senandika

Suka Tidak Suka, Akal Kita Ada Batasnya

Pernahkah kalian bertanya, sebenarnya apakah kita ini, dan dari manakah kita berasal? Saya pernah. Seringkali malahan. Ketika sampai pada suatu titik, mau tidak mau saya harus menerima kenyataan bahwa saya harus memiliki sebab keberadaan. Terlebih, tidak hanya saya, segala sesuatu harus memiliki sebab keberadaan, karena segala sesuatu terikat oleh hukum kausalitas. Dan dalam keyakinan saya, penyebab segala sesuatunya itu adalah Tuhan.

******

Dulu, Septia kecil pernah menanyakan hal yang kurang lebih sama. Septia kecil yang waktu itu duduk di bangku kelas 3 atau 4 sekolah dasar, baru saja membaca tentang Big Bang, salah satu teori permulaan alam semesta dari buku astronomi bergambar yang dibelikan ayahnya. Septia kecil pergi madrasah (sebutan untuk pengajian sore yang diikutinya) sambil masih berkhayal-khayal tentang Big Bang.

Septia kecil tahu bahwa yang membuat ia ada adalah karena orangtuanya ada, orangtua karena kakek-neneknya, kakek-neneknya karena kakek-nenek buyutnya, kakek-nenek buyut karena kakek-nenek moyangnya, dan seterusnya hingga Adam dan Hawa diusir ke bumi. Ia juga memperoleh pengetahuan baru tentang proses terciptanya bumi, planet-planet, dan matahari, juga alam semesta. Ia juga masih ingat cerita Pak Ustadz tentang salah satu ayat dari Surat Yasin, kun fayakuun ([Tuhan berkata] ‘jadilah’, maka jadilah). Tapi ketika ia telah sampai di kelasnya, Septia kecil sampai di suatu titik di mana ia merasa kebingungan. Jika Tuhan-lah penyebab terjadinya Big Bang, lalu dari mana datangnya Tuhan?

Merasa tidak mampu menjawab pertanyaan yang entah kenapa ia rasa penting ini, ketika kelas dimulai, ia bertanya pada Ustadz-nya yang baik. Lupa persisnya bagaimana Septia kecil bertanya, tapi kurang lebih beginilah jawaban sang ustadz yang kaget,

“Kamu tidak boleh bertanya seperti itu, Septia. Ada hal-hal yang tidak bisa dicapai akal manusia, begitu pula ada hal-hal yang tabu dipertanyakan. Bagaimana kalau kamu menyerah saja? Tidak ada manusia yang bisa menjawabnya. Bisa-bisa kamu jadi gila kalau penasaran dengan hal itu terus.”

Dan ketika ia menanyakan hal yang sama juga kepada ibunya, ia mendapat jawaban yang persis sama – jangan-jangan mereka janjian? Septia kecil yang merasa tidak puas namun takut, tidak pernah menyuarakan hal itu lagi.

******

Kini, Septia kecil telah dewasa (atau masih beranjak?) dengan mengantongi pertanyaan yang tetap sama, dan masih tanpa kemajuan apa-apa. Ketika ia berusaha memberikan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat filosofis tentang dirinya dan kepada dirinya, ia harus mengakui bahwa ia menjumpai jalan buntu. Ketika ia ingin menjawab pertanyaan, apakah aku dan dari manakah aku berasal? – ia harus mundur ke masa lalu.

Ia masih tetap berhenti di tempat yang sama. Jika Tuhan adalah penyebab dari segala sesuatu, dan Tuhan sendiri tidak memiliki sebab, itu berarti Tuhan selalu ada. Namun, mungkinkah sesuatu ada tanpa memiliki permulaan? Ia sangat meyakini keberadaan hukum kausalitas. Ia tahu bahwa seluruh alam raya, tanpa kecuali, haruslah mematuhi hukum sebab-akibat, karena kausalitas adalah hukum alam. Tapi, ah, tentu saja, Tuhan bukanlah Zat yang harus mematuhi hukum alam – Tuhan sendirilah yang menciptakan hukum alam itu. Lantas, bagaimana mungkin?

Lalu ia beralih ke pertanyaan yang lain, akan ke manakah aku nanti? – dan ia harus maju ke masa depan. Menurut keyakinannya, akan ada suatu masa yang sifatnya kekal setelah manusia mati, namun lagi-lagi timbul pertanyaan di sini. Apakah keabadian itu? Ia tahu bahwa Tuhan adalah Zat Yang Maha Abadi – namun sejauh mana keabadian itu? Sampai kapan?

