senandika · this is college

Pengkaderan dalam Botol Racun

Situs jejaring sosial yang (seingatku) mulai popular di tahun 2002-an ini tampaknya mulai memberikan dampak yang sangat serius bagi komunitas kami. Ya, aku berbicara tentang kami, komunitasku, lingkunganku, teman-temanku, dan ya, intinya antara aku dan mereka : kami.

Siapa sih yang tidak mengenal franchise jejaring sosial yang sangat mendunia ini? Layaknya Friendster di jamannya dan juga Twitter, pengguna Facebook berjuta-juta orang banyaknya. Hebatnya lagi, aku belum menemukan anggota komunitasku yang tidak punya akun Facebook.

Oke, cukup kalimat pembukanya, langsung ke pokok permasalahan.

FB, dengan kemampuannya berbagi status masing-masing pengguna, dapat digunakan oleh, dengan, dan untuk bermacam-macam kategori. Bisa berbagi kesenangan, aktivitas, kesedihan, pengalaman, everything! Di mana letak bahayanya? Ketika seseorang mulai mengeluhkan sesuatu yang berkaitan dengan orang lain, di situlah esensi racunnya!

Langsung saja saya katakan, seseorang yang mengeluhkan something atau someone di FB, apa julukan tepat buatnya kalau bukan pengecut? Belum lagi direspon oleh teman-temannya dengan pendapat yang sama. Pernahkah terbayang bagaimana perasaan seseorang yang merasa dibicarakan?

Well, emang terkadang manusia merasa terlalu ge-er, begitu pula dalam hal ini. Secara pribadi, aku pernah mengalaminya beberapa kali. Tapi aku tidak akan membahasnya kali ini. Ini goresan untuk komunitasku. Teman-temanku tersayang.

Ayolah teman… Tidak gentle namanya kalau budaya seperti itu dikembangbiakkan. Bukankah kita dulu pernah juga merasakan hal yang sama? Pressing di jejaring sosial pada beberapa masa yang membuat kita sendiri bahkan enggan untuk log-in? Masih jelas juga di ingatanku di matinya tahun lalu, seseorang yang sangat kita hormati-percayai-sayangi menyuruh kita untuk stop FB demi kebaikan kita sendiri karena tekanan dari sana begitu besar? Sekumpulan manusia meneror kita dari berbagai sisi, ingatkah tekanan yang kita rasakan?

Ayolah teman… Masa’ kita mau meneruskan derita itu kepada adik-adik kita juga? Apa bedanya kita dengan tetua-tetua di dalam maupun di luar sana? Bukankah kita telah berjanji untuk berbeda dari mereka? Kita akan mengkader, ya kan?

Secara psikologis, memang, pressing itu perlu. Tapi, (sekali lagi ada tapinya) ketika gaya yang diberikan kepada seorang anak manusia itu terlalu besar dibandingkan luas penampangnya yang kecil (ingat lagi hukum Fisika : tekanan sebanding dengan gaya dan berbanding terbalik luas penampang), tekanan yang diperoleh terlalu besar! Apa akibatnya? Bukannya goal pengkaderan yang dicapai, tapi malah pribadi yang terpressing itu (bisa dikatakan) seluruh sel-sel dalam tubuhnya akan menolak untuk mendekat. Intinya, pergi. Dan hal ini sudah terbukti secara psikologis. Kalau sudah begitu, mau apa lagi kita?

Cukuplah, jika memang ada yang tidak beres dengan seseorang, katakan dengan benar, karena sesungguhnya itu adalah I’tikad baik. Cukuplah, saling mencaci, menyindir, menuduh di jejaring sosial mana pun. Bukan hanya Facebook. Cukuplah tuduhan-tuduhan tak berdasar dan sindiran-sindiran tak beralamat itu punah di jaman kita. Cukuplah.

Tahukah kenapa tulisan ini kuberi judul pengkaderan dan botol racun? Karena bagiku Facebook benar beracun bagi pengkaderan. Bagaimana tidak, jika FB digunakan secara kurang bijak, dampaknya bukan sekedar masalah kecil seujung jari. Tidak lagi sederhana. Dan permasalahan yang berkutat serta memanas di FB itu bagaikan api dalam botol, gak terselesaikan. Nimbulin beban pribadi. Bukan isapan jempol belaka lagi kalau ada yang benar-benar berniat pergi karena tidak tahan dengan tekanan yang diberikan, langsung ataupun tidak. Sudah cukup, waktunya kita instrospeksi terhadap sistem dan cara yang sedang kita jalankan.

Tahukah, kenapa di FB hanya ada tombol like tapi tidak ada dislike? Karena dislike dapat digunakan untuk mempressing, bullying, mengucilkan, atau apalah yang lain. Ketika seseorang mengupdate status lalu dia dapatkan belasan dislike, dia merasa dijatuhkan, benar tidak? Dia akan menderita tekanan batin. Silakan dipikirkan kembali, benar tidak yang saya katakan….

Mark Zuckerberg sudah sangat baik membangun sebuah jejaring sosial untuk menghindari bullying semaksimal mungkin, janganlah kita malah mengutak-ngatiknya untuk bisa meloloskan bullyingbullying tidak bertanggung jawab itu. Dan jika sindiran, cacian, keluhan, dll itu tetap masuk dalam daftar status updatemu, itu sama saja dengan menekan seseorang secara batin. Tolong, jangan jadikan dalih “salahnya sendiri ke-GR-an merasa jadi objek statusku” karena jika kamu memang bermaksud demikian, tidak ada gunanya berdalih seperti itu. Perlakukanlah orang lain seperti kamu ingin orang lain memperlakukanmu.

Ingat lagi salah satu pesan dalam mengkader, sama kakak gak boleh berprasangka buruk, sama adik gak boleh pake emosi.

Untuk kakak-kakaku, maafkan kami yang selalu berprasangka buruk. Benar adanya, kami harus belajar untuk lebih memahami bentuk kasih sayang dari kalian, meskipun aku sendiri terkadang terlampau sulit melakukannya. Untuk adik-adikku, maafkan kami yang belum pantas dijadikan panutan. Maafkan kami yang belum bisa menjadi kakak yang baik. Pesan yang dibold-italic di sini bukan cuma ditujukan untuk kami, tapi juga kalian dan mereka.

Tulisan panjang ini bukannya kutujukan bukan untuk siapa-siapa. Aku tau, karena beberapa pembaca blog ini adalah orang-orang yang berada di lingkaran itu, benar kan?

Terima kasih kepada kalian, yang memberikanku banyak pelajaran berharga.

Janganlah menuntut agar seseorang mencintaimu dengan caramu mencintai, tapi pahamilah cara mereka mencintaimu. Sekali lagi, yang kita butuhkan adalah lebih banyak waktu untuk berpikir jernih dan berprasangka baik. Dan kita akan baik-baik saja, semoga.

Kota Pahlawan, 23 April 2011 – pukul 16.01 WIB

*terinspirasi dari celotehan-celotehan ketika aku membuka fesbuk tadi siang dan mengamati, betapa jejaring sosial itu sudah jauh melampaui batas kewajaran.

**Silakan Berkomentar~! ^.^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s