bookworm's

Uhibbuka Fillah

“Kamu ingkar janji, Intan…”, belum sempat Fahri menyelesaikan kalimatnya.

“Udahlah Fahri… Kalo saya nggak pake kerudung atau jilbab atau apa pun namanya kan bukan kamu yang dosa. Kamu cuma berhak ngingetin, tapi bukan memaksa. Fahri, saya mohon dengan sangat… Biar saya sendiri yang nentuin apa yang akan saya lakukan. Toh saya nggak ngerugiin orang lain, termasuk kamu. Suatu perubahan jangka panjang perlu waktu.” potong Intan.

“Tapi…”

Lagi-lagi belum sempat Fahri meneruskan, ia mendengar dengusan kesal sebelum akhirnya terdengar bunyi “Klik”. Intan memutuskan komunikasi tanpa aba-aba. Fahri terdiam. Tidak mencoba menghubungi gadis itu lagi.

Fahri

Aku bingung dengan sikapnya akhir-akhir ini; sensitif, meledak-ledak, dan tidak seramah dulu. Ya, dulu, ketika kami masih menjalani pendidikan di salah satu Madrasah Aliyah di kota Serambi Mekah. Menjadi aktivis di bawah organisasi yang sama, yaitu Rohis, tanpa sadar mengakrabkan kami. Kami tidak pacaran seperti kebanyakan remaja. Hanya berteman, cukup dekat, dan cukup membuatku sedikit banyak mengenal gadis itu.

Mungkin sekarang aku hanya bisa menggambarkan perasaanku pada Intan dengan satu kata saja; kecewa, yang amat mendalam.

Bagaimana mungkin, Intan yang dulunya seorang muslimah aktivis dakwah bisa berubah sedemikian rupa, semenjak kepindahannya ke salah satu kota di Jawa untuk melanjutkan studinya ke perguruan tinggi dan tinggal bersama orang tuanya. Informasi itu kudapatkan dari Ryan yang juga satu fakultas dengan Intan. Sangat menyedihkan, bahkan orang tuanya yang sudah bertitel haji pun tidak berusaha melarangnya. Tapi aku bisa apa?

Bandung, 26 Desember 2004

“Kriiiiiiiinggg!!!!!”, deringan itu selalu membuat Intan berpikir bahwa jam beker adalah benda paling brengsek sedunia dan ia tak henti-hentinya mengutuk manusia yang menemukan ide “cemerlang” untuk menciptakan benda menyebalkan tersebut. Hampir saja ia lemparkan benda mungil itu ke lantai sebelum mendengar HP-nya menjerit-jerit butuh perhatian.

“Aloooohhhooaaem nyam nyam…” jawab Intan setengah menguap.

“Tan! Lo baru bangun ya? Gue yakin lo gak tau apa yang baru aja terjadi. Gue harap lo gak lagi setengah sadar!” terdengar alunan cempreng penuh semangat suara sobat yang sangat dikenalnya, Dina.

“Yeah.. Lo udah nyelametin nyawa sebuah jam beker yang nyaris tewas di tangan gue. Ntar gue suruh dia telpon elo untuk berterimakasih.” jawab Intan asal.

“Honey, kayaknya lo salah baca doa sebelom tidur deh. Ni masalah serius, Non! Coba lo idupin tipi lo! Cepetan!”

“Males gue nelpon om-om yang ngereparasiin tipi gue maren. Gue yakin dia masih tidur dan gak seneng kalo waktu tidurnya berkurang gara-gara sesuatu yang gak penting!” Intan masih ngawur. Ia memberikan penekanan pada kata-kata tertentu. Padahal televisinya terpajang indah di depan matanya tapi ia terlalu malas untuk menerima kenyataan.

“Sakit hati ini. Tan, pleaseeee…..Tentang Aceh, Tan…Tentang Aceh!!! Sejam yang lalu ada gempa, dan sekarang….”