Akhirnya, suka tidak suka ia harus mengakui bahwa akal yang dimilikinya – akal yang dimiliki manusia memiliki keterbatasan. Kemudian ia menyadari satu hal lagi. Akalnya tidak bisa menyentuh zona di mana waktu belum ada [Septia menyebutnya waktu negatif (tahun minus tiga, misalnya)] – atau masa sebelum penciptaan, juga masa yang kekal. Menurutnya hal ini sama seperti mata yang tidak bisa melihat di mana tidak ada cahaya – waktu itu sendiri adalah perjalanan cahaya, bukan? Dalam Ilmu Fisika ia sudah mempelajari bahwa awal mula perhitungan waktu adalah awal mula terbentuknya cahaya.

Ya, ia sampai pada kesimpulan bahwa akalnya terbatas.

Ketika mengobrol dengan kekasihnya via pesan singkat tentang hal ini, kekasihnya hanya mengatakan bahwa ada saatnya jawaban bagi pertanyaan itu akan datang kepada kita dengan sendirinya. Septia tidak terlalu menyukai gagasan ini – bagaimana mungkin sesuatu bisa diperoleh tanpa usaha? Tanpa kerja keras mencari jawabannya? Ketika ditanya lebih lanjut, kekasihnya hanya menjawab, “Ketika kita sudah siap. Semua ada masanya, sama seperti belajar.” Memang, ada masanya kita belajar perkalian, pembagian, dan ada masanya juga kita belajar integral dan diferensial. Tapi ini bukan seperti ilmu yang bisa diperoleh seiring bertambahnya usia, buktinya tidak ada manusia yang mampu menjawabnya.

Ah, sudahlah. Memang sepertinya benar ada rahasia di balik rahasia.

******

Bukan dengan tiba-tiba saya memikirkan hal ini lagi dan memutuskan untuk menyuarakan kembali pertanyaan yang selalu mengusik dari dulu. Ketika melihat-lihat isi lemari yang isinya buku-buku lama saya jaman SD, SMP, hingga SMA, terbersit lagi pertanyaan itu. Terangkat ke permukaan, begitu mengganjal. Dan kekasih saya lah yang saya percaya tidak akan menertawakan pertanyaan-pertanyaan saya yang biasanya tidak biasa, meskipun pada akhirnya ia berkata (lagi-lagi) betapa anehnya saya.

Saya tidak keberatan mengantongi pertanyaan ini – rasanya seru malah bisa mendengar hati dan pikiran saya berdialog, toh saya pikir semua manusia juga semestinya memiliki keingintahuan yang sama seperti saya tentang hakikat diri mereka.

Hmm, sepertinya kita semua perlu belajar filsafat ya? 😀

*saya bingung sekali mesti memberi judul apa di postingan kali ini :p

16 thoughts on “Suka Tidak Suka, Akal Kita Ada Batasnya

  1. ada baiknya innerdialogue itu, tapi harus ada sandarannya biar kita ngak seperti orang-orang terdahulu, yang tak bisa andalkan akal digunakan materi, tak cukup materi diada2kanpun akal itu sesuai nafsu..
    postingan neng ada relevansinya dengan postingan saya, terimakasih sebelumnya, salam 🙂

  2. dihalaman depan, ada beberapa yang dengan filosofi kehidupan, karena beberapa tulisan tersebut esensinya saling berhubungan..guideline, etc 🙂

  3. keyakinan,keimanan,dan hati adalah jawaban dari setiap pencarian dan pelengkap dari porsi akal pikiran kita….
    dari kecil sampai sekarang dewasa saya tidak pernah melihat yang namanya nyawa….
    tapi mengapa kita merasa sayang dan berhati-hati…
    padahal kita sendiri tidak tau apa dan bagaimana nyawa itu…..
    mungkin itu bisa dijadikan perbandingan atas pencarian anda….
    nyawa itu gaib…. dan dengan yang gaib itu semua indra yang ada di diri kita bisa di kendalikannya….. termasuk akal kita….. dan bisa merasakan setiap rasa dari rasa…..
    motorik dan sensorik kita bisa berotasi pada fitrahnya…..

    sukses selalu….
    salam ukhuwah….!!!!!!!!

  4. otak itu mangkok, akal dalam otak.
    sedangkan semesta itu samudra luas, ilmu ada dalam samudra.
    jadi yang bisa diambil cuma semangkok, tak lebih tapi bisa jadi kurang…………………….

  5. Assalaamu’alaikum wa rahmatullah. Wah kakaknya Mayka keren 😀
    Sungguh ya, alam semesta itu luas, namun terbatas sekali dengan segala keterbatasan yang diciptakan oleh Yang Maha Pencipta ketidakterbatasan dari ketidakadaan.

**Silakan Berkomentar~! ^.^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s