garden of words

Domino #2

Oktober, 1996

Ia menatap gadis yang lelap di bahunya. Dengan tangan kirinya yang bebas, dibelainya rambut gadis itu. Bahkan keremangan cahaya kamar tidak mampu memudarkan kecantikan dan pesonanya yang memancar kuat. Tangannya berganti meraba dagu dan  bibirnya yang merekah merah muda. Delima, gue sayang banget sama loe… Perlahan, ia mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir gadis yang dikasihinya itu. Pelan, dalam, membara.

******

Januari, 1998

Semalam, Delima datang kepadanya dengan tersedu. Yugie memutuskannya, dengan alasan yang cukup konyol, hanya karena Delima tidak mampu memilih salah satu : aku atau dia (Antari)?! Delima menangis dalam pelukannya semalaman, sampai ia jatuh tertidur. Brengsek loe, Gie!

Dan di sinilah ia, berusaha menyeka sisa-sisa airmata gadis pujaan yang ditinggal pergi kekasihnya, diiringi letupan kembang api malam tahun baru yang bersahut-sahutan. Tanpa bisa ditahannya lagi, direngkuhnya tubuh ramping itu erat, menciumnya dalam getar kemarahan dan kasih sayang. Delima terbangun – entah sedari tadi tidak tidur – balas memeluknya. Tubuh mereka bergayut semakin erat, saling melumat bibir. Gue janji bakal njagain loe, Del!

******

Juni, 1999

An, gue sekeluarga mau pindah. Ke mana, loe nggak perlu tau. Gue minta maaf banget udah ngejauhin loe minggu-minggu terakhir ini. Loe pasti ngerti juga. Ini nggak bener, An. Kita nggak seharusnya ngelakuin dosa terkutuk kayak gini. Gue masih sayang sama loe, tapi gue mau berubah. Gue harap kita sama-sama ditunjukin yang terbaik dariNYA, entah doa gue masih didengerNYA atau enggak. Sorry banget. Delima.

******

Januari, 2003

Di luar hujan turun sangat deras. Rintiknya menyamarkan suara yang berasal dari ranjang kamar Genta, tempatnya berbaring sekarang, yang sedari tadi berderit seirama dengan gerakan Genta. Ia teringat malam tahun baru lima tahun lalu. Delima. Bibir Delima. Tubuh Delima. Dan hanya Delima yang ada di pikirannya selama ini, bukan siapa pun, tidak juga lelaki bertubuh kuda teji yang tiga tahun ini menjadi kekasihnya. Diliriknya sekilas wajah lelaki keturunan Manado berkulit hitam eksotis itu. Ah, sebentar lagi. Dan setan pun kembali bernyanyi, mengiringi permainan dua anak manusia yang telah jatuh dalam jeratnya, entah untuk yang ke berapa.

******

Juli, 2005

Sudah putus, jawabnya. Lho, kenapa? Dia kan baik, sukses, dan kalian cocok! Selidik ibunya. Yeah, Genta emang superman, tapi dia nggak bakal mau ngabisin umurnya  buat hidup sama perempuan yang nggak bisa menanggapi gairah seksnya, batin Antari. Nggak kenapa-napa, Bu, beda prinsip aja, lanjutnya. Udah, ibu tenang aja, tuh si dedek udah haus.

******

Desember, 2007

Ini pertama kalinya Antari menghadiri pemakaman yang benar-benar menguras jiwanya. Bu, apa ibu baik-baik saja di sana? Antari senang, ibu sudah tidak akan merasa sakit lagi mulai sekarang. Apa ibu senang, sudah terbebas dari ayah, atau malah sebaliknya? Maafkan Antari, Bu, bahkan hingga ibu pergi, Antari tetep nggak bisa jujur sama ibu. Maafin Antari ya Bu, kalau Antari membuat ibu malu

******

Oktober, 2009

Antari terbangun sebelum waktunya. Setengah tiga, liriknya pada weker digital di samping ranjang. Ia lupa kapan terakhir kali mimpi tentang hal itu. Ah, sudahlah, bukankah peraturan paling dasar adalah menyelamatkan diri sendiri dahulu? Siapa yang bakal ngehukum gue karena itu? Pikirnya, sambil menyeka keringat dingin yang membasahi sekujur tubuhnya.

******

Juli, 2011

Ia menarik tangan Delima dengan kasar. Apa maksud loe? Loe tau kan dia ayah gue? Katanya loe mau berubah, katanya loe pengen gue juga berubah, tapi kenapa sekarang loe malah nyetorin muka loe di hadapan gue? Bentaknya dalam bisikan di sela-sela acara makan malam setelah ayahnya mengenalkan Delima kepada ia dan adiknya. Astaga An, itu udah lebih dari sedekade yang lalu, masa’ loe masih belum bisa kembali hidup normal? Balas Delima tidak percaya dan dengan nada yang kentara sekali mengejek. Tujuan gue adalah urusan gue. Dan meskipun gue masih secantik dulu, gue bukan Delima mantan ‘pacar’ loe. Bukankah lebih mudah kalo kita tetep bersikap seakan belum pernah saling kenal sebelumnya? Lanjut Delima tanpa belas kasihan, kemudian pergi berlalu. Tapi loe bakal jadi ibu gue! Teriak batin Antari memberontak frustasi. Semenit penuh ia terduduk lemas di depan toilet, dan kembali ikut makan malam seolah tak pernah terjadi apa-apa.

******

“Binatang saja, tau mana lawan jenisnya.” – Buya Hamka

sumber gambar : http://astro.temple.edu/~tua46764/pictures/fountain.jpg

Iklan

15 thoughts on “Domino #2

**Silakan Berkomentar~! ^.^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s