science world · this is college

Manajemen Konflik dan Ikan Bandeng

“Lihatlah sesuatu secara keseluruhan, jangan hanya berpatokan pada beberapa segmen saja lalu langsung mengambil kesimpulan.”

Postingan ini bersumber dari materi yang saya dapat dari acara Leadership Motivation Training (LMT) 2011 yang diberikan oleh Mas Haris Sunhaji sebagai pemateri ‘Manajemen Konflik’.

Untuk memanage dan mengatasi suatu permasalahan, diperlukan beberapa poin penting dan mendasar untuk menganalisis terlebih dahulu keadaan sekitar baru kemudian mengambil langkah ke depannya. Poin penting itu terbagi menjadi empat dan bisa disingkat menjadi SWOT, yaitu :

  1. Strength (kekuatan)
  2. Weakness (kelemahan)
  3. Opportunity (peluang)
  4. Threat (ancaman)

Beliau memberi contoh melalui kisah seorang anak dan ikan bandeng. Seorang anak merasa tidak suka dan selalu malas ketika ibunya memasak ikan bandeng untuknya karena ia merasa ikan bandeng penuh dengan duri. Suatu ketika, saat ibu dan anak tersebut makan bersama dan menunya adalah ikan bandeng, si anak mengeluh. Sang ibu pun mengerti lalu dengan penuh kesabaran mengambil piring anaknya dan menyuiri daging ikan tersebut, memilah-milah dan memisahkan mana daging, dan mana duri. Setelah selesai, sang ibu berbicara kepada anaknya,

“Lihat, betapa pun kita berpikir bandeng ini penuh dengan duri, kalau ditimbang, tetap saja dagingnya yang lebih berat dan banyak kan?! Begitu pula dengan kehidupan ini, lihatlah sesuatu secara keseluruhan, jangan hanya berpatokan pada beberapa segmen saja lalu langsung mengambil kesimpulan; di balik banyaknya hal buruk yang kita pikir bertebaran di muka bumi, masih banyak hal-hal baik. Dalam melihat seseorang juga begitu, ketika kamu melihat keburukannya, ingatlah lagi kebaikan-kebaikannya yang lebih besar.”

Dalam menghadapi suatu permasalahan, tahapan untuk menyelesaikannya membutuhkan empat poin di atas. Pertama, lihatlah kelebihan apa yang kamu punya untuk kamu daya gunakan. Kedua, instrospeksi apa kekuranganmu dan siasati bagaimana kamu mengolah kekurangan itu menjadi suatu peluang ataupun kelebihan yang semakin membantumu menyelesaikan masalah. Ketiga, manfaatkan setiap peluang yang ada, sekecil apa pun, semaksimal mungkin. Keempat, perhatikan segala ancaman yang datang dari berbagai arah, dan minimalisirlah hambatan yang mungkin ditimbulkan oleh ancaman tersebut.

Contohnya beliau langsung mengambil poin tentang legalitas PEMABA (penerimaan mahasiswa baru – red) kampus kami yang terbilang ruwet, rumit, dan susah sekali goal (yeah, jadi teringat masa-masa jadi panitia ospek dulu -.-). Kelebihan apa yang kamu punya? Konsep pengkaderan yang matang, dukungan dari panitia dan senior angkatan, kesiapan panitia dalam menyambut mahasiswa baru, serta antusiasme warga kampus dalam menyambut maba (mahasiswa baru – red). Kelemahannya? Birokrasi kampus yang rumit, kurang sependapatnya dosen pembina terhadap kegiatan, dan kurang solidnya panitia. Peluang? Adanya forum audiensi dan rapat bersama dekanat untuk menentukan kebijakan seperti apa yang harus dibuat. Juga mencari dukungan dari dosen-dosen serta alumni untuk meminta pendapat mereka sebagai referensi. Ancaman? Keretakan antar-panitia dan kalau para maba memboikot!

Nah, setelah kita memetakan elemen-elemen yang ada dalam suatu permasalahan atau konflik, tentu akan lebih mudah untuk menganalisisnya dan menentukan langkah apa yang harus diambil selanjutnya.

