salad days

Gado-gado

Sudah lama juga saya tidak posting, tidak tau harus menulis apa, lebih tepatnya begitu. Minggu lalu (dan juga minggu ini sebenarnya) menjadi minggu yang tidak biasa buat saya. Tidak ada inspirasi yang mengalir datang. Tidak ada pemikiran-pemikiran kritis terhadap sesuatu hal – padahal lagi panas-panasnya BBM kan?! Lantas mau menulis apa?

Postingan kali ini pun tidak memiliki topik dan arahan yang jelas, hanya seputar kebingungan saya akhir-akhir ini (saya kurang sudi menyebutnya galau -.-) – makanya saya kasih judul gado-gado.

Pertama. Dua minggu ini saya bingung dengan judul proposal (skripsi). Minggu lalu, setelah berkonsultasi dengan dosen, saya mengurungkan niat untuk meneruskan topik awal saya (tentang paparan laser untuk inaktivasi bakteri) – kenapa? Entah, memang sejak awal saya kurang sreg saja, ditambah lagi setelah terbeberkan fakta ini-itu, saya semakin tidak sreg -.-

Alhasil, sebelum long weekend minggu lalu, saya harus pulang kuliah pada hari Kamis sore dengan mengantongi tugas untuk sesegera mungkin menemukan topik baru untuk diposting paling lambat hari Senin. Beruntung, ketika iseng-iseng membaca powerpoint (untuk mata kuliah) spektroskopi hasil download, sepercik ide (ya, sepercik!) menembus tulang tengkorak saya yang keras ini (keras dalam arti sebenarnya maupun tidak :P). Singkat cerita, setelah browsing dan baca jurnal sana-sini, saya memutuskannya : deteksi kanker dengan fluoresensi. Keren kan ya? Hahaha. Jujur, saya jatuh cinta sekali dengan yang ini🙂

Kedua. Tentang PKL. Sudah sejak lama saya ingin PKL (praktek kerja lapangan – red) di Cepu. Partner satu tim saya juga begitu, Yoyok namanya – seseorang yang sensasional sekali di kelas :p Untuk mendukung keinginan ini, saya dan Yoyok, berniat ingin mengajak teman untuk PKL di sana juga. Jadilah rencana kami : Yoyok merayu Bayu (wah, tidak perlu dibayangkan ya!) dan saya menggaet Ilmi. Kalau berhasil, kami berenam bisa PKL sama-sama di Cepu bulan Juli tahun ini. Saya-Yoyok, Bayu-Desy, Ilmi-Rio. Lagi-lagi singkat cerita, rencana kami tidak berhasil. Saya sungguh kecewa sekali – awalnya. Tapi sekarang tidak lagi. Tidak ada yang mampu menyurutkan semangat kami meskipun PKL hanya berdua, hahaha (wah, pasti banyak yang bakal cemburu dengan saya, pasalnya Yoyok itu diidolakan banyak orang, Fiqih salah satunya :P). Yosh, semangat PKL!

Ketiga. Balik ke skripsi-skripsian lagi. Setelah judul saya kumpulkan hari Senin, bu dosen akan mengomentari judul tersebut plus memberikan komentar-kritik-saran-koreksi. Ternyata, penelitian saya tidak bisa hanya dilakukan di kampus, harus ke luar (maaf, saya belum punya nyali menyebutkan tempatnya). Sebagai solusi, jika saya tetap keukeuh ingin melakukan penelitian tersebut, saya harus mengajukan proposal penelitian ke ajang PKM, harus lolos seleksi, dan harus didanai. Saya sih biasa saja. Beneran. Yang kurang bisa membuat saya biasa adalah jika teman-teman saya mengomentari judul tersebut dengan “Ciee, bakal penelitian ke xxx nih…” ataupun kalimat lain yang sebangsa-setanahair dengan itu😦

Simpel saja, saya tidak nyaman (titik) Entah, mungkin saya yang terlalu negative thinking ya, sehingga entah kenapa kedengarannya kalimat itu seperti… Oke, sekian! Tak perlu dilanjutkan.

Keempat. Masih soal skripsi-skripsian. Setelah saya berkonsultasi dengan dosen pembimbing, beliau memberi saran untuk mengganti sampel saya dengan tumor kulit saja. Awalnya, saya setuju. Namun, sembilan jam kemudian, saya mulai mampu menyusun fakta-fakta yang telah berhasil saya kumpulkan.

Kalau diganti tumor kulit, saya bisa jadi kehilangan alasan kuat untuk apa penelitian tersebut dilakukan…

Kalau diganti tumor kulit, sedangkan tumor kulit adalah sesuatu yang mampu dan mudah dideteksi sejak awal, saya bisa jadi kehilangan alasan kuat untuk apa metode tersebut ditawarkan sebagai diagnosis alternatif metode konvensional…

Kalau diganti tumor kulit…….

Intinya, saya tidak ingin diganti tumor kulit, tapi, saya belum mampu menemukan solusi apa yang tepat untuk mengatasinya. Menyedihkan sekali.

******

Tahukah, saya membuat tulisan di atas pada hari Jum’at pagi kemarin, dan saya menulis kelanjutannya sekarang (Sabtu malam). Saya menyadari, apa yang saya tulis kemarin, mengungkapkan betapa jelas ketidakbahagiaan saya terhadap proses. Terhadap proses pencarian judul, saya tidak bahagia, melainkan ambisius dan terpaksa. Saya hanya bahagia terhadap hasilnya, ketika mendapat insiprasi tersebut. Terhadap proses pencarian rekan PKL, saya tidak bahagia, tetapi ngebet dan menggebu. Sehingga dapat dilihat jelas betapa tidak bahagianya saya terhadap hasil yang saya terima : kegagalan.

Berbahagialah dengan cara kita meraih kebahagiaan, dan bukan dengan hasilnya, karena kita bisa menentukan cara tapi tidak bisa menentukan hasil.

Ketika menulis ini, saya sedang berusaha memahami kebahagiaan dalam menjalani proses. Saya belum tau bagaimana hasilnya, tapi saya harus-akan-pasti bisa. Semoga🙂

13 thoughts on “Gado-gado

  1. Ga mudeng Sep, aku suka yang ini saja

    Berbahagialah dengan cara kita meraih kebahagiaan, dan bukan dengan hasilnya, karena kita bisa menentukan cara tapi tidak bisa menentukan hasil.😀

        1. yang mana aja boleehh…..:mrgreen:

          Berbahagialah dengan cara kita meraih kebahagiaan, dan bukan dengan hasilnya, karena kita bisa menentukan cara tapi tidak bisa menentukan hasil.
          ………

  2. Wew.. Banyaknya topik, jadi bigung mesti komentar apah. Hehe..

    Tapi aku gag setuju Yoyok dibilang sensasional.😀 Bisa makin heboh tuh orang.

**Silakan Berkomentar~! ^.^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s