uncategorized

Bekal

Mimpi. Bagi saya, mimpi masih merupakan misteri. Entah pemenuhan hasrat saya yang tak tersampaikan, entah pemberontakan dari alam bawah sadar yang berusaha saya tekan, entah itu hanya reka ulang kejadian ketika saya sadar. Mimpi. Entah dari mana ia datang. Seperti pelajaran pertama yang diberikan Leonardo DiCaprio dalam Inception, kita tak pernah tau bagaimana kita sampai pada suatu adegan mimpi. Ketika saya sedang memegang sebuah ransel cokelat yang sejak lama saya impi-impikan semalam, saya pun tidak tau dari mana ransel itu datang.

Mimpi saya semalam – ya, saya sadar saya sedang bermimpi – dimulai dengan adegan saya memegang ransel cokelat sambil mendengar sirine panjang menggelegar di kejauhan. Setelahnya, semesta sekitar dan juga saya, disibukkan oleh suatu bentuk penyelamatan diri. Saya harus memasukkan barang-barang yang paling saya perlukan ke dalam ransel ini, kemudian sesegera mungkin keluar mencari bantuan. Ya, sirine tadi adalah sirine tanda peringatan tsunami pasca gempa besar. Saya masih ingat apa saja yang saya masukkan dalam ransel ukuran sedang tersebut : handuk kecil, kotak peralatan mandi, kotak obat-obatan, ijazah dan KHS (kartu hasil studi), mukena, sepotong celana pramuka dan jaket abu-abu, botol tablet multivitamin isinya tinggal separuh, minyak aromaterapi, geretan (korek api), snack dan susu beruang, deodoran, dompet, charger ponsel, mushaf alquran, terlalu banyak kaos kaki, komik-komik Detektif Conan, dan terakhir buku saya yang berjudul Mania Fisika (Mad about Physics) dan Fisika Modern di Sekitar Kita (Mad about Modern Physics). Aneh ya, mengapa saya membawa semua barang itu? Bahkan di waktu yang kepepet tersebut saya sedang berusaha keras menjejalkan kaos kaki di rongga ransel yang tersisa. Padahal ketika saya pikirkan setelah sadar, satu saja kan cukup?! Dan buat apa membawa komik?!

Setelah memastikan saya cukup hangat (saat itu malam hari) dengan memakai jaket, kaos kaki, dan sepatu kets (lagi-lagi ini sepatu yang saya inginkan), saya keluar. Saya dan seluruh manusia (saat itu) hanya memiliki waktu lima belas menit sebelum gelombang besar itu menyapu bersih tanpa pilih-pilih. Ternyata dalam persiapan bekal itu saya menghabiskan sepuluh menit. Kemudian saya berlari. Setelahnya, saya sampai di atas gunung, dengan daratan di bawahnya sudah tertutup air. Melihat gelombang yang menerkam anggun tanpa ampun itu, saya tidak berlari lagi. Saya melihat ke sekitar, manusia berhamburan. Di sebelah kanan saya berdiri seorang tukang bakso – serpihan daun bawang dan bawang goreng masih menempel di dahi, dengan handuk kecil tetap terkalung di lehernya – ngeri dan tercengang melihat gelombang yang mematikan, sedangkan di sebelah kiri saya adalah seorang biksu berkulit hitam yang sudah sangat tua, tangannya mengatup, matanya terpejam dalam doa. Saya menangis. Tidak ada ayah dan ibu saya di sini. Adik saya yang mestinya tadi keluar dari kos yang sama, entah di mana. Saya menangis lagi. Tuhan, saya tidak tau rasanya mati, saya takut tidak kuat menahan sakitnya. Dan ketika paru-paru saya menenggak air asin itu untuk pertama kali, saya terjaga.

Ketika terbangun, saya justru tidak menangis. Saya tidak galau seperti yang selalu terjadi ketika saya mimpi buruk. Saya diam menatap langit-langit. Seandainya itulah yang terjadi di dunia nyata, apa yang akan saya lakukan dalam lima belas menit yang mencekam? Apa yang akan saya bawa? Akankah saya menelepon orangtua saya untuk memperingatkan mereka? Akan ke mana saya berlari? Ke gunung, yang terlindung dari tsunami tapi justru menjadi umpan empuk mangsa erupsi? Sembunyi ke dalam gua-gua, aman dalam dekap bumi, tapi tidak dari runtuhan gempa yang menghimpit? Dan kematian, bagaimana rasanya itu?

Setelahnya, saya tidak tidur lagi.

Sambil memasak, mencuci, dan mengepel hari ini, saya masih mengingat-ingat mimpi semalam. Biasanya, mimpi saya akan langsung terlupa setelah terjaga. Seperti yang pernah saya baca, 80% mimpi akan terlupakan dalam 15 menit pertama setelah terjaga, sedangkan sisanya akan berangsur-angsur pudar dalam dua jam berikutnya. Tapi kali ini saya mengingatnya. Saya bahkan berpikir, seandainya itu adalah akhir dunia, dan saya tidak perlu lagi membawa bekal apa-apa ke dalam ransel, apa yang akan saya bawa ketika menghadap-NYA?

sumber gambar : http://images.detik.com/

Bekal. Ah… Sebentar lagi saya akan menjadi mahasiswa tingkat akhir. Bekal apa yang saya punya untuk dapat terjun ke dunia kerja, atau, untuk mendulang ilmu ke jenjang selanjutnya? Apa saja yang sudah saya dapat selama tiga tahun ini? Bekal apa yang saya punya sehingga bisa-bisanya saya membantah nasehat dan menolak keinginan orangtua? Seandainya saya akan menikah, bekal apa yang saya punya sehingga siap menjalani kehidupan berumah tangga dan membahagiakan pasangan saya? Seandainya saya seorang lulusan SMA yang kemarin diterima di PTN, bekal apa akan saya bawa ke perguruan tinggi? Seandainya saya seorang calon presiden, saya sudah punya bekal apa sehingga berani berdiri di atas dan memikul beban dua ratus juta rakyat yang heterogen? Seandainya saya seorang ulama, bekal apa yang saya punya sehingga membuat saya pantas menasehati orang lain?

Ah… Bekal apa yang kita punya?

Iklan

12 thoughts on “Bekal

  1. Pas mimpi itu sadar gak kalau itu mimpi…?? Dan selama mimpi bisa kendalikan gak…??

    Kalau semua jawabannya IYA, selamat Anda berhasil melakukan Lucid Dream, 🙂

    1. saya sadar kl itu mimpi, soalnya (1) saya punya tas yg belum saya beli (2) pake sepatu yg jg belum saya punyai (3) tiba2 saja saya ada dlm situasi seperti itu. tp sayang, saya tidak bisa mengendalikan, bahkan rasanya emang seperti nyata banget!

**Silakan Berkomentar~! ^.^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s