salad days

Pemimpin dan Kepemimpinan

Setelah menerima dan melaksanakan salah satu tanggung jawab saya sebagai Ketua Panitia Leadership Motivation Training (LMT) 2011, saya menyadari sekaligus belajar akan banyak hal. Acara yang merupakan program kerja Non Departemen PSDM (pengembangan sumber daya mahasiswa – red) HIMAFI 2011 ini memberi saya pelajaran tentang pemimpin dan kepemimpinan itu sendiri.

“If I have seen farther than others, it is because I was standing on the shoulders of giants.” – Isaac Newton

Ini kali pertama saya menyadari apa makna di balik kalimat bijak terkenal yang dicetuskan oleh ilmuwan Fisika klasik terbesar di dunia itu. Entah apa yang dimaksudkan oleh Newton sama atau tidak dengan yang saya tafsirkan, saya hanya yakin seperti itulah yang beliau maksud. Jika aku mampu melihat lebih jauh daripada yang lain, itu karena aku berdiri di bahu raksasa, katanya.

Selama ini, aku (memang) sering mendapat tanggung jawab sebagai ketua divisi, koordinator sie, atau yang lainnya, tapi tidak pernah menjabat ketua panitia – ini pertama kalinya. Ya, di bangku yang lebih tinggi, aku dapat melihat lebih jelas. Di posisi ketua, aku mampu melihat dengan jelas setiap kekurangan yang dilakukan oleh staff-staffku. Aku bisa merasakan detail-detail kecil yang terlupakan. Aku bisa membaca dengan jelas apa yang diteriakkan oleh staff-ku dalam hatinya. Aku tau mereka sedang menikmati apa yang mereka kerjakan atau tidak, mereka sedang bingung atau tergupuh-gupuh, atau pun ketika mereka telah lelah bekerja. Seakan aku mengenakan kaca mata baru yang membuat semuanya terlihat jelas!

Di posisi yang lebih tinggi, aku mampu melihat lebih luas. Aku mampu dan memang diharuskan bervisi dan memiliki misi yang jelas dan strategis. Aku mampu dan memang diharuskan mengerti setiap detail permasalahan yang ada terkait acara ini, mulai dari konsep kaderisasi yang digunakan sampai teknis acara dan peminjaman perlengkapan. Aku diharuskan memiliki kemampuan eksekusi di tempat saat terdesak – terbukti saat pengisi acara memberitakan bahwa ia akan terlambat selama satu jam dan harus membuat keputusan bagaimana selanjutnya! Aku juga diharuskan mampu berkorban demi yang lainnya – yah, namanya juga pemimpin…

Dan kemudian aku berpikir lagi, semua itu bukanlah sekedar keharusan, melainkan kebutuhan mutlak seorang pemimpin…

Di setiap training atau pun seminar tentang kepemimpinan yang pernah saya ikuti, pertanyaan mendasar yang selalu muncul adalah : apa perbedaan antara pemimpin dan pimpinan? Saking seringnya saya mendengar  pertanyaan ini, saya sampai hafal jawabannya : pimpinan merupakan jabatan struktural semata sedangkan pemimpin merupakan kualitas diri seseorang untuk dapat memimpin. Pimpinan belum tentu memiliki kualitas sebagai pemimpin, sedangkan pemimpin, meskipun ia tidak mempunyai jabatan resmi, ia dikatakan telah berkompeten sebagai pemimpin.

Saya tidak akan berpanjang lebar menjelaskan apa saja ciri-ciri seorang pemimpin yang baik, karena pastilah jawaban lazimnya akan keluar : jujur, bertanggung jawab, berkomitmen, konsisten, adil, dan lain-lain. Tapi satu kualitas yang akan dan sangat saya soroti di antara semuanya adalah : rela berkorban.

