senandika · uncategorized

Cinta itu (bukan) Gula

Dulu kupikir, cinta itu gula. Manis. Ada di mana-mana. Ada dalam sambal terasi buatan ibu, cinta untuk suami dan anak-anaknya. Ada dalam secangkir kopi untuk ayah, cinta setiap pagi dan sore hari. Ada dalam remah-remah roti, cinta untuk pelanggan bakery. Ada dalam buah terlarang yang mengusir manusia dari surga, cinta untuk Adam dan Hawa. Ada dalam kurma yang disunnahkan Nabi, cinta untuk umatnya. Ada dalam kue-kue lebaran, cinta untuk sesama.

Ah, tapi itu dulu. Sekarang aku tau, gula bukanlah ada di mana-mana. Tak ada gula dalam segelas teh tawar yang menemaniku hampir di setiap sore. Tak ada gula dalam secangkir espresso. Tak ada gula dalam segelas air mineral yang paling ampuh melegakan dahaga.

Cinta itu tetaplah gula. Sejatinya manis, namun tidak di segala tempat ia ada. Tak ada cinta pada remaja tanggung yang menggugurkan kandungannya. Tak ada cinta pada ibu yang membuang bayinya. Tak ada cinta pada majikan yang menganiaya bawahannya. Tak ada cinta pada suami yang memukuli isterinya. Tak ada cinta pada pejabat yang memakan uang rakyatnya. Tak ada cinta pada amplop untuk melengangkan jalan hukumnya. Tak ada cinta pada negara yang menggerogoti tanah tetangganya. Tak ada cinta di segala…

Dulu kupikir, cinta itu gula, tak terhitung. Dalam pelajaran bahasa Inggris pertamaku di kelas tiga SD, gula itu uncountable noun dan menggunakan much, not many. Begitu pula cinta, siapa yang bisa mencacah cinta?

Ah, tapi itu dulu. Sekarang aku tau, gula bukanlah tak bisa dihitung. Jika air saja masih mampu dipecah menjadi partikel-partikel air, bagaimana mungkin gula yang laiknya butiran-butiran pasir itu tidak terukur? Sekarang kupikir, cinta itu tetaplah gula. Terkuantisasi dan tercacah. Cinta yang tidak begitu manis, cinta yang tidak begitu tulus. Cinta sekali, cinta tiga-perempat hati, tidak terlalu cinta…

Dulu kupikir, cinta itu gula. Sekarang, begitu juga…

Iklan

27 thoughts on “Cinta itu (bukan) Gula

      1. tapi untuk tarik menarik antar lawan jenis dan begitu pula sebaliknya nampaknya tak dipatuhi oleh beberapa mahluk berakal septi. andaikata kristal, itu tipe cacat kristal :p
        ngomong-ngomong kristal, zadat sudah kah :mrgreen: ?

        1. haha, yaa “binatang saja, tau mana lawan jenisnya” jadi (maaf jika terlalu kasar) buat yg tidak mematuhi hukum itu enaknya kita ibaratkan apa ya? 🙂
          haha, belom. aku sudah berencana nyontek zadat. emoh ngerjain. galau presentasi proposal buat opmod besok >_<

  1. cinta-cinta….
    setiap blog pasti liat arti kata cinta, cinta ada dimana selalu bermekaran, bahkan dalam “napas setiap manusia”, karena cinta adalah anugrah-Nya…
    Meski cinta itu memang tak “ada” bukan berarti tak “ada”…. 😀

    Ada tanda (“) hati-hati salah pengertian.. hehe.. 😀

  2. Cinta itu rasa, gula itu benda. Jika gula adalah rasa, maka jadi manislah namanya itu. Jika cinta adalah benda, jadi nafsulah namanya. Analogi cinta dan gula di sini bisa saya pahami :), tapi bagiku cinta tidak seperti itu. #tsaaah

**Silakan Berkomentar~! ^.^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s