garden of words

Mencari Dementria

Namaku Parsec. Aku hidup pada masa di mana bumi sudah terlalu tua, tenggelam, dan tidak adil. Tak ada yang lebih menyedihkan ketimbang planet ini selain fakta bahwa para manusia botak berkacamata itu telah mampu memperhitungkan kapan ia akan mati sejak jagad raya mulai menyusut kembali. Oh iya, aku seorang psikiater. Lucu juga menyadari semakin tua umur bumi, semakin banyak ia butuh psikiater. Aku terkadang bertanya-tanya sendiri sampai kapan akan mampu bertahan dari semua kegilaan ini.

Tak banyak yang mengetahui bahwa waktu itu berbentuk lingkaran. Ya, lingkaran! Tak peduli di mana kamu memulai sesuatu saat ini, sesuatu itu akan berulang padamu suatu saat nanti. Sebagian orang mungkin menyadari, namun terlalu enggan memikirkannya. Lihat saja bagaimana mereka berangkat kerja setiap pagi, meratap dan berkeluh kesah tentang upah yang tidak sesuai dengan beratnya pekerjaan mereka, pulang dalam perasaan damai dan lega luar biasa, dan terus mengulangi siklus itu setiap harinya. Ini sih hanya contoh simpel saja.

Contoh lainnya ada pada sebuah kata kuno karma. Karma berbicara tentang suatu hubungan kausalitas yang pasti terjadi. Akibat timbul karena adanya sebab. Banyak orang terdahulu tidak percaya dengan adanya karma, karena Tuhan itu Maha Adil, katanya. Tapi sorry saja, kata Tuhan sudah lama terlupakan hari ini. Bagiku sih masa bodoh dengan karma atau Tuhan, itu semua ada karena waktu adalah lingkaran. Kalian tahu apa sifat istimewa yang menyebalkan dari lingkaran? Lingkaran tidak mempunyai awal. Dan karena ia tidak memiliki awal, kita tidak bisa menentukan di mana akhirnya.

Pertanyaan filosofis lebih dahulu telur atau ayam atau phoenix atau nyala apinya hanya untuk mereka yang tidak mengetahui hakikat waktu. Entah ia berjalan maju atau mundur, dengan diameter besar atau kecil, tidak masalah, waktu pasti menempuh lintasan berbentuk lingkaran. Akibat yang diterima hari ini mungkin saja terjadi karena adanya sebab di masa lalu, atau pun karena sebab yang akan terjadi di masa depan. Who knows?

Ada suatu daerah yang disebut sebagai Dementria. Di daerah ini terdapat jam raksasa yang sudah mulai berdetak sejak alam semesta tercipta. Belakangan baru kuketahui bahwa Dementria berasal dari kata dementor, makhluk magis yang muncul dalam sebuah novel Rowling, yaitu iblis yang kerjanya menyedot kebahagiaan.

Di Dementria, waktu nyaris membeku. Ya, nyaris membeku. Pada sebuah kota yang teramat jauh dari Dementria, waktu berjalan sangat cepat. Semakin mendekati Dementria, waktu akan berjalan semakin lambat hingga akhirnya membeku pada jam raksasa Dementria. Seiring dengan cepatnya perputaran waktu (ya, perputaran, karena sekali lagi kuulangi, waktu adalah lingkaran!) pada kota-kota yang jauh dari Dementria, kebahagiaan semakin melimpah. Orang-orang bahkan mati karena tenggelam dalam euforia mereka sendiri. Namun di Dementria, kebahagiaan nyaris musnah, yang ada hanyalah bencana dan penderitaan, dalam waktu yang sangat lama. Inilah mengapa kota itu dinamai Dementria, tempat di mana kebahagiaan menghilang.

Banyak orang yang tinggal jauh dari Dementria dan tidak puas dengan usia mereka yang sangat singkat berusaha menemukan tempat di mana jam pasir akan membeku itu. Bagaimana dunia bisa bersikap begitu tidak adil? Dan aku, memulai pencarian terhadap kota keramat itu dengan obsesi yang sama : kebahagiaan seharusnya tidak sesingkat ini!

Hanya satu petunjuk yang kumiliki untuk menemukan Dementria, dan itu ada pada hampir semua teks kuno tentang kota itu : satu-satunya jalan menemukan Dementria adalah dengan berhenti mencarinya. Tentu saja aku begitu jengkel dengan petunjuk yang tidak jelas ini, pada awalnya.

Aku tidak tahu berapa lama waktu yang kutempuh dalam petualanganku mencari Dementria. Waktu berjalan sangat tidak seragam untuk perjalanan seperti ini, jadi bagaimana mungkin sesuatu yang tidak setara bisa kujumlahkan?

Pada beberapa tempat yang sengaja kusinggahi, aku menemui seorang bijak untuk meminta petunjuk, namun seperti yang bisa diduga, petunjuk itu masih tetap sama. Tidak bodoh, aku menjadikan penderitaan sebagai kompas. Semakin menyedihkan dan menderita orang-orang yang tinggal di suatu kota, semakin dekat aku menuju Dementria. Namun rupanya, khasiat magis Dementria tidak mampu kutolak begitu saja. Pada suatu malam, aku sakit. Aku merasa begitu menderita dan kesakitan pada malam-malam berikutnya dan tidak mampu melanjutkan perjalanan. Tak punya pilihan lain, aku harus kembali.

Dan di sinilah aku, kembali lagi. Aku mungkin telah berputar-putar hingga lelah, tapi tempat aku kembali, adalah tempat di mana aku memulai segala sesuatu dari awal lagi. Bertahun kemudian, dalam keadaan nyaris telanjang aku baru menyadari, satu-satunya petunjuk menemukan Dementria adalah satu-satunya hal logis yang sedang terjadi. Ya, benar, untuk dapat menemukan Dementria adalah dengan berhenti berusaha mencarinya. Kesadaran ini memukul kepalaku begitu kerasnya hingga aku pun kehilangan sejumput kewarasan paling akhir yang kupunya karena itu. Rumput tetangga memang selalu terlihat lebih hijau, namun bukan di sana akan kau temukan apa yang kau cari; karena kebahagiaan itu seperti bumi dengan rasa syukur adalah mataharinya, yang satu tak mungkin bertahan sementara yang lain tidak ada. Bersyukurlah…

******

Fiksi-ilmiah-fantasi ini terinspirasi dari singularitas Schwarzschild, horison peristiwa (event horizon), dan lubang hitam (black hole) pada kajian tentang astrofisika dan relativitas umum (dari buku Modern Physics, Kenneth S. Krane). Karena genre-nya sendiri adalah fiksi-ilmiah-fantasi, tentu saja tidak seluruh bagian cerita ini sesuai dengan landasan sains yang ada saat ini. Penasaran? Happy googling :mrgreen:

sumber gambar :Β http://images.fineartamerica.com/images-medium/time-sand-heinz–juergen-oellers.jpg#.UFQFBbLiY1Q

Iklan

9 thoughts on “Mencari Dementria

**Silakan Berkomentar~! ^.^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s