salad days

Ibuku Mungkin Tak Pernah Tau

Aku tidak pernah suka perpisahan. Sensasinya membuatku merasa seperti memergoki suamiku selingkuh sehabis  lari maraton : dadaku sesak, perut serasa mencelos dua setengah meter ke belakang, dan gigiku bergemeletuk sakit menahan tangis. Yah, meskipun aku belum pernah tahu rasanya memergoki perselingkuhan sehabis maraton. Dan aku juga belum punya suami…

Baru saja lima belas menit yang lalu aku mengantar ibuku berangkat ke bandara. Lebih tepatnya, hanya mengantar sampai depan kos saja karena tas ibuku yang begitu besar (dan juga berat) menghalangi niatku mengantarkan ibuku sendiri dengan sepeda motor ke bandara. Setengah jam yang lalu, boleh saja aku bersikap santai seperti biasa – tetap tidak banyak bicara, tetap terlihat cuek mengangkat tas besar itu ke bawah (kosku di lantai dua). Boleh saja aku tidak berkata apa-apa tentang ketidaksukaanku akan perpisahan, boleh saja aku tidak mengisyaratkan apa-apa kalau aku tidak ingin ibuku pergi!

Namun sekarang semuanya tumpah… Bendungan itu runtuh. Dan ruahlah semuanya…

Ibuku tiba di tempatku hari Jumat, sore hari. Seminggu sebelumnya, ibu dan ayahku mengikuti kursus pra-pensiun di Yogyakarta dari perusahaan tempat ayah bekerja. Selesai kursus, kedua orangtuaku mampir ke Madiun, mengunjungi orangtua mereka (kakek-nenekku). Ibuku menyusul ke Surabaya untuk berbelanja barang-barang yang akan dijualnya lagi, sedang ayahku tetap di Madiun. Alhasil, Sabtu-Minggu kemarin kuhabiskan untuk mengantar ibuku berbelanja dan ngobrol-ngobrol saja.

Hari ini, ibu dan ayahku harus kembali pulang. Ke Lhokseumawe. Tiket pesawat mereka menunjukkan keberangkatan pukul sepuluh pagi. Dan aku, ketika menunggu taksi yang telah kupesan di depan kos, masih tetap asyik memperhatikan kesibukan lalu-lalang jalan. Padahal itu hanya kedok saja. Padahal aku hanya gengsi saja. Kalau harus memperhatikan wajah ibuku lebih lama lagi, bisa-bisa aku menangis seperti gadis kecil berusia lima tahun yang tidak diizinkan ikut ibunya pergi ke pesta.

Taksi datang. Aku menyalami ibuku dan beliau mencium pipi dan keningku. Dan ketika beliau bertanya sambil bercanda, “Mau ikut pulang juga nggak?” – aku, dengan sok-tidak-peduli masih saja sanggup berkata, “Ngapain Buu, di sana malah suntuk..”

Tetap saja aku bersedih. Tetap saja cairan bening itu tak hentinya menggenangi kedua mataku. Padahal aku yakin, aku masih memiliki kesempatan untuk bertemu dengan beliau lagi, meskipun aku tak akan pernah tau apakah itu benar. Siapa yang tau masa depan?

Dan mungkin hingga kini, ibuku tak pernah tau aku menangis untuknya. Ibuku mungkin tak pernah tau aku ingin berada di dekatnya saja. Ibuku mungkin tak pernah tau aku pernah gigih sekali berdoa agar Unair pindah ke Lhokseumawe saja, atau agar pabrik ayahku pindah ke Surabaya saja. Ibuku mungkin tak pernah tau betapa aku menginginkan pintu ke mana saja-nya Doraemon. Ibuku mungkin tak pernah tau aku menyimpan fotonya di dompetku, sedang foto ayah dan adik-adikku kutempelkan pada dinding kamar. Ibuku mungkin tak pernah tau bahwa aku menangis semalaman pada malam terakhirku di rumah Februari kemarin. Ibuku mungkin tak pernah tau…

Bagaimana mungkin ibuku tau aku begitu menyayangi dan merindukannya jika aku terlalu gigih menjaga sikap sok cuekku?

Sialnya, lagi-lagi, aku hanya punya nyali untuk menuliskannya saja…

Sebening tetesan embun pagi
Secerah sinarnya mentari
Bila ku tatap wajahmu Ibu
Ada kehangatan di dalam hatiku
Air wudhu slalu membasahimu
Ayat suci slalu dikumandangkan
Suara lembut penuh keluh dan kesah
Berdoa untuk putra-putrinya

Oh ibuku…

Engkaulah wanita yang kucinta selama hidupku

Maafkan anakmu bila ada salah

Pengorbananmu tanpa balas jasa

Ya Allah ampuni dosanya
Sayangilah seperti menyayangiku
Berilah Ia kebahagian di dunia juga di akhirat

(Sakha – Ibu)

30 thoughts on “Ibuku Mungkin Tak Pernah Tau

  1. aku yang nangis bacanya… :'(…… meskipun gak jauh2 amat aku juga pernah berdoa kenapa unair gak di jember aja?? aku kangen ibuku….

    tuh kan…. bikin gak kerasan nih….

  2. . wah .. lagu itu memang selalu bkin meleleh sep .tiap diputer .. dan itu pastii 😥
    . jangankan qm .. ak aj yg cm sby-gresik jg merasakan itu.. >.<
    klu ps brngkt k sby . ndag diantar ibu sampe dpn pintu rumah gtu ndag enak rasanya ..
    . jdnya ngerengek dikit dch .. 😀

  3. Wah..gawat,masa unair mau dipindah ke lhokseumawe ato jember hehehe.. mau gimana lg mbak ,mmg begitulah hidup,ada pertemuan pasti ada juga perpisahan. Dan kalau nggak skrg ,pasti nanti kita akan mengalaminya juga. Asal aja jngn perpisahan dgn susu beruang jadi bikin malas posting hehe..

  4. wah … jujur *meski malu-malu*, saya kok terharu baca postingan ini 😦
    hahahaha <— ketawa aja biar berasa happy 😀

    Semoga Aceh pindah ke Unair ya *lho, kok*

  5. septi, kamu berhasil membuat saya menangis. saya kan sudah pernah bilang, baca tere-liye ketika bahas ibu itu selalu sukses membuat saya menangis, dan sekarang, Anda-lah yang membuat saya mengharu biru seperti ini untuk kesekian kalinya karena tulisan tentang “ibu”

    1. sebenarnya saya jg terenyuh pgn nangis teringat sm ibuku yg semakin sepuh dan saya blm bs membahagiakannya, tp saya gengsi utk mengakuinya…….
      #ups…..

**Silakan Berkomentar~! ^.^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s