senandika · this is college

Loyalitas dan Totalitas, Apa dan Bagaimana?

Banyak sekali yang berkecamuk dalam pikiranku akhir-akhir ini. Di antaranya ya judul di atas, loyalitas dan totalitas. Antara ujian-tengah-semester, PKM, tugas organisasi, kepanitiaan yang rasanya kok seabrek, juga pengkaderan. Khusus untuk yang terakhir, aku tidak mau terlalu banyak ikut campur tangan. Kenapa? Bukannya aku ingin lari dari tanggung jawab sebagai seorang kakak, tapi karena aku merasa belum mampu dan belum pantas. Lah, lantas kapan mampunya?

Aku sendiri masih mencari jati diri di komunitasku. Ketika pertama kali diperkenalkan tentang komunitas ini (pada waktu ospek departemen tentunya), aku sudah dijejali istilah-istilah seperti loyalitas, totalitas, tanggung jawab, komitmen, konsistensi, konsekuen. Well, buatku yang masih bau kencur saat itu, belasan eksposisi yang mereka paparkan, puluhan argumentasi yang mereka deskripsikan, serta ratusan bahkan ribuan kalimat-kalimat persuasif yang selalu terlontar di setiap pertemuan (ospek) langsung mantul gitu aja (bahkan gak sempat singgah di otak lewat masuk telinga kiri, keluar telinga kanan). Padaku yang masih seumur jagung, celotehan-celotehan seperti itu seperti bualan-bualan tak masuk akal. What the fu*k? Pikirku. Kenapa aku harus melakukan seperti yang mereka katakan? Baru masuk, belum pun ngerasain kuliah, udah dijejali ini itu yang terdengar gak masuk akal. Alhasil ya semua terdengar seperti omong kosong saja bagiku.

Aku mungkin memang belum paham dengan cara pengkaderan yang benar, tapi di kepala sini berkutat pikiran, bukankah lebih baik dikenalkan dulu, ditumbuhkan rasa cinta dan kepemilikan? Bagaimana mungkin bibit-bibit muda itu diharapkan langsung mengerti masalah loyal terhadap komunitasnya tanpa ada latar belakang yang diberikan? Bagaimana seseorang mau berkorban untuk sesuatu yang tidak mereka cintai bahkan tidak mereka kenal? Aahh, sampai sekarang sepertinya aku memang masih bau kencur untuk urusan seperti ini.

Sampai saat ini aku masih mencari-cari, sebenarnya bagaimana sih pengkaderan yang benar itu? Sengaja aku tidak berdiskusi dengan orang-orang di dalam sistem, bukan karena aku tidak percaya akan kemampuan mereka, aku hanya ingin mencari dari luar saja. Aku pun tidak terlalu banyak omong jika diskusi-diskusi di ruang sekre mulai menjurus ke arah sana, aku merasa belum tepat saja. Aku hanya sesekali mengobrol dengan beberapa orang dalam sistem yang menurutku berpikiran lebih terbuka dibandingkan yang lain.

Kita masuk lebih dalam. Ke lingkaranku. Ke permasalahanku.

Seringkali kutanyakan kepada diriku sendiri. Aku melakukan ini semua untuk siapa? Aku melakukan ini semua untuk apa? Kenapa aku mau bersusah-susah? Apa yang membuatku mau berlelah-letih?