Tanpa aba-aba, bergegas Intan melompat dari tempat tidurnya untuk menyalakan televisi tanpa sempat mencari remote. HP-nya dicampakkan begitu saja tanpa peduli apakah manusia di seberang sana masih mengharapkan pendengar atau tidak. Di televisi, rata-rata semua saluran membahas berita yang sama; Gempa dan tsunami di bumi Serambi Mekah!

Intan terperangah. Matanya yang bundar tak berkedip. Tubuhnya yang mungil tak bergerak. Bulu kuduknya meremang. Ia menggigit bibir. Perih sekali.

Intan

Ina, Fadil, Fitri, Rahmat, teman-teman se-Aliyah, dan…Fahri!!! Ya, Fahri! Aku harus menghubunginya atau salah satu di antara mereka. Harus!

Intan tidak sempat mencari handphone yang telah ia campakkan tadi. Diraihnya gagang telepon di samping meja belajarnya untuk menghubungi Fahri. Tidak berhasil. Ia coba lagi, lagi, dan lagi hingga hingga ia mulai putus asa. Tangannya mencari buku telepon mungilnya, lalu mulai memencet tombol-tombol teleponnya sebelum akhirnya terduduk lemas. Tidak satupun yang dapat dihubungi. Saluran telekomunikasi ke Aceh terputus total!!

Tak terasa cairan hangat mengalir di pipi mulusnya. Ia tersedu. Entah untuk siapa dan karena apa; prihatin, simpati, atau rasa yang entah…

Intan

Sekilas siluet Fahri menari-nari di benakku. Sebenarnya ia yang paling aku rindukan sekarang. Wajahnya yang dingin, tidak terlalu tampan memang, tapi sangat layak untuk dipandang. Tatapannya tajam, setajam elang. Mampu membius siapa saja yang menatapnya. Tapi sayang, ia selalu menundukkan wajahnya dan menghindar untuk bertemu pandang, terlebih dengan lawan jenis, termasuk denganku.

Fahri…Aku merindukanmu dengan sangat….Aku harus menemukanmu! Harus!

Lima hari kemudian…

“Kita bisa pergi ke sana dengan bus. Berdua aja, abi dan umi sedang sibuk, nggak bisa ikut. Besok jam tujuh Om jemput. Persiapkan dirimu, Intan…” kata Om Ridwan, adik ibu setelah menyetujui ajakanku untuk berkunjung ke Aceh.

Serambi Mekah, 1 Januari 2005

Intan

Aku merayakan tahun baru sambil menikmati pemandangan yang luar biasa….mengerikan. Sungguh sangat berbeda dengan semua tempat-tempat hiburan yang pernah aku kunjungi. Tidak. Ini bukan tempat hiburan. Sama sekali bukan! Seperti menyaksikan panorama alam di bawah sayap malaikat maut yang memakan isinya kemudian memuntahkannya kembali. Bau menyegat ini…Mengapa hawanya terasa begitu mencekam? Kemana perginya orang-orang? Apa itu yang dibariskan berjejer di sepanjang jalan? Kembali kudukku meremang. Ngeri menggerayangi dalam seketika. Entah bagaimana, perasaan takut yang amat sangat. Halusinasiku bekerja. Bagaimana seandainya jika aku termasuk salah satu di antara sekian banyak benda yang berjejer di sepanjang jalan itu, sedangkan aku belum merasa telah melakukan sesuatu yang berarti untuk bekal menuju alam keduaku kelak. Na’uzubilah!

Semua tampak tidak biasa. Tidak ada lagi pohon-pohon yang yang biasanya tegak meneduhi jalanan kota yang panas berpeluh, tidak ada lagi bangunan-bangunan yang biasa memenuhi pinggiran jalan, tidak ada lagi tiang-tiang listrik yang biasa menerangi di waktu senja, tidak ada lagi…

