garden of words · salad days · uncategorized

Gerhana

Tidak ada yang berbeda dari biasanya. Setelah mengenakan seragam merah-putih dan sarapan nasi goreng telur dadar, aku melangkah keluar. Pagi itu mendung. Angin berhembus kencang. Seperti biasanya, setelah keluar dari halaman rumah, aku mulai menghitung langkah kakiku ke sekolah. Satu. Dua. Tiga. Empat. Lima. Enam…

Pada langkahku yang ke-78, aku terhenti, menahan agar rokku tidak tersibak angin yang tiba-tiba berhembus. Kencang sekali. Masih dalam diam, aku menengadah. Langit gelap sekali. Sepertinya akan turun hujan yang sangat lebat. Lihat, bahkan matahari saja belum kelihatan. Padahal sekarang sudah jam… Ah, aku kan tidak punya jam tangan.

Pada langkah ke-129, aku sampai di gerbang. Sebelum masuk ke gedung, seperti biasa aku akan menoleh ke arah timur, memandang matahari. Tapi ada yang berbeda hari ini. Tidak ada matahari. Yang ada hanyalah bola jingga kemerahan yang dikelilingi awan kelabu pekat. Lagipula, bola itu tidak sepenuhnya bundar. Ada bayangan hitam yang seolah memakannya. Aku terkesiap. Ayah, aku melihat gerhana!

Aku mengerjap. Sekali. Dua kali. Tapi, mataku tidak apa-apa. Padahal ayah pernah bilang, manusia tidak boleh melihat matahari secara langsung, karena bisa merusak mata atau bahkan buta, ketika sedang gerhana pun tidak boleh.  Dengan ringan, aku duduk bersila di depan gerbang, lantas mengagumi peristiwa alam yang langka itu. Sekali-sekali terlambat piket pagi tak apalah. Toh, gerhana matahari juga cuma lima menitan.

Dan akhirnya dunia sepenuhnya gelap. Gerhana matahari total. Ah, padahal aku ingin melihat gerhana matahari cincin. Tapi tak apalah, lain kali juga bisa.

Seseorang menepuk bahuku. Menarikku kembali ke permukaan setelah lama terhanyut dalam ketakjuban pesona gerhana.

“Nanti baju cantikmu bakal kotor kalau duduk di sini.”

Pak Kepala Sekolah.

Aku menoleh ke timur lagi. Gerhanaku sudah pergi. Sambil tersenyum malu-malu, aku bangkit berdiri.

“Habis melihat apa?” beliau bertanya.

“Gerhana.” Jawabku bersemangat.

“Oh ya? Bagus ya?!”

Aku tersenyum, mengangguk.

“Ini, Bapak ingin memberikan ini. Hadiah lomba berhitung Jum’at kemarin. Bapak lupa memberikannya saat upacara.”

Sebuah pena. Biru tua keemasan. Mewah sekali.

“Ada ukiran namanya juga, lihat. Bagus kan?!”

Aku memutar-mutarnya. “Iya Pak. Terima kasih!”

“Digunakan baik-baik ya…”

“Iya Pak!”

******

Saat itu Selasa pagi di musim penghujan, dua belas tahun silam. Tahun 1999 baru saja dimulai. Pak Kepala Sekolah sudah meninggal enam tahun yang lalu saat aku duduk di tingkat pertama sekolah menengah. Tintanya sudah habis, tapi pena itu masih ada. Namun, tidak ada catatan mengenai gerhana matahari total yang terjadi pada awal tahun 1999 di Indonesia.

……

22 thoughts on “Gerhana

  1. Saya gak pernah kepikiran untuk menghitung langkah sembari berjalan.
    Memang melihat matahari secara langsung memang tidak bagus untuk mata, harus ada pelindung atau mediator untuk melihatnya.

    1. karena sekolahnya dekat, jadi dia suka menghitung langkahnya. tuh jarak rumah-sekolahnya cuma 129 langkah 😀
      hehe iya. jangankan itu, melihat sambil memicingkan mata saja bakal terasa sakit kan 🙂

  2. Hmmmm Gerhana ya… itu nama serial film di RCTI jaman dulu, yang main orang blasteran lupa namanya ama Peggy Melati Sukma, juga Ruhut Sutompul sbg Poltak. 😀

**Silakan Berkomentar~! ^.^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s