salad days

Mau dioperasi Apa Enggak?

Kebayang nggak seorang dokter ngebilang kalimat seperti itu?

Jadi gini… Hmm, beberapa hari setelah saya sampai di rumah, saya langsung makan dengan kalap, bahkan ibu saya kaget sekali melihat porsi makan saya sama dengan porsi makan ayah saya. Sekitar minggu kedua saya di rumah, mulai timbul bengkak yang tidak biasa di mata kanan saya. Karena saya mengiranya hanya bintilan biasa, timbilan, atau istilah apalah yang lain, saya tidak ambil pusing – bengkak itu saya biarkan saja, toh juga kecil.

Yang membuat saya agak khawatir adalah setelah tiga hari, empat, lima, enam, bengkak itu tidak juga hilang – bahkan bertambah besar! Akhirnya saya pergi ke rumah sakit : dokter umum. Dokter Ida adalah teman ibu, juga ibu dari temannya Dayah, adik bungsu saya. Dokter Ida mengatakan bahwa itu adalah bintilan biasa karena saya terlalu banyak makan telur katanya. Sebelum memberi resep, beliau melarang saya untuk memakan telur, daging, atau mie agar bintilan itu cepat hilang.

Seminggu kemudian…

Setelah semua obat habis, salep mata sudah rutin saya pakai, juga menghindari makan telur, ternyata bengkaknya tidak berkurang. Ibu menyuruh saya menghadap dokter Ida lagi. Setelah menunda selama tiga hari karena dokter Ida cuti, hari kamis dokter Ida hanya memberikan sepucuk kertas rujukan untuk ke dokter mata keesokan harinya.

Karena jadwal praktek dokter mata adalah jam setengah tiga sore, saya sudah berada di depan ruang praktek sejak pukul 14.15, dan menjadi pasien nomor urut satu. Sial, dokter itu baru datang pukul 15.10 dan menyambut saya dengan napas yang masih terengah-engah.

D = dokter, S = saya, P = perawat

D : mm menurut catatan ini, terakhir kali ganti kacamata tahun 2008 ya?

S : iya, tapi saya bukan mau ganti kacamata (well, bohong sih, saya pengen banget ganti kacamata, tapi bukan menjadi prioritas sekarang)

D : terus ada keluhan apa?

S : ini, mata saya bengkak, udah tiga mingguan gak sembuh-sembuh

D : oh, silakan ke situ, biar saya lihat (menunjuk ke bagian peralatan periksa)

…..

D : oh, itu karena infeksi, mau dioperasi?

S : hah? (kaget dan melongo dengan bodohnya karena mengira salah dengar)

D : iya itu harus dikeluarkan, mungkin dalamnya sudah bernanah

S : (semakin ngeri dengan apa yang dibicarakan) eh, eee gak bisa dikasih obat aja?

D : cuma operasi kecil kok. Kalau mau, biar langsung dipersiapkan alat-alatnya. Bisa dek ya disiapkan.. (berbicara kepada perawat)

P : iya bisa Dok. Di ruang OK ya? (OK = operasi kecil)

D : lho, gak bisa di sini aja?

P : di ruang OK saja Dok…

S (dalam hati) : heeeyy, saya belum mengiyakan >.<

D : (dengan intonasi yang kentara sekali tidak sabaran) gimana, mau dioperasi apa enggak?

S : (merasa tidak punya pilihan lain) eeh iya deh..

D : yasudah, silakan menebus obat dulu, selesai konsultasi baru kita mulai operasi.

S : lho, nggak sekarang Dok? Kan saya nomor urut pertama.

D : oh, nggak bisa. Tindakan itu terakhir setelah konsultasi selesai.

Percaya atau tidak, saya hanya berada di dalam ruang dokter selama empat menit. Dalam hati, siapa suruh datang telat, jadinya terburu-buru gitu kan meriksa pasiennya?!

******

Setelah menebus obat, saya dengan sabar dan juga deg-deg-an menunggu di depan ruang operasi. Saya juga memanggil ibu saya karena sepertinya tidak akan bisa mengemudi sendirian untuk pulang.

