uncategorized

Kau yang Mengutuhkan Aku

Reader, pernah ngerasain jatuh cinta pada pandangan pertama? Saya seringkali mengalaminya – pada lagu-lagu yang baru saya dengar, pemeran film, foto-foto, tempat wisata, judul baru yang dipajang pada rak-rak utama toko buku, sepatu kets  dan tas ransel yang didiskon karena saatnya cuci gudang, dan banyak lagi hal lainnya. Kali ini, saya kembali jatuh cinta. Ya, pada pandangan pertama, pendengaran pertama, dan pemahaman pertama. Apa sih yang mengeluarkan pesona yang begitu besar menarik saya? Ini dia 🙂

******

Senja makin tua ketika kita tiba di kota itu.

Kau melingkarkan lenganmu di tubuhku ketika kita melintasi bangunan-bangunan tua, ruko-ruko yang asing. Ada debar yang tak biasa, bertalu dalam hatiku; Naik turun seperti roda sepeda motor yang sedang kita kendarai bersama, menari di punggung jalan kota yang berlubang.

Selepas kelokan itu, kau mempersempit lingkar lenganmu, mendekatkan tubuhmu dengan punggungku, menyandarkan pipi kirimu di bahu kananku. Entah apa yang sedang terjadi, sesuatu membimbingku memegang tanganmu dengan tangan kiriku. Tiba-tiba debar itu semakin cepat, membuyarkan konsentrasiku: dan tubuh kita tersintak saat ban depan sepeda motorku anjlok di sebuah lubang. Kamu tertawa. Sementara aku masih manahan napas sambil berusaha mengendalikan kemudi yang oleng.

Tangan kita kembali jadi milik masing-masing. Es mencair dalam pikiran. Sejujurnya, apa yang kubayangkan, melebihi apa yang sudah terjadi. Plang-plang hotel kelas melati, reklame bergambar gadis manis berpakaian seksi, ciuman pertama: rasa waswas yang buas. Itu salahku, sungguh: pikiran-pikiran buruk telah membuyarkan konsentrasiku, dan hampir saja membuat hidup kita berakhir di jalanan kota yang asing.

“Kita sudah hampir sampai,” katamu. “Dua kelok lagi, di kanan jalan, rumah nenek bercat hijau dengan pagar putih.”

Aku mengangguk perlahan. Sedikit mempercepat laju roda sepeda motorku.

“Kamu mau menginap?” tanyamu.

Kota yang sepi, rumah yang tak dihuni siapa-siapa, nenek sudah tua, lampu jalan remang-reman, liburan yang panjang: menyamarkan kata pulang. Apakah di kota ini kita akan merayakan ciuman pertama? Bercumbu di bawah dingin bulan?

“Ah, tidak,” kataku padamu, “aku langsung pulang ke Bandung setelah Isya.”

Kamu tersenyum. Mengangguk perlahan. “Kita bisa telponan atau sms-an, kan? Kamu bisa jemput aku dua minggu lagi.”

Aku mengangguk. Kita sudah sampai.

Ciuman pertama kita, selalu urung kita rayakan. Bukan tidak bisa, tapi tidak saja. Meski sebenarnya ingin, aku harus bertahan. Kamu bukan hakku, dan aku tak mau kehilangan debar itu: rasa rindu yang tak habis-habis menghadirkan bayangmu di malam-malam insomniaku.

Kencan kita adalah pertemuan-pertemuan biasa: bioskop, toko buku, pertunjukan teater, makan malam di pinggir jalan. Kita selalu punya banyak kesempatan untuk berciuman, bahkan lebih dari itu. Kita punya banyak kesempatan untuk bisa seperti pasangan kekasih yang lain, selayaknya mereka yang kasmaran di zaman ini. Tapi kita saling bertahan, aku dan kamu: Kita harus menunggu.

“Ada dua jenis kerinduan,” katamu suatu hari, “Kerinduan pertama tersebab kita pernah merasakan sesuatu dan kita menginginkannya kembali. Kerinduan kedua tersebab kita tak pernah mengalaminya dan benar-benar ingin merasakannya, setia menunggu dalam penantian yang lugu.”

“Aku memilih yang kedua,” kataku.

“Aku juga,” katamu. Tersenyum.

Dari sekian banyak pasangan kekasih di zaman ini, barangkali cara kita yang paling asing. Untuk tidak mengatakannya aneh. Dulu kamu selalu marah. Kamu ingin seperti pasangan kekasih lain yang mendapatkan pelukan dan ciuman. Tapi, seperti sudah aku jelaskan, “Yang penting bukan itu. Apa artinya kita berdua, bermesraan, tapi tak pernah saling mendoakan?”

Waktu itu, kamu terdiam. Aku juga tak tahu dari mana aku mendapatkan kata-kata itu. Kamu menangis. Kamu minta maaf. Tapi itu bukan salahmu, kok. Aku juga manusia biasa yang menginginkannya. Kita hanya perlu kesabaran, sebab aku benar-benar mencintaimu. Aku tak ingin merusak kesungguhan cintaku dengan keinginan-keinginan yang merendahkan. Syukurlah kamu setuju.

“Bersabarlah, sebentar lagi, dua bulan lagi kita akan menikah.” Kataku, sebelum berpamitan pulang malam itu.

Kamu tersenyum. Mengangguk perlahan. “Aku mencintaimu,” katamu.

“Aku juga. Kau yang mengutuhkan aku.”

