garden of words

Temannya Rara

Hari itu aku latihan basket di tempat yang tidak biasa. Pelatih membawa tim sekolah kami untuk bertanding melawan tim basket senior kota di gedung olahraga tepat di sebelah pusat perbelanjaan termashyur kota kami. Yah, satu-satunya pusat perbelanjaan modern di kotaku yang terbilang terpencil, sebenarnya.

Pertandingan yang memang direncanakan sebagai latihan menjelang kompetisi basket tahunan tingkat pelajar itu berjalan dengan sangat memuaskan. Perkembangan personal anggota tim sangat pesat, dan itu semua didukung oleh kerja sama yang baik. Kami kompak. Jika tahun lalu kami hanya bisa meraih peringkat ketiga provinsi, maka kali ini kami harus berhasil maju ke tingkat nasional.

Pertandingan usai. Pelatih mengatakan aku melakukan tugasku dengan sangat baik sebagai point guard kali ini, dan beliau berharap begitu pula seterusnya. Tidak seperti biasanya, beliau memujiku hari ini. Aku senang sekali.

Selesai latihan, Intan dan Rara, teman sekelas sekaligus satu timku, mengajak untuk jalan-jalan ke mall sebelah. Refreshing, katanya. Aku tidak biasa jalan-jalan ke mall, dan hari itu aku terbilang cukup canggung. Kami hanya berputar-putar saja. Benar-benar hanya jalan-jalan, lugas sekali.

Ketika Intan dan Rara sedang sibuk melihat deretan baju, mataku menangkap sebuah benda yang indah. Saputangan cokelat. Ada motif garis-garisnya, ada sulamannya juga. Saat berikutnya, aku hanya mengingat telah membawa kantong berisi saputangan itu dengan menyisakan uang secukupnya untuk pulang. Kemudian aku tersadar, Intan dan Rara sudah tidak di sana.

Bergegas aku menuju eskalator, melangkahkan kaki dengan gugup menjejaknya (ah, aku tidak pernah suka menaiki benda ini). Saat itulah aku melihatnya. Seorang remaja laki-laki berpakaian sangat rapi (agak aneh untuk ukuran waktu itu) memandangiku dari arah berlawanan (aku turun, ia naik).

“Kamu temannya Rara kan?!”

Setelah memastikan ia berbicara padaku, aku mengangguk. Berikutnya, ia sudah berjalan menjejeriku.

“Aku juga temannya Rara!”

“Eh? Emm tapi Raranya…”

“Kenalkan!”

Aku mengangguk, membalas jabatan tangannya.

“Kamu kelihatannya tersesat.”

Wajahku merona. “Aku cuma sedang jalan-jalan.”

“Sendirian? Seumuranmu? Ah, gausa bohong, aku tau kok kalo kamu kehilangan teman-temanmu.”

Berisik sekali anak ini.

“Ayo ikut, temani aku belanja sebentar, lalu akan kuantar kau pulang.”

Aku berbalik, berjalan cepat memunggunginya.

“Lihat, aku berasal dari sekolah yang sama denganmu.”

***

Anak ini pasti tidak waras, bisa nyerocos panjang lebar begitu saja kepada seseorang yang baru ditemuinya, hanya karena aku ini teman dari temannya. Tapi aku bahkan lebih gila lagi, menurut begitu saja ke toko mana ia pergi hanya karena lambang di kartu pelajarnya sama denganku.

“Ini, aku mau beli ini. Tolong antrikan sementara aku pergi beli minum.”

Sebuah…kalung? Dan berbandul kelinci juga. Aneh sekali cowok itu.

***

“Itu untuk calon istriku.”

Dan aku sukses tersedak jus jeruk yang dibelikannya.

“Aku enggak tanya.”

“Aku cuma pengen cerita.”

Aku gak minta kamu cerita.