Kemana perginya seluruh kebiasaan di kota ini…? Dimana Acehku yang indah? Ini seperti mimpi! Semoga benar hanya mimpi. Aku merindukan panasnya kota yang selalu membuatku mengeluh mengapa di sepanjang jalan tidak dipasang pendingin raksasa, aku merindukan angkutan-angkutan umum yang tidak pernah tidak memaksaku untuk memaki dalam hati karena padatnya penumpang dan aromanya yang mendesak perutku untuk mengeluarkan isinya, aku merindukan hal yang seminggu lalu masih terjadi di sini…

Ya Allah…aku sangat takut! Ah! Allah! Sudah berapa lama aku meninggalkan kebiasaanku bersimpuh luruh bermandikan air mata di hamparan sajadahMu? Shalatku memang masih lima waktu, tapi itupun SKS (sistem kebut semenit). Aku tak pernah lagi melaksanakan shalat-shalat sunah, apalagi tahajud. Semua kebiasaanku selama aku masih aliyah dulu tidak lagi membekas. Semua sejak kepindahanku. Dan sejak dunia dan segala gemerlapnya menggantikan posisi keislaman di hatiku. Aku terlena dan termakan umpan duniawi. Ya Rabb, aku maluu sekali padaMu…

“Assalamu’alaikum, apa betul ukhti bernama Intan?” Sapa seorang gadis berjilbab lebar. Sepertinya terlalu serius Intan melamun, sampai tidak menyadari ada yang mengamatinya. Alangkah malu hatinya, ketika menyadari gadis yang kini berdiri di hadapannya ini mengenakan pakaian sopan lengkap dengan jilbab lebar yang sempurna menyembunyikan auratnya. Intan sendiri sebenarnya mengenakan pakaian yang cukup sopan, hanya saja kerudungnya dapat melayang oleh terpaan angin.

“Wa’alaikum salam..Iya, betul, siapa ya?” tanyaku sambil mengingat-ngingat wajahnya.

“Subhanallah, ternyata beneran Intan! Saya Rahmi, dulu pernah menjadi sekretaris di keanggotaan Rohis Aliyah… Anti masih ingat?”

Intan mengangguk. Rahmi memeluk Intan. Hangat. Intan meneteskan air mata. Bagaimana mungkin ia bisa melupakan gadis yang dulu seperjuangan dengannya. Gadis yang sangat lembut dan baik hati. Disambut pelukannya dan dalam beberapa saat mereka dalam keharuan.

“Ukhti Rahmi! Kita harus ke barak sembilan!”, teriak salah seorang gadis berjilbab lagi yang sepertinya lebih muda dari Rahmi.

Intan

Itu berarti pertemuan kami harus sampai di sini. Setelah menyeka air mataku, Rahmi mohon pamit. Tapi aku teringat sesuatu…

“Rahmi, tentang Fahri… Kamu tahu sesuatu?”

“Oh! Demi Allah, ikhlaskan orang-orang yang kamu cintai pergi…”

Intan

Setelah menyelesaikan semua urusan, aku kembali ke Bandung bersama Om Ridwan. Sampai di rumah, aku langsung berhamburan ke kamar dan menangis sejadi-jadinya. Tak sedikitpun kuhiraukan pandangan penuh tanda tanya seisi rumah. Yang kupikirkan sekarang adalah Fahri, Fahri, dan Fahri… tanpa kusadari ternyata rasa cinta ini tumbuh begitu saja. Yaa Allah…Ampuni hambaMu yang hina ini. Lebih dulu kurasakan cinta ini sebelum mendapatkan izin dariMu Jangan biarkan cintaku kepada yang lain mengalahkan cintaku padaMu, duhai Kekasihku….

Malam ini, untuk pertama kalinya semenjak kepindahanku, aku mendirikan shalat tahajud. Luar biasa nikmatnya. Kedamaian perlahan menyusup pelan-pelan ke dalam lorong-lorong darahku, rongga-rongga batinku. Kehausanku akan cinta Ilahi seakan terhapuskan oleh airmata yang mengalir. Tak terlukiskan indahnya. Maha Suci Allah…

Tiba-tiba aku merindukan sesuatu. Jilbab yang sudah lama kutinggalkan. Aku sangat merindukannya.

