salad days

Lari yang Lain

Kalau aku bisa lari, aku akan lari. Perlahan. Kalau aku mampu biasa, aku akan membaur. Tapi – bagaimana mungkin aku mampu menjadi biasa, sedangkan tato ini akan tetap ada sepanjang eksistensiku, tidak, seumur hidupku. Begitu pula namaku yang telah tercatat di prasasti itu. Aku lelah, dan aku sudah. Aku sia-sia, dan semua aku selama ini adalah sampah. Aku tidak suka tapi tak mampu bersuara. Aku tidak setuju tapi tak kunjung maju. Aku menunggu dan mendorong, tapi daya yang kupunya terlalu kecil dan lambat, sehingga kelihatannya aku hanya berjalan di tempat – atau memang aku tidak ke mana-mana selama ini? Aku mulai bertingkah seperti pengecut rendahan – berandai jikalau saja aku dulu begini dan begitu, sudah pasti sekarang aku akan begini dan begitu, tidak akan begitu dan begini. Ah ya, tempurung kepalaku yang terlalu kecil ini saja belum mampu menelusuri dunia empat dimensi-MU, apalagi untuk sekedar berkenalan dengan realita sebelas dimensi itu – sanggupkah? Ah ia yang terlampau kecil juga tak cukup lebar untuk menampung detil-detil luas nan sarat.

Dan yang menjadi awal segala ketidakjelasan ini, kenapa harus aku?

 

Surabaya, 15 Juli 2011 – 21.26 WIB

Semakin aku sumpek semakin aku memikirkan banyak hal. Yeahh…

**Silakan Berkomentar~! ^.^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s