***

Orang-orang melirik tanpa sungkan ke mana pun kami pergi. Yah, pasti mereka menyaksikan pemandangan yang cukup aneh. Seorang anak perempuan bertubuh kecil dengan ransel besar menjinjing jaring berisi bola basket di tangan kiri, dan kantong-kantong belanjaan di tangan satunya. Kontras sekali dengan anak perempuan berseragam basket itu, ada remaja tanggung berpakaian rapi dan bersepatu vantoufel melenggang dengan ringannya, dengan tangan dalam saku celana. Menyebalkan, aku seperti bibi pengasuhnya saja, atau cinderella yang diperlakukan semena-mena oleh saudara tirinya.

“Mas Hino, Mas Hino!”

Seorang wanita bertubuh pendek dan agak gemuk berlari mendekat dan menyambar lengan baju cowok itu.

“Saya cari ke mana-mana. Sudah saatnya pulang, Tuan…”

Aku ternganga. Tuan?!

“Ya, nanti aku menyusul.”

“Tapi…”

“Hei!” aku menyela di sela bisik-bisik mereka yang tak terjangkau telingaku.

“Ini…” aku menyodorkan belanjaan miliknya. “Aku mau pulang, sudah hampir magrib.”

“Ambil saja, itu untukmu.”

Aku menggeleng. Ia mengambil sebuah kantong, lalu menurunkan tanganku.

“Aku ambil yang ini. Yang lain buatmu saja.”

Aku mendongak.

“Tapi itu saputanganku!”

“Karena itu, yang ini untukku.”

“Kembalikan. Aku tidak mau kalung, mencekik kalau tidur. Aku tidak suka brownies, terlalu manis. Aku tidak perlu buku resep masakan itu, aku tidak bisa masak. Jangan seenaknya.”

“Bagaimana kalau dariku?”

Dan ia mengalungkan kelinci mungil itu di leherku.

Berani sekali dia!

Air mataku hampir menitik. Aku marah, entah apa alasannya, aku merasa dipermainkan. Sial, aku bahkan tidak tau namanya, siapa dia sampai mampu membuatku hampir menangis?!

“Apa-apaan…”

“Tunggulah, suatu saat kau akan menyukainya. Sepuluh tahun dari sekarang, aku akan datang lagi, dan yang akan menjadi petunjukku saat itu adalah tanda lahir di pergelangan tangan kananmu, dan kelinci ini.”

Aku berbalik, berlari.

“Kamu tidak ingin tau namaku?” teriaknya.

“Aku temannya Rara! Aku…”

Dasar gila. Aku tidak perlu mendengar apa-apa lagi darinya, batinku sambil memberikan kalung itu dan semua barang-barangnya kepada pengamen yang kebetulan lewat.

***

Selama lima tahun aku tidak ingin memikirkan kejadian itu, terlebih mengungkit-ngungkitnya. Bertanya pada Rara pun tidak. Sekarang, ketika kenangan itu tiba-tiba menyeruak keluar, aku mulai menyesalinya. Berpikir seandainya lariku tidak secepat waktu itu, mungkin aku masih bisa mendengar sepatah-dua patah namanya. Berpikir seandainya aku tidak sedingin waktu itu, seandainya dia tidak muncul dengan cara yang begitu aneh, seandainya aku mengenalnya, seandainya. Ah…tidak ada gunanya berandai-andai itu.

Sekarang tahun keenam, dan aku mulai penasaran. Aku masih tidak suka brownies. Aku masih tidak memakai kalung, tapi aku sudah mulai bisa memasak. Aku juga sudah memiliki seorang kekasih, dan aku sangat bahagia dengannya. Lantas, dengan cara apa ia akan datang nanti? Dan, untuk apa? Sekarang tahun keenam, bulan ketiga, dan aku mulai penasaran. Tinggal empat tahun lagi, ya Hino? Atau Dino? Rino? Limo? Ah, entahlah. Pokoknya, temannya Rara…

18 thoughts on “Temannya Rara

**Silakan Berkomentar~! ^.^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s