salad days

Selamat Ulang Tahun

Ia masih saja duduk bersandar pada dinding kamar. Sudah dua puluh enam menit berlalu, namun ia belum beranjak dari atas tempat tidur, tidak melakukan apa-apa. Tidak termenung, tidak membaca, tidak sedang berkirim pesan singkat, hanya duduk saja. Berpikir. Satu-satunya pemecah keheningan hanyalah playlist telepon genggamnya yang memutarkan lagu yang sama berulang kali, serta perdebatan antara hati dan pikirannya yang berusaha keras menerobos keluar sedari tadi.

Ia bingung. Empat menit lagi genaplah setengah jam ia berada dalam dilema untuk mengirimkan pesan singkat itu atau tidak. Padahal tinggal menekan satu tombol saja maka rangkaian kalimat kurang dari seratus enam puluh karakter tersebut akan berubah menjadi pulsa listrik, terbang menumpang pada gelombang elektromagnetik termodulasi dengan kecepatan cahaya, dan tidak sampai dua detik kemudian, akan sampai ke alamat tujuan dalam bentuk rangkaian kalimat seperti yang ia ketikkan, tidak berubah satu huruf pun. Atau, ia bisa saja membatalkannya. Hanya perlu satu tombol yang lain untuk menghapus. Tapi, yah, tidak sesimpel itu.

Hatinya bersikeras untuk tidak melupakan, sedangkan pikirannya sebaliknya. Sialnya, seberapa pun kuatnya usaha dan tekad pikiran untuk melupakan, jika tidak direstui oleh hati, maka justru hati lah yang akan dengan suka rela mengingatnya, dengan cara yang masih menjadi tanda tanyanya hingga kini. Membuatnya menjadi kenangan yang lebih mendalam, lebih emosional.

Hatinya ingin mengirimkan pesan singkat itu, namun pikirannya memberontak keras mencegahnya melakukan itu. Hatinya hanya ingin berjalan beriringan dengan damai, namun pikirannya tidak sudi menoleh lagi. Hatinya ingin menyapanya, namun pikirannya bersikukuh itu tidak perlu dilakukan.

S__3924094

Lihatlah, ia hanya ingin mengirimkan sebuah pesan selamat ulang tahun, tapi sebegitu sulit perhelatan yang harus dilaluinya. Satu setengah menit lagi, ketika tenggang setengah jam itu terlewati, ucapan itu pun akan menjadi basi. Perlukah ia menambahkan permintaan maaf karena telat mengirimkan ucapan selamat? Tidak, ia rasa itu tidak perlu. Toh ia bukannya lupa, ia ingat sejak berhari-hari lalu, dan dalam dua puluh empat jam terakhir, ia memikirkannya sepanjang hari. Jadi tak ada alasan untuk meminta maaf padanya.

Dengarlah, entah ini yang keenam atau ketujuh kali lagu itu berulang. Lagunya. Ia selalu suka chorus lagi itu, permainan biola yang menawan, juga suara dentuman drum yang menggugah. Dan yah, ia masih belum bisa memutuskan…

Ketika mendengarkan (lagi) permainan drum lagu itu dengan seksama, tanpa aba-aba ia langsung menekan sebuah tombol, lantas menghempaskan dirinya di tempat tidur, menghela napas panjang, dan menutup wajahnya dengan bantal.

Ya, begini lebih baik…

Iklan

25 thoughts on “Selamat Ulang Tahun

  1. Eh eh eh … ujungnya masih multiinterpretasi nih … tombol apa yang ditekan, “kirim” atau “cancel” hehehe πŸ˜€
    Mau mengirim saja, sudah melahirkan inspirasi 7 paragraf hehe πŸ˜€

    1. hihihi, yaahh terserah yg baca deh mau nekan tombol yg mana πŸ˜€
      penulis itu kan memang suka melebih-lebihkan, apalagi yg amatiran seperti saya, haha πŸ˜›

  2. saya menebak, tombol yang ditekan adalah ‘kirim’ tapi karena pulsanya abis, gag bisa terkirim, makanya lantas si tokoh menghempaskan dirinya di kasur, πŸ˜€

  3. hmm…dilema ya mbak? πŸ˜€
    salam kenal, sepertinya ini pertama kalinya saya mampir ke sini
    tapi kok sudah ada link blog saya di sini, hehe….

    saya izin nyantumin blog ini ke blogroll juga yah

**Silakan Berkomentar~! ^.^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s