sky of words

Teruntuk Najla

Aku sudah mengenalmu sejak kamu masih orok. Saat itu ramadhan berpuluh tahun lalu, ibumu tidak membolehkan tubuhku yang kecil dan ringkih menggendongmu barang sedetik; tapi aku diijinkan mengayunmu dalam kain gendongan. Aku senang sekali. Bahkan sebelum kamu dan aku dapat mengenal apa itu cinta dan pasangan hidup, kita sudah bisa saling membahagiakan. Sepertinya kita berjodoh, ya.

Setiap tahun, aku selalu menanti kedatanganmu saat ramadhan tiba. Ya, bukankah kamu hanya datang saat ramadhan? Kamu yang belajar berjalan, kamu yang belajar membaca, kamu yang menghafal tabel perkalian, dan aku ada di sampingmu di semua saat itu, teman bermainmu paling setia. Semakin dewasa, kamu semakin manis, tapi aku tetaplah aku yang tak pernah bosan memperhatikanmu dari teras rumahku. Kamu yang menumbuk dedaunan dan memasaknya dengan lilin, kamu yang bermain boneka-bonekaan, kamu yang membuat ubi dan jagung bakar. Kamu yang memakai kerudung, kamu yang belajar memasak, kamu yang menjemur pakaian. Ah, kalau film tentangku diputar, mungkin isinya hanya kamu dan nenekku yang renta – haha tapi mana mungkin ada film yang mau bercerita tentangku.

Tahun berlalu. Aku tetaplah aku, tapi kamu sudah menjelma menjadi seorang gadis dewasa yang pemalu. Aku tidak bisa lagi melihatmu dari teras rumahku; hanya pada kesempatan tertentu ketika kamu mengantarkan makanan untuk nenek dan aku, kamu selalu melayangkan senyuman terbaikmu. Bahkan aku, Najla, dengan segala keterbatasanku, tau apa itu cinta.

Tahun berlalu lagi. Aku tetaplah aku, tapi kamu adalah seorang yang sedang berbahagia di pelaminan. Kecantikanmu membuatku kelu. Kamu adalah bidadari, dan hanya Jaka Tarub yang bisa meminang seorang bidadari, bukan aku. Nah-heha, heh-hamadh haa… Senyummu masih senyum terbaikmu, namun apakah butiran bening itu untukku? Terima kasih, El

Tahun terus berlalu. Aku mungkin masih memperhatikanmu, tapi aku sudah bukan El yang dulu lagi. Dulu, aku mungkin begitu gigih menyalahkan Tuhan mengapa tidak menakdirkan ayahku sebagai seorang guru atau pedagang alih-alih buruh tani, sehingga ia memiliki sepeda dan tidak terlambat mengantarkanku ke puskesmas. Dulu, aku mungkin begitu sering memprotes, kenapa ayah dan ibuku harus mati karena TBC? Namun terkadang, Najla, pertanyaan kenapa terlalu berbahaya untuk dijawab. Kenapa aku harus terlahir dalam keluarga miskin, kenapa aku harus menderita cacat permanen hanya gara-gara demam tinggi, kenapa aku masih bisa mencinta, kenapa kamu harus menikah dengannya. Kenapa, nggak penting.

Dan di sinilah aku, masih setia memendam cinta padamu. Menunggu. Terkadang, Najla, penantian bukanlah pilihan. Ia telah menjadi takdirku, karena aku tidak mampu lagi melihat pilihan lain selain kamu. Bagaimana akhirnya, tidak penting. Aku tidak akan lagi memaksa Tuhan untuk membuatmu mencintaiku. Aku hanya ingin terus hidup, agar aku bisa terus mencintaimu….dengan sabar….

Tulisan ini diikutsertakan dalam Elfrize kategori fiksiπŸ™‚

sumber gambar :Β http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/07/silhouette-of-man.jpg

 

 

 

9 thoughts on “Teruntuk Najla

  1. Paragraf yg terakhir so sweet banget….

    “Terkadang penantian bukan pilihan,… ku tak melihat pilihan lain, selain kamu…mencintaimu dg sabar “.

    Bener bener keren, aku tersentuh dg ini. Bisa merasakan bahwa kata memiliki ruh kehidupan….

    Salam kenal, ukhti…..

**Silakan Berkomentar~! ^.^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s