Manajemen konflik sebenarnya tidak hanya melulu berbicara tentang cara menyelesaikan masalah, tapi juga bagaimana kita menciptakan masalah untuk mencapai tujuan. Awalnya saya juga dibuat agak bingung dengan frasa ini, tapi kemudian akhirnya saya mengerti – setelah mengernyit beberapa menit, ternyata dalam banyak kasus, jika kita mau meluangkan sedikit saja waktu (sebenarnya sih sedikit aja gak cukup buat sadar) untuk berpikir dan menganalisa kondisi sekitar, kita akan menyadari kalau sebenarnya di sekitar kita ada pencipta konflik yang memiliki seribu maksud di baliknya. Oke, pencipta konflik di sini jangan langsung dikaitkan dengan trouble-maker atau pengacau, tapi lebih kepada mereka yang otaknya seperti papan catur, penuh taktik, dan sukanya main di belakang buat nyiptain konflik demi tujuan mereka. Kalau tujuannya baik, ya syukur. Kalau nggak? Nah, tipe-tipe manusia seperti inilah yang mesti diwaspadai. Punya kenalan kayak gitu? Hehehe…

Oke, langsung ke contoh konkret. Saya kaitkan lagi ke PEMABA. Komdis (komisi disiplin – red), evaluator, atau apalah nama aliasnya yang lain biasanya bertindak sebagai pencipta konflik ini. Saya langsung mengingat-ngingat bagaimana mereka menciptakan konflik di angkatan saya yang ternyata tujuannya adalah untuk merekatkan kami. Contoh lain, sengaja menciptakan konflik yang tujuan awalnya adalah untuk memunculkan citra baik terhadap seseorang. Nah, letak bahayanya penciptaan konflik itu di sini, ketika (sebut saja saya) menciptakan konflik yang bertujuan untuk image building terhadap seseorang, sahabat saya misalnya, ketika konflik itu menjadi berlarut-larut dan di luar kendali si pencipta konflik, yang terjadi justru malah bisa menjadi sebaliknya. Dan hal inilah yang terkadang (atau bahkan sering?) terjadi di sekeliling kita.

Sekali lagi, jika kita mau meluangkan waktu untuk menjadi observer yang baik, kita akan dapat menemukan fakta-fakta mencengangkan dan di luar dugaan. Dan pernyataan ini saya tulis berdasarkan pengalaman pribadi saya sendiri. Saya yang notabene berasal dari daerah yang jauh dan sebut saja pada awalnya saya adalah katak dalam tempurung – selalu saja tersuguhi fakta-fakta yang membuat saya heran. Yah, sejak dulu saya suka menjadi observer, dan setelah berkenalan dengan seseorang yang juga memiliki kompetensi yang baik di bidang observasi, saya merasa kemampuan observasi saya semakin baik – haha, tapi tetap aja masih amatir :p

Dengan mengamati sifat dan perilaku seseorang, kita dapat mengenali karakternya. Memancingnya berbicara tentang hal-hal tertentu, kita dapat menguak visi dan misinya. Lebih jauh, kita bisa tau tindak-tanduknya. Dengan mengamati tindak-tanduknya, status fesbuknya, celotehan-ceplosan, dan hal-hal remeh lainnya kita bisa tau apa yang sedang dikerjakannya. Itulah enaknya menjadi observer. Sedikit intermezzo. Hehehe…

Kita sampai pada akhir pembahasan yang masih ngalor-ngidul ini (maklum, penulis masih amatir). Manajemen konflik sebenarnya tidak hanya membahas tentang bagaimana langkah yang baik untuk mengatasi suatu permasalahan dan mengambil keputusan yang bijak, tapi juga bagaimana kita mampu menciptakan suatu konflik dan mengatur alurnya untuk mencapai apa yang kita harapkan. Untuk memiliki kemampuan manajemen konflik ini memang tidak mudah – sulit bahkan, tapi semuanya bisa dengan latihan. Sejauh ini, saya hanya mengenal sedikit sekali orang yang memiliki kemampuan ini – saya tidak termasuk tentunya! Oke, sekian dulu. Sekedar tambahan, sedikit cuap-cuap tentang menciptakan konflik ini tidak saya dapatkan di acara LMT tadi, tapi dari hasil observasi penulis. Mengamati sekitar itu asyik lho!😀

**Silakan Berkomentar~! ^.^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s