Bahkan Dina yang sudah dua tahun menjadi sahabatnya saja pangling. Ekspresi wajahnya aneh sekali. Intan tersenyum. Manis. Beberapa waktu ia tidak masuk kuliah yang memang sedang tidak selalu aktif. Ia lebih banyak menghabiskan waktu di rumah dan berbincang-bincang dengan Rahmi via handphone. Ia sempat mencatat nomor telepon gadis itu saat pertemuan mereka.

Intan

Aku belajar banyak dari Rahmi. Ia tetap seperti yang dulu, ramah, hangat, dan bersedia membantuku kembali meniti cinta di jalanNya. Sebulan memang waktu yang singkat untuk menciptakan suatu perubahan, tapi itu cukup menjadi awal dari kehidupan yang baru. Dan sekarang, aku mulai mengenakan jilbab lebar yang sempat kusebut taplak meja itu kembali. Pemberian Fahri.

“Jiwaku menderita karena perpisahan tapi kembali terhibur oleh CintaNya yang mengubah rasa sakit menjadi kenikmatan dan kepedihan menjadi kebahagiaan”. (Semua Karena Cinta-Kahlil Gibran, dengan sedikit perubahan)

Bandung, 26 April 2005

Intan

Ya Allah…Cobaan apa lagi yang akan Engkau timpakan padaku? Baru saja aku tenang dari usikan ingatanku akan Fahri, tiba-tiba aku menerima surat tanpa alamat dengan ketikan pesan singkat yang berbunyi.

“Jangan jauh-jauh dari temuan Opa Alexander Graham Bell ya…;p”

Dan pengirim surat itu adalah seseorang yang bernama…Fahri.

Sepertinya Intan akan sukses jika ia bercita-cita sebagai petugas keamanan yang sensitif. Sejak surat itu diterimanya, ia tidak bergeser sedikitpun dari samping pesawat telepon dan siap menerkam siapa saja yang mendahuluinya (agak berlebihan kali ya???).

Setelah melalui penantian panjang dan kebosanan tak terhingga serta gugup yang membuncah, akhirnya yang disebut sebagai “temuan Opa Alexander” berdering juga.

“Assalamu’alaikum!” jawabku mantap.

“Wa’alaikum salam. Halo dek Intan yang manis dan lucu… Semangat amat. Mama ada?” tanya suara cempreng tapi berat dari seberang sana. Aah..! Wajah Intan berubah nyinyir.

“Gak ada” jawabnya singkat.

Sempat dikecawakan tidak membuat gadis bermata dua itu patah semangat. Ya iyalah bermata dua… Kalo bermata keranjang mah namanya buaya darat. Bussset…

“Assalamu’alaikum, bisa bicara dengan Intan?” suara di seberang sana lebih dulu mengucapkan salam.

Intan

Suara laki-laki. Asing bagiku. Tidak salah lagi, ini pasti empunya surat tadi.

“Wa’alaikum salam… Iya, saya Intan. Dari siapa ya?” Intan pura-pura bertanya, sekedar menyembunyikan rasa canggung.

“Ni Ryan. Tan, dapet salam tuh dari temen-temen rohis kita dulu. Cuma mau nyampein itu aja. Amanah sih. Udah dulu ya. Yuuk…Assalamu’alaikum”
Memang dasar Intan kali ya yang kepedean.

Intan

Yang ini benar-benar keterlaluan. Aku jadi malu sendiri. Hhh… ya sudahlah.. Mungkin dia tidak menghubungi lagi. Aku tidak bisa berbohong bahwa aku kembali merindukannya…dengan sangat. Dan ini gawat.

Intan

Teleponku berdering. Aku melirik jam, pukul setengah sebelas malam. Siapa yang nelpon malam-malam begini?

“Assalamu’alaikum”

“Wa’alaikum salam. Intan kan? Pasti iya. Maaf nelpon malam-malam. Ini Fahri. Udah ingat atau belum lupa?”

Apa!?

“Iya, ini Intan. Fahri…???”

