salad days

Pulang ke Tanah Rencong -.-

Kenapa judulnya pake emot seperti itu? Tak lain dan tak bukan karena mencerminkan cerita di dalamnya. Hmm… Perjalanan pulang kali ini terhitung lancar-lancar saja sampai saya tiba di Medan.

Senin, 23 Januari 2012

Saya sudah terbangun sejak shubuh. Mandi, memasak, sarapan, beres-beres kamar, ngecek ulang barang bawaan, nguras bak mandi, mencopot sprei dan menyimpan selimut, cuci piring, lalu siap-siap berangkat. Tak lupa pamit ke ibu kos.

09.10 – Desy menjemput di kosan lalu tancap gas ke Terminal Bus Bungurasih.

09.50 – sampai di terminal, pamitan ama Desy, terus langsung naik Bus Damri khusus Bandara Juanda.

10.03 – bus berangkat, di dalam bus hanya ada tujuh orang termasuk sopir dan saya, satu penumpang turun di halte sidoarjo, bus berhenti sebentar karena pak sopir narikin bayaran ke penumpang.

10.40 – sampai di Juanda, karena jadwal check-in udah dibuka, langsung check-in.

11.00 – selesai check-in, duduk manis di ruang tunggu, kenalan sama bapak-bapak yang mau pergi ke Kupang, seneng banget karena kita ngobrol soal Stephen Hawking dan nyambung! 😀

11.30 – bapak itu boarding, saya sendirian, akhirnya tolah-toleh aja enggak jelas 😀

11.40 – panggilan boarding

11.50 – duduk manis di pesawat, siap terbang (hati-hati di awan yaa Pak Pilot) – hanya membaca, tidur, dan melihat-lihat jendela luar saja selama perjalanan.

14.10 – sampai di Bandara Hang Nadim Batam, sebagian besar penumpang turun, sisanya  yang tujuan Medan tetap berada di pesawat. Saya mengambil persediaan roti, cemilan, dan minuman kacang hijau di tas, lalu makan siang seadanya 😀

14.50 – melanjutkan perjalanan ke Medan dengan ngemil dan baca buku.

16.10 – sampai di Bandara Polonia Medan, langsung nggaet taksi buat ke Terminal Pondok Indah.

Ketidakberuntungan saya sepertinya dimulai dari sopir taksi yang tidak tahu balas budi ini…

Karena saya tidak hafal benar dengan kota Medan, saya menurut saja ketika diantarkan ke terminal, karena PERCAYA dengan pak sopir kalau saya akan diantarkan ke tujuan yang saya minta : terminal pondok indah. Tak taunya, begitu sampai dan membayar tujuh puluh lima ribu rupiah, saya tertegun sebentar, setelahnya naik darah. Saya diantar ke terminal entah apa namanya yang isinya cuma bus Pelangi bobrok doank!

16.30 – Saya pergi ke loket terminal untuk pesan tiket. Mbak-mbak di situ mengarahkan saya untuk memesan tiket di salah seorang bapak-bapak yang datang kemudian. Saya setuju mendapat nomor bangku 32, paling belakang. Transaksi selesai. Saya langsung naik ke dalam bis.

Setelah duduk, ternyata saya diusir oleh bapak-bapak lain (yang saya ketahui belakangan adalah kernet) karena itu bukan bangku saya. Saya disuruh duduk di bagian belakang bus, area merokok (ya! Saya wanita dan ditempatkan di area merokok, saudara-saudara!), tepat di sebelah toilet yang saya yakin 100% jauh lebih bau dari karet mentah. Oke, ternyata tadi saya membeli kepada calo, dan tujuh puluh lima ribu rupiah lagi ludes untuk sesuatu hal yang menjadi objek makian saya beberapa jam setelahnya. Uang di dompet tinggal lima puluh lima ribu rupiah, tidak akan cukup untuk pergi ke terminal Pondok Indah apalagi naik bis ke Lhokseumawe. Menyadari saya tidak bisa apa-apa lagi, saya menyerah.

17.05 – bus berangkat. Penumpang di sebelah saya ternyata adalah seorang pemuda yang tidak bisa diam saja jika ada wanita di dekatnya. Sial…

20.30 – bus berhenti untuk makan malam. Melihat kecepatan bus yang seperti ini, sepertinya perjalanan tidak akan cukup memakan waktu enam jam. Bahkan setelah tiga jam lebih, kami belum menginjak separuh perjalanan! Sialnya, lelaki sebelah saya turun di Lhoksukon, hanya berjarak sekitar satu jam dari saya.

20.40 – saya memutuskan untuk keluar. Karena pusing dan mual, saya membeli minuman dan permen jahe di warung.

21.10 – bus berangkat kembali. Dan kekurangajaran itu semakin menjadi.