Ya, pemimpin harus rela berkorban. Baik itu pengorbanan yang kasat mata maupun yang tak kasat mata. Pengorbanan pertama yang harus dipenuhi ketika seseorang memutuskan untuk menjadi seorang pemimpin adalah pengorbanan ruang privasi. Seorang pemimpin, mau tidak mau akan menjadi public figure di komunitasnya, tak ubah layaknya seorang artis ibukota. Setiap manusia memiliki dua ruang dalam hidupnya, ruang publik versus ruang privasi. Ketika seseorang menjadi pemimpin, ia secara sadar telah merelakan ruang privasinya menjadi semakin sempit. Ya, pemimpin akan menjadi tontonan serta teladan di komunitasnya. Tindak-tanduknya akan dilihat oleh khalayak ramai, dijadikan teladan oleh subjek yang bersangkutan, dan apabila ada sedikit saja cela, akan dijadikan bahan tontonan bahkan hinaan.

Tentu kita sendiri pernah mengalami (baik itu sekedar mendengar, melihat, atau bahkan ikut) yang namanya cela pemimpin, ya tidak? Ketika seorang guru meminta kenaikan gaji, itu bukan apa-apa, namun ketika presiden negara kepulauan terbesar di dunia ini meminta kenaikan gaji, bagaimana respon masyarakat? Ketika seorang mahasiswa biasa lupa siapa nama rektornya, dianggap wajar, namun ketika seorang ketua BEM fakultas lupa sesaat siapa nama rektornya, wah bakal jadi pembicaraan seminggu ke depan.

Seorang pemimpin, mengorbankan ruang privasinya tidak hanya yang dijadikan tontonan khalayak, tapi juga waktu, tenaga, dan uang. Pengorbanan lain seorang pemimpin adalah mengorbankan waktunya kepada orang-orang terdekat untuk dialihkan kepada siapa-siapa yang dipimpinnya. Seorang pemimpin harus siap kapan saja memenuhi panggilan rakyatnya, entah itu dipanggil buat dimintai tanda tangannya, dipanggil buat dimintai nasehatnya, dipanggil buat memutuskan sesuatu, segalam macam hal bisa saja terjadi dan handphone mati sebentar saja jadi masalah banget.

Karena ruang privasi itu merupakan hal yang sangat penting dan sakral bagi semua orang, maka seorang pemimpin diharuskan dan butuh berhati-hati terhadap ruang privasinya yang sempit itu – harus dijaga baik-baik. Seorang pemimpin harus dan wajib memberi sekat yang tegas antara ruang publik dan ruang privasinya : dilarang keras sesumbar di jejaring sosial – entah itu update status gak penting di facebook yang malah bisa menjatuhkan martabatnya, berbicara hal yang tidak seharusnya di depan umum, dan lain sebagainya. Ketika seseorang update status kalau ia sedang patah hati, sama saja bukan dengan ia berteriak di tengah bundaran HI atau di keramaian pengunjung Dunia Fantasi Ancol kalau ia baru diputuskan oleh pacarnya?! Mengenaskan… Itulah mengapa kita harus berhati-hati terhadap segala hal yang mau kita share di jejaring sosial.

Kebebasan pemimpin benar-benar terbatasi! Itu pengorbanan selanjutnya.

Pemimpin memang diharuskan untuk membangun citra diri yang baik kepada komunitas yang dipimpinnya, namun, jangan sampai memakai kedok untuk menutupi hal-hal buruk. Maksudnya adalah, pemimpin perlu memperbaiki kualitas diri untuk terus lebih baik agar memunculkan kesan yang baik dari yang dipimpin sekaligus menjadi profil teladan. Yang diperlukan adalah perbaikan diri alias perubahan, bukan pengalihan jati diri alias berpura-pura.

Di bangku yang lebih tinggi, memang seseorang dapat melihat lebih jelas, tapi ia juga menjadi seseorang yang dilihat lebih jelas dari yang lainnya. Ia mampu melihat detail-detail kecil yang kurang dari staffnya, tapi staffnya juga mampu melihat setiap detail kecil dari pemimpinnya. Itulah bagian terberat menjadi seorang pemimpin menurutku : pengorbanan. Dan karena setiap dari kita sebenarnya adalah pemimpin, minimal bagi diri kita sendiri, maka sudah seharusnya kita memperhatikan dan menjaga baik-baik kualitas diri yang kita miliki.

Iklan

**Silakan Berkomentar~! ^.^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s