sky of words

Domino

“Setiap orang itu seperti bulan, dan memiliki sisi gelap yang tidak pernah ia tunjukkan kepada orang lain.” – Mark Twain

April 1999

Sial! Umpatnya. Sudah hampir setahun ia bekerja di sini, namun asap kelabu pekat yang menyesaki segala sudut ruang itu membuatnya buta arah. Alarm pendeteksi api yang dari tadi melengking nyaring juga sama sekali tidak membantu, membuatnya semakin frustasi. Dua jalan keluar sudah habis dilalap si jago merah. Gue harus keluar.

Dan di sanalah ia melihat, wanita muda dalam balutan jas lab yang tak lagi putih, bersandar lemah pada dinding. Tolong, rintihnya, dan sesaat kemudian, wanita itu terjatuh. Saat hendak bergegas melewati tubuh wanita yang tersungkur itu, ia terhenti. Dengan sisa-sisa kekuatan terakhirnya, wanita itu mencengkeram bagian bawah baju tahan api yang dipakainya, memandangnya menembus kedalaman bola matanya, dan dengan ringkih mengemis. Tolong, anakku

Dengan tergesa, disentaknya cengkeraman lemah wanita itu. Sorry, gue nggak mau mati konyol.

******

Juni, 2011

Malam ini perayaan kecil-kecilan ulang tahun Wisnu, adiknya. Tak ada yang tidak biasa sampai ketika potongan beef steak nyangkut di kerongkongannya. Ayah mau menikah lagi?! Ulangnya, membuat ia tersedak kali kedua. No way, lanjutnya dalam hati.

******

Juli, 2011

Hari ini Antari sengaja pulang mengajar lebih awal, ayahnya akan datang membawa sekaligus memperkenalkan calon istri barunya. Kasihan, pikirnya tak peduli sambil terus menyiapkan makan malam.

Tak lama setelah ia selesai menghias puding tart mahakarya kebanggaannya, pintu depan terbuka. Ini dia, dengusnya. Dengan malas, ia berjalan ke ruang depan. Tanpa peringatan, sepasang mata zaitun yang sangat familier balas memandang melewati bahu ayahnya.

******

Mei, 1990

Saat itu tengah hari. Antari pulang dengan sangat tergesa karena sleeping bagnya tertinggal di rumah. Hari ini ia dan teman seangkatannya akan berangkat berkemah, merayakan kelulusan mereka. Dari halaman, rumah kelihatan sepi. Seharusnya tinggal ibunya yang ada di rumah karena ayahnya bekerja. Dengan berisik, ia membuka pintu. Setelah melewati ruang depan, ia mendengar suara-suara. Merintih dan mengaduh. Ibu? Dan kemudian apa yang paling tidak ingin ia lihat seumur hidupnya terjadi di depan matanya.

Ayahnya menunggangi ibunya seperti kuda. Dengan cemeti dari ikat pinggang di tangan kanannya, ia mencambuk ibu, sedang tangan kirinya menjambak rambut ibu seperti tali kukang. Tanpa berkedip, Antari menyaksikan bagaimana ayahnya memukul sekaligus menciumi setiap jenjang tubuh molek ibunya dengan kasar. Setelahnya, ia menyaksikan bagaimana kedua orangtuanya bersatu dalam kenikmatan.

Antari masih berdiri dalam diam. Ia hampir tak bisa menahan diri untuk muntah. Agaknya lenguhan dan teriakan mereka yang begitu berisik menyamarkan kehadirannya. Kemudian ia berlari, secepat kaki mungilnya bisa membawanya, dan sleeping bag yang tertinggal, tergeletak terlupakan.

******

Maret, 1994

Antari sudah tidak penasaran lagi kenapa ia sering mendengar erangan dan rintihan di malam hari, ataupun kenapa sering ada jejak merah di bagian tubuh ibunya yang tidak tertutup daster, ataupun kenapa ibunya seringkali mendapat memar di tempat-tempat yang tidak biasa. Ia tidak bertanya, tidak juga bercerita. Ia melumpuhkan inderanya.

******

Januari, 1996

Hujan deras mengguyur kotanya. Ia sedang berteduh di halte bis dekat kampusnya bersama kebanyakan mahasiswa lain yang lupa membawa jas hujan. Bosan, diedarkannya pandangan ke sekeliling. Mahasiswi berhidung pesek membaca A Christmas Carol-nya Charles Dickens; mahasiswa berjanggut tipis mendekap kitab suci; mahasiswa berambut jabrik sibuk tertawa-tawa dengan teman-temannya; dan tepat di sebelah gerombolan lelaki berisik itu, pandangannya terhenti. Seorang gadis berdiri menatap langit dengan pandangan bosan dan tidak sabar, rambutnya hitam lurus sebahu, bibir mungil, dan hidungnya mancung, dengan kulit warna langsat yang sempurna; mulus tanpa noda. Merasa diperhatikan, gadis itu menoleh ke arahnya; cokelat zaitun yang sempurna.

******

sumber gambar :Β http://www.desicomments.com/dc1/02/81374/81374.jpg#.UE865rLiY1Q

13 thoughts on “Domino

  1. That is really interesting, You’re an excessively skilled blogger. I have joined your feed and look forward to seeking more of your great post. Also, I have shared your site in my social networks

      1. Bukannya gitu. Nama Antari, fyi adalah bentuk lain dari nama Antares, sinonim dari rasi bintang Scorpio.
        Nah, saat aku membaca tulisan diatas, aku sempat berasumsi karakter tadi adalah diambil dari seseorang yang berzodiak scorpio, yang lahir bulan oktober-nopember. Begichu ….

**Silakan Berkomentar~! ^.^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s