Ketika aku diserahi tanggung jawab, aku akan melakukannya secara total. Itu ajaran ayahku yang nomor dua paling penting. Ketika aku dipercaya untuk memegang suatu amanah, aku akan serius dan memenuhinya dengan sungguh-sungguh. Aku mau berangkat pagi, pulang malam, betah di kampus rata-rata 10-12 jam setiap harinya (rekor terlamaku di kampus adalah 18 jam), datang di hari libur, jarang absen rapat, ikut diskusi untuk memecahkan masalah ini-itu, intinya kontribusi penuh lah. Aku masih ingat jawabanku saat OR di sini terhadap pertanyaan “Apa yang bisa kamu berikan untuk HIMAFI?” : “Partisipasi dan kerja sama yang baik.” Terlebih lagi, OR itu bukan sembarang OR. Itu adalah penarikan komitmen (secara langsung ataupun tidak) beberapa jam sebelum pelantikan saat camp ospek. Aku masih ingat kalimat yang diucapkan seseorang yang menjabat Koor. Komdis saat itu (meskipun sepertinya orang yang bersangkutan sudah lupa, hehe) : “Oke, saya pegang kata-katamu. Hari ini kamu telah berkomitmen, kewajibanmu selanjutnya adalah konsisten terhadap komitmenmu dan siap menerima konsekuensi terhadap pelanggaran. Saya akan memperhatikanmu.”

Sejak saat itu aku lebih banyak berpikir tentang komunitas ini. Memang aku tidak serta merta masuk dan menepati janjiku. Tapi bukan berarti aku mengingkarinya. Menepati janji dan memegang amanah, ini pelajaran nomor 3 paling penting dari ayahku. Aku hanya butuh lebih banyak waktu untuk berpikir.

Lubang-lubang justru mulai dan semakin jelas terlihat setelah aku memutuskan untuk menceburkan diri ke dalamnya. Setiap kali pertanyaan seperti untuk apa dan kenapa aku melakukan ini semua datang menerpa, aku tidak mampu menjawabnya. Mungkin aku total, tapi kenapa? Apakah karena aku mencintai himpunan ini? Apakah aku telah mempunyai rasa kepemilikan terhadapnya? Aku tidak tau… Hanya satu hal yang pasti, dan aku menyadarinya. Akan aku ungkapkan di paragraph selanjutnya.

Ketika aku masuk secara perlahan (saat itu aku semester 2, menjabat staff kesekretariatan AMT 2010 TORSI) dan dengan ketidaksengajaan (mungkin tentang ini akan aku ceritakan lain kali), aku menyadari betapa mereka membutuhkan bantuan, teman-teman seangkatanku, himpunanku. Secara otomatis, entah karena rasa iba dan tanggung jawab atau yang lainnya, aku memutuskan untuk meringankan beban mereka, kalau pun aku bisa. Di dalam sini aku berpikir, “ada aku di sini saja mereka masih serepot dan seberat ini, apalagi jika kutinggalkan, berarti aku akan membagi rata tanggung jawabku ke teman-temanku, akan semakin berat bagi mereka.”

Dan hal ini berlanjut sampai sekarang.

Mungkin tidak masalah, bagiku malah sama sekali tidak ada masalah dengan jalur pemikiran yang seperti itu sampai aku menemukan rasa jenuh dan penat di sana. Ketika aku lelah dan ingin berhenti, pertanyaan pertama yang terlintas adalah itu, itu, dan itu lagi! Dan ketika aku tidak mampu menemukan jawabannya, lagi-lagi aku harus memaksa diriku untuk ingat pada komitmenku, dan ya, keesokan harinya, aku akan kembali menjadi Septia yang biasanya.

Aku hanya lelah terhadap pencarian ini. Aku hanya ingin mengubah mindsetku terhadap hal ini. Karena ke depannya akan jauh lebih berat dari yang selama ini aku rasakan. Aku ingin total dan loyal dengan alasan yang tepat. Aku ingin selalu punya alasan untuk kembali ketika aku lelah dan ingin berlari selain karena tanggung jawab dan sekedar rasa iba. Aku ingin menyukai masalah, aku ingin menyukai halangan-rintangan, aku ingin menyukai tantangan. Terlebih, aku ingin menikmati usaha untuk menyelesaikannya.

Sekali lagi kutekankan, aku benar-benar tidak masalah hanya memiliki kemampuan untuk bertanggung jawab dan rasa iba sebagai dasar ku melakukan ini semua, sampai ketika rasa penat dan jenuh itu datang menghantam seperti derap kaki kuda di medan perang. Menciutkan nyali, menyuruhku lari menjauh, ketika seharusnya aku berdiri tegak di sana menghunuskan pedang dan bertarung.

