this is college

Pragmatisme Mahasiswa

“Hari ini diadakan kuis gelop (mata kuliah Gelombang dan Optika – red) dan saya menulis naskah postingan ini 45 menit sebelum waktu ujian berakhir. Alasannya, hanya satu : nge-BLANK! Dengan sangat jujur sekaligus malu luar biasa kuakui, kalau aku hanya bisa mengerjakannya tidak sampai separuh dari soal yang ditanyakan. Ya, tidak sampai separuh, saudara-saudara! Alamat dapat E di kuis ini saya.

Hahaha *tertawa miris -______-

Mengingat-ngingat lagi apa yang kulakukan tadi malam, bikin bibirku mesam-mesem sendirian di tengah ruang ujian tapi hatiku super sakit rasanya. Tuh kan aku menyesal sejadi-jadinya karena nggak belajar. Jenuh dan penat yang kurasakan selama liburan seminggu kemarin masih terbawa sampai semalem. Alhasil, aku cuma tidur-tiduran aja mandangin sampul buku, gak biasanya, gak ngenet, gak tidur, gak ngeteh atau apa. Gak produktif banget sih T_T”

Dan sekarang saya kembali menemukan satu hal yang amat sangat menarik di tengah ruang ujian yang senyap (dan hanya diramaikan oleh bisik-bisik khas mahasiswa pada jam-jam ujian) sehingga saya jadikan ia judul postingan kali ini : PRAGMATISME MAHASISWA.

Reader, ada banyak sekali jenis manusia, dan di antara yang akan kita bahas adalah tiga yang termasuk familier di telinga kita, yaitu idealis, realistis, dan pragmatis. Saya tidak akan membahas panjang lebar apa definisi dari ketiga kata itu, maknanya, ciri-cirinya, dan lain-lain. Langsung saja ya ke realitanya.

Orang-orang yang cenderung idealis, akan menempatkan segala sesuatu (atau sebagian besar) hal sesuai seharusnya. Idealis berpikir bagaimana sesuatu semestinya terjadi (terlaksana) sesuai kondisi ideal. Realistis, agak berkebalikan dengan idealis. Realis melihat apa yang sesungguhnya akan terjadi pada kenyataannya, dan mengkondisikan hal-hal sesuai dengan itu. Tidak heran, para idealis sejati (kalau memang ada) mungkin akan menganggap orang-orang realis cenderung pesimis. Kenapa? Karena biasanya jika idealis dan realis berdebat, realis cenderung mematahkan ide-ide segar dan brilian dari realis dengan alasan yang cukup dan sangat logis. Orang-orang realis, sebaliknya, menganggap kaum idealis terkadang berpikir terlalu muluk tentang suatu hal. Ehm, dari mana saya berkesimpulan seperti ini? Tentu saja dengan memandangi keadaan sekitar, hehe. Jadi, reader, sekali lagi saya tekankan, untuk tidak menjustifikasi keadaan umum dari tulisan saya ini saja.

Lalu di mana letak pragmatisme? Kembali ke pragmatisme mahasiswa. Sebenarnya apa yang saya lihat di ruang ujian? Ya, pragmatisme. Saya melihat teman-teman saya ini bisa dikelompokkan menjadi salah dua dari tiga tipe di atas, dan setiap orang cenderung tidak mempertahankan satu tipe dalam waktu yang lama.

Pertama, tipe idealis. Sebagian teman wanita saya benar-benar berpegang teguh pada idealismenya, namun, sekali lagi saya melihat, keteguhan itu tidaklah konstan. Reader ingat film 3 idiots? Ya, itulah contoh real mahasiswa idealis yang amat sangat patut dicontoh. Mahasiswa idealis akan melihat pendidikan formal sebagai (hanya) salah satu jalan untuk memperoleh ilmu pengetahuan dan menerapkannya. Tidak usah peduli pada nilai, agungkanlah ilmu yang didapat, begitu kan? Kalau memang tidak lulus matkul (mata kuliah – red) Termodinamika, terimalah itu karena memang kita belum pantas lulus dan harus mengulang lagi. Kalau memang matkul Fisika Modern dapat C, itu karena kita memantaskan diri mendapat C. Itulah idealis.

Jika kamu merasa ilmu pengetahuan amat sangat penting, namun kamu juga merasa nilai dan IP (indeks prestasi – red) juga sama pentingnya, sehingga dalam situasi-situasi tertentu kamu menempuh cara-cara di luar garis, maka kamu termasuk tipe pragmatis. Kita tidak bisa memungkiri, memang seperti itulah keadaannya. Seperti apa pun kita menjunjung murninya ilmu, tetap saja, dalam dunia pekerjaan setelah lulus (sekolah/kuliah) nantinya, nilai prestasi akademis itu (juga) penting. Orang-orang ini biasanya (dapat dipastikan) memiliki semangat belajar (yang tidak pernah konstan, tentunya) namun juga pernah melakukan kenakalan-kenakalan ala pelajar, seperti copas (copy-paste) tugas, bolos kuliah, tidur di kelas, diskusi waktu ujian, dll yang sungguh beragam macamnya. Ya, inilah yang saya sebut pragmatisme mahasiswa.

Saya pikir (dan saya rasa) tidak ada tipe ketiga (atau mungkin pengetahuan saya saja yang terbatas sehingga belum mampu mencapainya). Kalau pun ada yang menganggap kalau ‘ilmu tidak terlalu penting, yang paling penting adalah ijazah’ maka itu tidak benar adanya. Tidak akan ada yang membenarkan bahwa ilmu kalah penting ketimbang predikat akademis. Karena itu, contoh-contoh seperti itu tidak bisa saya kategorikan sebagai realistis.

Yup, segini aja pemaparan saya kali ini. Yang saya lakukan hanyalah memberikan sedikit pemaparan sebagai bahan pertimbangan, hitung-hitung sebagai memenuhi kebutuhan otak untuk berpikir lah (katanya Einstein). Tidak ada maksud untuk menjustifikasi bahwa ini lebih baik daripada itu maupun sebaliknya. Pilihlah jalan hidupmu, dan berpegang teguhlah padanya. Sekali lagi, ini hanyalah hasil coretan dari suara-suara yang bergema dalam kepala dan juga hati saya yang tidak lepas dari cacat dan koreksi.

**Silakan Berkomentar~! ^.^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s