uncategorized

Tanahku

Di saat seperti ini, detik ini, menit ini, jam ini, aku tidak suka berada di kota ini. Seandainya aku berada di kotaku, kota kelahiranku, aku tinggal memacu kendaraanku dan tidak sampai lima belas menit, aku sudah akan sampai di tempat-tempat yang aku inginkan ada sekarang ini – tanah lapang tempat landasan helikopter, bukit kecil di hutan belakang rumah dekat tandon, tangga bukit pole, pohon beringin di bukit tangga seribu, bukit tarakan dekat tanki besar (heran, betapa banyak bukit di sekitar rumahku), di depan danau, jalanan balikpapan yang sepi, atau aku tinggal ke rumah lamaku di cilacap – dan aku bisa bebas berteriak semauku tanpa sungkan ada yang mendengar atau pun malu, untuk kemudian berjongkok dan menunduk sambil menangis tanpa perlu dipergoki siapa pun. Ya, tempat-tempat yang tidak akan kutemui di kota besar ini. Di Surabaya ini. Aku harus bersabar dengan pergi ke beranda untuk sekedar mengeringkan bekas-bekas tangis di pipiku oleh hembusan angin. Dan ya, aku harus bisa memuaskan diri dengan kamarku, dan guling untuk meredam geramanku alih-alih teriak, juga tangisku agar tidak terdengar tetangga kamar sebelah. Aku rindu tanahku. Aku butuh tanahku. Dan aku ingin tanahku

 

Kamar kost, 15 Juli 2011 – 18.08 WIB

Tinggal hitungan jam, dan aku semakin tertekan…

Iklan

**Silakan Berkomentar~! ^.^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s