“Muhammad Fahrizal. Lupa ya? Hiks… Hiks…”

Intan terdiam seketika. Manusia di seberang juga diam. Keheningan menjalari tenggorokannya. Ada desiran halus ketika mendengar nama itu disebutkan.

“Fahri? Beneran Fahri?”

“Bener donk, akulah Fahrizal bertompel!! Hahaha…! Alhamdulilah… Akhirnya ingat juga. Saya tanya-tanya nomor HP kamu dari Sabang sampe Meulaboh, eh, kamunya ada di Bandung. Hehe. Hei, pakabar? Woi, kok bengong? Oh…pasti kamu kaget kan? Lagi ngapain nih? Apa? Mikirin saya? Ya ampyuun….Cyape deh. Memang sih, banyak yang bilang saya tampan. Ehem. Yaa.. setidaknya gitulah kurang lebih. Tapi tenang…Saya fine-fine aja kok. Tau nggak, waktu itu saya sempet kejar-kejaran sama aer lo. Lumayan capek sih, untungnya ada balok kayu nganggur, jadi bisa belagak surfing gituw. Kalau saja waktu itu ada sutradara, pasti saya nggak bakalan ditawarin main film. Hohoho. Trauma tetep ada. Cuma udah mendingan lah. Gimana selama saya menghilang? Pasti kamu jadi kurus kayak dendeng sapi gara-gara khawatir sama saya, iya kan?”, suara di seberang sana tidak henti-hentinya mengalunkan nada-nada penuh semangat menggebu-gebu yang tidak biasa di telinga Intan. Gadis itu terbengong-bengong.

Intan

Diakah itu? Seseorang yang sekarang sudah jauh berbeda dari Fahri yang sebelumnya kukenal? Dimana sikap dinginnya yang selalu menjadi bahan kekesalanku itu? Kenyataan membuktikan bahwa sekarang ia sudah menjadi sesuatu yang paling kuinginkan. Apakah permainan kejar-kejaran dengan gelombang tsunami lalu yang mengubahnya menjadi seperti ini? Atau ia insaf setelah menyadari betapa menyebalkan dirinya bagiku? Subhanallah… Apa yang telah terjadi? Tapi aku tidak peduli. Biarlah aku memiliki Fahri yang baru, bukan lagi Fahri yang dulu dan aku sangat menyukai perubahan itu. Perubahan yang abstrak tapi menyenangkan.

Cukup lama pembicaraan itu terjadi. Tidak hanya malam ini. Tapi juga besok, lusa, beberapa minggu, beberapa bulan, dan seterusnya, hingga…

“Boleh gue temenin lo? Gak bagus cewek pergi sendirian ke tempat yang jauh, apalagi keluar kota. Kalo lo diculik ntar gue yang repot” kata sahabatku Dina. Aku menyetujuinya. Alhamdulilah, sekarang ia berjilbab sepertiku. Tutur katanya juga menjadi lebih halus, walaupun masih belum bisa meninggalkan budaya “lo-gue”nya..

Sebelumnya Dina sempat menolak usulku untuk menemui Fahri. Katanya, seorang muslimah baik-baik tidak sepatutnya berbuat seperti itu. Terlalu berani, katanya. Tapi setelah aku jelaskan alasannya, ia berusaha mengerti, walaupun terpaksa.

Tekadku sudah bulat, aku ingin menemui Fahri! Aku merindukan wujudnya. Dan kebiasaannya. Apakah ia masih sering menunduk dan enggan bertatapan denganku? Aku sendiri sudah mengikuti jejaknya yang aneh itu. Apabila ia sukses menjadi ikhwan, aku harus sukses menjadi akhwat. Dan kami pasti akan serasi. Kalau aku dendeng, dia sapinya. Hahaha! Tapi Fahri sekarang berbeda. Entah bagaimana…

Serambi Mekah, 10 September 2005

Intan

Aah…Alhamdulilah…Akhirnya kami sampai di kota Serambi Mekah tercinta. Aku sangat merindukan tempat ini. Tempat yang beberapa bulan yang lalu sempat kusinggahi. Tapi sekarang sudah jauh berbeda. Tidak ada lagi bau menyengat, tidak ada lagi lumpur mengerikan yang menggelitik kaki, atau keadaan buruk lainnya. Sudah lebih baik.