Selama masa penantian yang panjang itu, saya benar-benar kalut. Saya tidak bisa memperkirakan seperti apa sakitnya nanti. Saya tidak pernah diopname. Pernah kecelakaan (jatuh dari sepeda motor) tapi keburu tidak sadarkan diri sebelum sempat merasakan sakitnya. Berulang kali saya menenangkan diri saya sendiri, “Ah cuma operasi kecil kok, paling juga kayak cabut gigi, enggak sakit!” >.<

******

Beberapa saat sebelum operasi ibu saya datang. Pukul setengah lima, perawat menyuruh saya masuk ke ruang operasi. Dokter datang.

D : jilbabnya dilepas, terus berbaring di situ.

……

D : namanya siapa ini?

S : septia..

D : (tiba-tiba menyanyikan Sephia – So7, mungkin untuk mencairkan suasana) Septia, ini nanti bakal sakit sedikit, jadi tahan ya…

Sesaat sebelum wajah saya ditutup dengan kain yang hanya menyisakan lubang sebesar bola pingpong di mata kanan saya, saya melihat nametag dokter tersebut, Halimatussa’diah. Spontan saya berkata, “Nama belakang saya juga Kholimatussa’diah…”

D : oya? Sama ternyata.. nah, tutup matanya. Saya bersihkan dulu ya…

Kemudian saya mencium bau iodine…

D : tahan ya, ini sakit sedikit…

Setelahnya yang saya ingat hanya sakit yang luar biasa, perasaan seperti digunting, disayat, dan dijepit – rintihan-rintihan, ibu saya yang memegangi telapak kaki saya yang tegang dan kedinginan, juga suara sang dokter “tahan… tahan… tarik napas…”

******

D : nah, sudah selesai kok. Ini saya tutup pake kasa, nanti perbannya baru boleh dibuka sekitar jam sembilan malam. Terus langsung ditetesi sama obat tetes tadi. Pulang ini obatnya juga langsung diminum. Makan dulu, terus langsung minum obat.

Saya bangun, melihat sekeliling, dan ternyata tadi saya menangis.

S : eeh dokter, nggak dijahit kan?

D : enggak kok, memangnya ada terasa dijahit?

S : enggak sih, memastikan aja, hehe…

D : nanti kalau udah dibuka perbannya, bakal keluar darah, gausah takut. Darahnya bakal berhenti sendiri kalau lukanya udah nutup.

S : iya, makasih Dok…

******

Sesampainya di rumah, saya langsung bercermin. Wah, saya seperti Kakashi! Bedanya yang ditutup mata kanannya, hehehe… *Kakashi Hatake adalah tokoh idola saya yang super duper keren dari komik Naruto😀

Selama tiga jam berikutnya, mata saya masih terasa sakit, berdenyut-denyut. Tapi setelahnya, sudah tidak apa-apa. Ah, demi kesembuhan!

******

Pengalaman kali ini membuktikan sekali lagi bahwa saya orang yang terlalu mencemaskan sesuatu. Pertama kali mendengar mau dioperasi, saya kalut luar biasa. Selama dioperasi, saya menangis merintih-rintih. Tapi setelahnya, saya merasa kalau pengalaman itu seru juga!😀

*Masih agak rabun sehari setelah operasi, 18 Februari 2012 – pukul 13.20 WIB

Seru seru seru😀

8 thoughts on “Mau dioperasi Apa Enggak?

  1. selamat siang…
    aku juga punya pengalaman soal bintitan.. tapi ini terjadi sama anakku yang umurnya waktu itu 3 tahun…. bintitannya besar di sebelah kanan bawah ada 2 dan sebelah kiti matanya dikelopak atas 1 dikelopak bwh 2.. syok banget saat pertama kedr mata harus operasi,,, sempet pasrah sih karena kasian dengan anakku akhirnya ada teman yang menyarankan ke dr spesialis mata yang berada di jalan buluh indah denpasar. dr nya ramah dan baik hati.. kekawatiranku menjadi hilang karena kata dr bintitan itu ga usah dioperasi karena nanti bisa tumbuh lagi.. kasian kl anak dioperasi trs …singkat kata anakku diperiksa dan untuk sementara ga bole makan telur susu (makanan berprotein), kompres mata dengan air hangat dan minum obat serta diberikan salep mata…. alhasil sebulan berikutnya aanakku sembuh dr bintitannya tanpa jalan operasi…. ak senang sekali, untuk kedepannya ak sll menjaga pola makan dan menjaga kebersihan mata anakku… sekian dan terima kasih

**Silakan Berkomentar~! ^.^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s