Lelaki itu mengajak saya mengobrol dengan genitnya, mengabaikan nada bicara saya yang mulai ketus. Sengaja ia duduk dengan mengarahkan tubuhnya ke saya sehingga saya tidak bisa apa-apa selain mendorongnya dengan marah karena merasa tertindih. Ia juga tertidur dengan kepala diarahkan ke bahu saya dan begitu kepalanya jatuh, saya mengarahkannya ke sisi yang berlawanan tanpa sopan – saya tau ia tidak tidur! Ketika ia mengulangi modus tidurnya yang menyebalkan itu, tanpa aba-aba saya mengubah posisi duduk, tidak bersandar lagi, dan saya tetap pada posisi ini setiap kali ia mencoba tidur.

Bahkan ketika saya mengatakan dengan jelas untuk tidak mengganggu saya, ia hanya tertawa. Ia dengan sadar meletakkan tangannya di paha saya bahkan mengulanginya berkali-kali meskipun saya sudah membentaknya dan menepis tangannya dengan kasar! Saya harus menahan desakan tangan saya yang sudah ingin sekali menonjok wajahnya.

Puncaknya, ketika saya mabuk darat dan sedang tidak berdaya karena muntah, dengan santainya ia mengelus-ngelus punggung saya – refleks saya menepis, mencengkeram kerah bajunya, lalu dengan pandangan dendam kesumat membara berkata, “Jangan kurang ajar ya!” dan saya tidak jadi mabuk lagi.

Dengan sekuat tenaga saya menahan rasa pusing dan mual sepanjang sisa perjalanan, dan tidak bisa menahan untuk tidak menangis ketika membalas pesan singkat dari ibu saya. Dan ohh, toilet itu bau sekali setelah beberapa orang keluar-masuk sekarang…

00.50 – lelaki itu turun, lega sekali.

01.55 – sampai di gerbang perumahan, ayah saya menjemput.

02.30 – setelah sampai di rumah, sungkem, cuci muka sikat gigi, saya pergi tidur.

Sial, bukan senang yang saya rasakan, saya justru menangis mengingat kejadian sepuluh jam terakhir. Ditipu sopir taksi, ditipu petugas loket terminal, dikerjai calo, diusir kernet, berusaha tidak tidur, menahan rasa mual, bau asap rokok, dan bau busuk toilet selama perjalanan, dan yang paling parah, diganggu lelaki hidung belang. Sial sial sial…

Kemudian setelah tujuh belas jam perjalanan yang melelahkan, saya jatuh tertidur, sayangnya tanpa nyenyak sedikit pun…

Iklan

21 thoughts on “Pulang ke Tanah Rencong -.-

  1. Astagaa.. kalau saya jadi kamu Sep, tonjok saja. Turun. cari atm, ambil uang. Kalaupun dibutuhkan saya minta dijemput langsung, gag mau tau jauh apa deket.

    Laki- laki seperti itulah yang membuat saya sangat tidak mau menumpang kendaraan umum.

    Jadi emosi.

      1. naik taxi Sep, bayar pas sampe rumah. Atau minta temen apa zumar gitu transfer uang, kalau misal dirumah gag ada orang.

        Pokok e kasih pelajaran dulu sama cowoknya, nanti pindah depan dengan bayar berapa gitu.. atau lebih memilih berdiri saja kalau memungkinkan. Emosi lagi. (hehe, maaf ya)

  2. astaghfirullahal’adziim . . 😦 hmm ..
    . sabaaarr sep ..
    Alhamdulillah lancar smpai rumah ..
    . lain kali hati” sep. . ckckc .. dlyat” dlu ..
    . hmm ..
    . tp kereeenn .. ak baca ini sambil bayangin . kejadian d bus . apalagi saat septia mencengkeram kerah bajunya .. ? bner tak ..? kereeeeen .. >.<

    . eh .. mampir k bandara hang nadhim jg yya . . maaauuuu . .:(

  3. wah keperkasaan septi keluar juga teryata hahaha…… ah kenapa gak direkam sih???

    kalo aku ya sep… tak tarik kerahnya, tak plintir tangannya, tak tonjok mukanya, trus pas bus lgi kenceng2nya aku dorong deh keluar hahahahaha

    1. wah.. iya saya dari lhokseumawe, tapi udah lama banget gak pulang, jadi rada-rada lupa, hehe. kalo nggak salah ada beberapa bus dengan jurusan banda aceh yang lewat lhokseumawe juga; misal bus pelangi atau kurnia. tiketnya (dua tahun lalu) 75ribu. untuk masalah kualitas, saya belum bisa ngasih rekomendasi. mungkin juga ada armada baru yang belum saya tahu. bisa ditanyakan kok ke petugas terminalnya. oh iya, bus-bus yang bagus biasanya ‘mangkal’ di terminal pinang baris. hehe, maaf ya cuma segini yang bisa saya bagi 🙂

**Silakan Berkomentar~! ^.^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s