Hari ini Fahri di kampus. Intan dan sahabatnya sudah berada di depan salah satu fakultas suatu universitas yang ada di sana. Fahri tidak tahu apa-apa tentang ini. Intan hanya memantau keberadaannya. Dan tentunya, ia mengabarkan kepada Rahmi tentang kedatangannya. Hanya tentang kedatangannya.

“Din, Fahri di kantin. Katanya di sana cuma ada dia bareng dua temennya” lapor Intan pada Dina setelah mengetahui keberadaan Fahri. Mereka bergegas menuju ke kantin.

Intan

Sekarang aku akan menemuinya. Semakin dekat. Jantungku berdetak semakin tak menentu. Keringat dingin mengalir di wajahku. Pikiranku tidak dapat berfungsi dengan baik. Aku…gugup.

Satu langkah lagi… satu langkah lagi aku akan bertemu dengan orang yang sangat aku cintai setelah Allah, Baginda Rasulullah, dan kedua orang tuaku. Hanya sekedar bertemu melepas rindu yang mendendam. Hanya itu. Aku tak berharap lebih.

“Payah, kenapa aku jatuh cinta sekarang? Bukankah seharusnya nanti saja, ketika telah halal bagiku untuk mencium punggung tangannya… Tapi apa boleh buat, tak akan kuhias cinta itu, kusimpan saja, dan kupersiapkan agar nanti menjadi indah ketika masanya…” (dikutip dari novel Birunya Langit Cinta karya Azzura Dayana)

Sudah sampai di depan pintu kantin. Sekarang saatnya! Kuedarkan pandangan. Memang ada tiga orang laki-laki di sana. Tapi tidak kutemukan Fahri. Mungkin dia sudah pergi. Tergurat sedikit kecewa di wajahku. Tepat ketika aku hendak beranjak, sebuah suara menahanku. Rahmi!

“Intan? Kaifa haluk? Subhanallah…Saya hampir nggak kenal lagi! Habis udah beda sih kamunya…”, kata Rahmi sambil sebelum memeluk Intan. Ternyata hal ini cukup menarik perhatian ketiga pemuda tadi. Air muka mereka berubah. Entah kenapa. Mungkin merasa terganggu. Biarkan saja.

Setelah memperkenalkan Dina pada Rahmi, mereka bertiga duduk berseberangan dengan beberapa pemuda tadi karena memang hanya tempat itu yang paling bersih dan layak untuk diduduki. Intan menceritakan maksudnya. Juga tentang Fahri yang muncul tiba-tiba. Mimik wajah Dina berubah seketika. Keningnya mengernyit. Setelah itu suasana mendadak hening.

Intan

Juga ketiga pemuda yang menurut firasatku “mencuri” pembicaraanku dengan Rahmi. Tiba-tiba…”Praang!!!”, salah seorang pemuda tanpa sengaja menyikut gelas minuman yang sudah kosong. Pecahannya berhamburan kemana-mana. Pemuda tadi gugup, lalu ia beristighfar dan tampaknya ia sudah bisa menguasai diri. Ia segera mengambil sapu dan membersihkan pecahan gelas tadi. Kemudian mendatangi pemilik kantin yang sedari tadi hanya melongo sambil menyerahkan selembar uang dua puluh ribuan sambil meminta maaf dengan sangat sopan. Lalu pergi. Kedua temannya buru-buru menyusul.

“Afwan, anti kenal dia?” tanya Intan pada Rahmi. Yang ditanya tentu sudah tahu siapa yang dimaksud dengan “dia”. Entah kenapa, Intan tertarik untuk mengetahuinya.