Aku tidak tau apa yang salah. Aku tidak tau siapa yang salah. Mungkin diriku. Diriku yang masih labil dan tidak mampu menemukan jati diri. Diriku yang masih terlalu bodoh sehingga tidak menyadari ikatan dan hal penting yang ada di sana. Diriku yang masih hijau sampai sekarang karena hanya menyadari satu hal : aku melakukannya karena itu tanggung jawabku dan karena aku tidak mau meninggalkan teman-temanku sendirian.

Dan hal ini pun berlanjut sampai sekarang.

Surabaya, 23 April 2011 – pukul 17.14 WIB

*anybody helps me?

11 thoughts on “Loyalitas dan Totalitas, Apa dan Bagaimana?

  1. sampean nuliss itu td brpa lama,,…seneng nuliss yahh.??nek menrutQ semua organisasi itu penting mbk.,,mungkin kalau dilhat sekarang gak kelihatan gunanya kita ikut organisasi,,tp kelak krtika kita sudah lepas dr kuliah dan menuju dunia yang lain,maka organisasi akan menjadi penting untuk menyusun sebuah rencana dalam kehidupan,,..kalau boleh tau HIMAFI iku organisasi apo to Mbk….??

    1. iya. aku stuju organisasi itu pntg. krn tantangan yg bakal kita dpt slepas dr dunia prkuliahan pasti jauh-jauh-jauh lbh berat. hanya saja, kl diibaratkan, aku sperti manusia yg dlahirkan & tdk mngerti makna khdupan. sperti ikan yg hdup d dlm akuarium & tdk mngenal apa itu air. aku hnya malu. hnya ingin sperti teman2ku yg mnikmati & mngerti apa yg mereka lakukan 🙂

  2. Perasaan itu juga pernah singgah beberapa waktu yang lalu. Di saat pilihan itu datang, kita memang harus bijak untuk memilih.Totalitas datang karena komitmen dengan apa yg kita katakan. Loyalitas datang karena ada karena kebersamaan. Loyalitas tidak dapat timbul serta merta karena apa atau siapa. Hanya tulus untuk orang2 yang membutuhkan kita. Orang2 yang senasib telah menganggap kita ada. Disaat pertanyaan2 itu menghinggapimu laen waktu, percayalah apa yg kamu lakukan tidak akan sia2. Karakter kita terbentuk juga dari sini(menurut q) walupun sebelumnya kita sudah punya background karakter masing…

    Jadi jgn pernah menyerah diluar sana masih banyak menunggu pertanyaan2 yg mungkin tidak ada jawabannya. Tp paling ga percaya dan berpikir positif dgn apa yg kamu lakuakan itu lebih baik…
    wkwkwkwkwkwk

    TETAP SEMANGAT MENULIS…

    (sori kalo g mudeng ma tulisan q…hahaha)

  3. hhhaaahhaah masak smp sgtunya to…(aku sperti manusia yg dlahirkan & tdk mngerti makna khdupan. sperti ikan yg hdup d dlm akuarium & tdk mngenal apa itu air.)belajar mbk,,tp jangan di Aquarium di udara aja.,.caranya cari peluang aja dri kegiatan itu yang sekiranya menguntukngka bagi km,,pasti ada nek sampean mau mencari,..hheheeheh

    1. di-moderate sm adminnya dulu, mas oky mat ’08 :p
      lagian balesan mas yg panjang itu ke-detect spam (krn saking panjangnya kali yaa) hehe.
      makasi pnjelasannya, mas. bener2 mncerahkan, smoga si ‘kencur’ ini bs sperti itu 😦

      suwun mas oqhik, ‘percaya’ ya, suwun suwun 🙂

**Silakan Berkomentar~! ^.^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s