau bagaimana dan berapa lama kamu belajar daripada teman-temanmu yang lain. Bukankah kamu pernah, hanya belajar sedikit sekali menjelang UTS, tidak belajar menjelang UAS selain menghafal beberapa poin saat kamu sudah duduk di bangku ruang ujian? Kamu bahkan sama sekali tidak memiliki atau berusaha ngeprint handout materi, tapi kamu bisa mendapat A. Menurutmu apa yang terjadi di sana?”

S : “Entahlah. Orang bilang itu keberuntungan, lucky, fortune, atau yah kebetulan, meskipun aku tidak terlalu suka dengan alasan itu. Hahaha…”

T : “Aku berpendapat lain. Kamu tidak beruntung. Kamu mampu. Jika kita mengasumsikan dosen dan faktor eksternal lainnya bekerja dengan cukup objektif, maka aku bisa mengatakan bahwa kamu mampu dan pantas mendapat A. Kamu memiliki kapabilitas dan memenuhi kriteria, seperti itu.”

S : “Sekarang memang dosen-dosen sudah menghapus faktor keberuntungan seminimal mungkin. Berapa banyak dosen yang membuat soal ujian dalam bentuk multiple choice? Tapi tetap saja, ada faktor keberuntungan, T. Lihat, aku memang tidak memilih jawaban dengan cara menghitung kancing atau kelopak bunga. Eliminasi, logika, dan lain sebagainya. Bahkan kalaupun harus mengarang, karanganku tetap berdasar. Tapi tetap saja ada titik di mana aku tidak mampu memilih satu di antara dua atau sekian banyak. Kamu tidak bisa mengabaikan begitu saja faktor eksternal.”

T : “Aku tidak mengabaikan, hanya saja aku berani bertaruh kamu bukan orang beruntung.”

S : “Kata-katamu menyebalkan -.-”

T : “Hahaha, memang iya kan? Berapa banyak matkul yang kamu merasa dirimu mampu tapi kamu mendapat nilai C atau bahkan D di sana? Bukan mengejek lho yaa…”

S : “Aku niatnya curhat, malah diceramahin…”

T : “Haha, maaf maaf… Makanya balik lagi ke topik pembicaraan, yang utama adalah perbaikan metode agar kamu memiliki kemampuan. Kamu masih punya setahun untuk mengulang segepok mata kuliah, tidak akan pernah terlambat untuk belajar, apalagi memperbaiki metode belajar.”

S : “Cukup tidak ya… Bahkan untuk semester depan saja ada matkul yang tidak tercover untuk kuulang. Hmmhh…”

T : “Segitu banyakkah nilai jelekmu?”

S : “Menurutku begitu. Aku akan mengulang matkul yang aku yakin layak mendapat jauh lebih baik dari yang sudah aku dapat.”

T : “Biihh, sombong bener… Memangnya kamu bersaing dengan siapa sampe segitu inginnya dapet nilai bagus? Yang penting itu ilmunya, tau.”

S : “Iya aku tau. Tapi kamu sendiri yang bilang, nilai itu mengukur kapabilitas. Aku nggak bersaing dengan siapa-siapa. Yang ingin kukalahkan adalah targetku sendiri. Dan sejauh ini, aku belum berhasil. Jadi wajar kan aku segitu menggebunya?”

T : “Memangnya apa targetmu?”

S : “Rahasia. Haha…”

T : “Pelit. Paling ya pengen lulus cumlaude.”

S : “Memang mahasiswa mana yang nggak pengen lulus cumlaude?”

T : “Nilai bagus itu nggak cukup sama bekal hanya merasa bisa…”

S : “Iya aku tau…”

T : “Kamu sendiri yang bilang kamu merasa bisa ngerjain ujian, kamu nggak pernah absen kuliah, kamu selalu rajin mencatat, kamu berusaha keras mengerjakan tugasmu. Lantas hasilnya? Balik lagi ke awal, yang dilihat adalah kapabilitas. Kemampuanmu dalam bidang tertentu. Itulah ilmu kan? Seberapa dalam kamu menyerap ilmu bisa terlihat dari kapabilitasmu. Bisa nggak, kamu bikin rangkaian jam digital alarm otomatis di luar kepala, ngerjain soal mekanika klasik dengan metode lagrangian atau nyari solusi persamaan Schrodinger untuk atom Hidrogen aja tanpa cheatsheet, atau ngelogika program MATLAB tanpa googling terlebih dulu?”

S : “……….”

T : “Pantas nggak, kamu dapat A?”

S : “Kamu bisa ngomong gitu, iya karena prestasi dan ka-pa-bi-li-tas-mu jauh di atas aku…”

T : “Haha, aku pinter banget ya, nasehatin orang? Padahal IPK kita sama lho :p”

S : “???”

T : “Yaa kurang lebih lah…”

S : “Menohok sekali…”

T : “Hah? Apanya?”

S : “Ceramahmu…”

 

*dialog ini terjadi pada siang hari tanggal 26 Juli 2012, dan ditulis kembali tepat pada malam harinya, hampir setahun yang lalu 🙂

Iklan

**Silakan Berkomentar~! ^.^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s