Nyanyikan lagu kesukaan kita

Percepat laju roda

Ku tak peduli dengan mereka

Asal kau di sini

 

Jangan pergi

Kau yang mengutuhkan aku

Bertahanlah sebentar lagi

Sampai kuikat dirimu

 

Tak bosan-bosan

aku ucapkan tiga kata itu

Aku tak pernah merasa lengkap

Sampai kau datang

 

Jangan pergi

Kau yang mengutuhkan aku

Bertahanlah sebentar lagi

Sampai kuikat dirimu

 

…dan dunia seakan membenci kita

Raih tanganku agar kutahu ku tak sendiri

…dan aku melihat segalanya

Saat aku melihatmu

Lalu kita berpamitan. Berpisah lagi, seperti biasa. Kembali bersalin rupa menjadi sepasang kekasih yang mengakrabi makna cinta dari dua tempat yang berbeda.

Dari mana aku belajar bersabar mencintaimu, menunda segala hal yang terus-menerus menggoda kita berdua? Aku juga tak tahu. Aku hanya ingin mencintaimu tanpa alasan-alasan yang pada saatnya akan tiada—wajahmu yang cantik, rambutmu yang hitam dan panjang, kulit kencangmu. Biarlah cinta tumbuh sebagaimana para petani bersabar menanti padi, hingga saatnya panen akan tiba.

Demi apapun, aku mencintaimu. Cintamu telah mengubahku menjadi lelaki yang tak tunduk pada kelaminnya sendiri. Lalu aku akan tidur dengan tenang; memimpikanmu menari di taman bunga; lalu kupu-kupu hinggap di rambutmu yang puitis, melengkungkan senyummu yang manis.

Pagi-pagi, selepas sembahyang, aku akan mendoakanmu dan kamu mendoakanku. Hingga pada saatnya sebuah SMS akan tiba, berisi tiga kata seperti biasanya: aku cinta kamu.

Bertahanlah,

sebentar lagi,

sampai kau ikat diriku…

******

Nih link videonya 🙂 http://youtu.be/L0pLhwvfpg0

Sudah dibaca? Sudah diresapi maknanya? Sudah lihat video dan mendengar lagunya? Revolvere itu sendiri adalah penggabungan antara sastra, musik, dan visual (gambar). Ya, seperti ini. Project revolvere ini didirikan pada pertengahan bulan Agustus 2011 di sebuah café di Bandung oleh tiga kreator lintas-bidang: Fahd Djibran (penulis), Fiersa Besari (musisi), dan Futih Al Jihadi (seniman visual). Dan “Kau yang Mengutuhkan Aku” adalah karya mereka yang pertama.

Saya pertama kali mendengar revolvere ini kemarin, ketika mengikuti Seminar Menulis bersama Fahd Djibran, penulis “Hidup Berawal dari Mimpi” yang diadakan oleh HIMASIKA ITS (Himpunan Mahasiswa Fisika Institut Teknologi Sepuluh November). Dan saya langsung jatuh cinta. Tanpa bermaksud lebay, sepertinya dada ini berdesir gimanaa gitu. Saya bahkan percaya, seandainya saya pertama kali berkenalan dengan “Kau yang Mengutuhkan Aku” ini sendirian di kamar kos, saya sepertinya bakal ada yang keluar dari sudut mata. Hehehe…

Gimana, apa yang Reader rasakan setelah menikmatinya? 😀

PS : tulisan ini diikutsertakan dalam Physics Blog Competition 2012 yang diselenggarakan oleh HIMASIKA ITS dan disponsori oleh PT OTAK KANAN, Baba Rafi, dan Kedai Digital.

Iklan

12 thoughts on “Kau yang Mengutuhkan Aku

    1. itu Fal, karya seni jenis baru, revolvere (sastra-musik-video), penulis naskahnya Fahd Djibran 🙂
      kemarin waktu beliau jd pembicara seminar, katanya beliau sedang menggarap dua revolvere lainnya. nah, ini karya pertama beliau 😀

      1. Beginilah jika PECANDU KArya Sastra bertemu,,,, :mrgreen:
        Ujung2nya lomba ya??

        Semoga menang, KEREN… Langsung di keyword sama google nih, ‘ciuman’, 😆

  1. sumpah merinding bacanya…..
    Sama kerinudan saya paling suka pas :

    Kerinduan pertama; “tersebab kita pernah merasakan sesuatu dan kita menginginkannya kembali”.
    Kerinduan kedua; “tersebab kita tak pernah mengalaminya dan benar-benar ingin merasakannya, setia menunggu dalam penantian yang lugu”.

    Huuh,,,,,,
    tau aja nih kalau lagi kangen sama seseorang…

    berjuta nilai dan jempol tidak bisa saya berikan, hanya rasa kagum yang bisa saya sampaikan pada penulis.

    Memang Hawa nafsu terkadang membuat orang terjerumus dalam lubang hitam, tapi saya tidak menyangka ternyata ini sudah di buat lebih awal dari zaman ini, seakan mereka tahu akan apa yang terjadi di masadepan.

    I Like It Thank’s…. 🙂

    1. tuhkan gak nyesel kan saya paksa baca? 😛
      tulisan ini jg mengingatkan saya akan banyak hal, makanya saya sukaaa skali 🙂
      semoga bermanfaat buat kita semua 🙂

**Silakan Berkomentar~! ^.^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s