“Ya. Mahasiswa fakultas ekonomi angkatan 2001. Namanya Putra. Dia magang pada sebuah media di Jakarta, sebagai illustrator. Kemampuannya nggak diragukan. Aneh juga.. Biasanya dia ramah, ceria, dan penuh semangat. Tapi mungkin hari ini lagi nggak sehat”

Intan

Kebetulan sekali. Pekerjaan yang sama dengan Fahri. Setidaknya itu yang diceritakannya. Ya Allah…Kenapa aku ini? Perasaan ini… Entah kenapa cukup menyegarkan dahagaku yang merindukannya. Entah kenapa…

Seorang gadis menghampiri mereka. Ia membisikkan sesuatu pada Rahmi. Setelah gadis tadi pergi, Rahmi mengajak Intan dan Dina ke sebuah ruangan yang cukup luas dan lengang. Betapa mengejutkan, di sana telah ada Putra dan seorang temannya. Intan, Rahmi, dan Dina duduk berseberangan dengan mereka. Intan menebak-nebak, ada apa sebenarnya. Apakah ia akan dipertemukan dengan Fahri?

Sebelum memulai pembicaraan, sayup-sayup Intan mendengar Putra menggumamkan Basmalah setelah menghela napas.

“Intan, apa kamu sedang mencari Fahri?”

Intan kaget bukan main. Bagaimana ia tahu? Gadis itu hanya mengangguk pelan. Mereka sama-sama menunduk. Tidak sekalipun pandangan mereka bertemu.

“Berhentilah mencarinya. Dia udah tenang di sisiNya. Fahri yang kamu kenal sekarang cuma rekayasa kebohongan atas skenario yang saya perankan. Dengan sangat, maaf …”

Intan

Sangat lugas. Cukup membungkam ribuan tanda tanya yang berdesakan.

“Saya Putra, sahabat Fahri sejak kecil. Kami sangat dekat, sehingga kami serasa memiliki dua orang tua. Kami udah seperti adik-abang yang sangat akrab dan nggak terpisahkan, karena kami satu. Nggak ada rahasia di antara kami. Fahri selalu cerita apa aja, juga saya. Suatu malam, Fahri cerita lagi tentang seorang gadis satu aliyah dengannya bernama Intan yang sebenarnya udah sering ia ceritakan. Fahri berjanji suatu saat ia akan mengenalkan gadis itu, sebagai istrinya. Dia nggak pernah jatuh cinta sebelumnya. Tapi kali ini, dia yakin bahwa gadis ini yang buat dia jatuh cinta. Tapi, mau nggak mau, harapannya perlahan pudar ketika gadis itu milih untuk melanjutkan kuliah ke luar kota sementara Fahri tetap di sini. Bukan karena takut kehilangan, tapi karena membuatnya nggak bisa lagi menjaga gadis itu. Dan kecemasan itu menjadi kenyataan. Gadis itu berubah semenjak kepindahannya..” Putra berhenti sejenak untuk mengatur napas. Intan semakin membuncah. Perasaan bersalah menggelitik hatinya. Besar keinginannya untuk menghilang dari sana, tapi rasa ingin tahu mengalahkan segalanya.

Putra

Aku mengenang kembali peristiwa mengerikan itu. Saat aku harus berjuang menyelamatkan diri dari amukan air yang luar biasa dahsyatnya. Tapi aku tak sendiri. Bersama Fahri dan ketiga teman lainnya, kami berjuang bersama. Tapi kemudian aku dan Fahri terpisah dengan tiga teman lain. Sekarang hanya ada kami. Menggeliat di antara ganasnya cairan hitam pekat merkuri yang mematikan itu sambil saling berpegangan. Berusaha sekuat tenaga agar tidak terlepas!

“Put! Kalo saya harus pergi sekarang, tolong maafin kesalahan saya dan sampaikan juga maaf kepada keluarga dan teman-teman. Juga salam terakhir saya.. Ah, tapi saya mohon satu hal, jangan bilang apa-apa pada Intan. Dia masih butuh saya. Tolong…gantiin posisi saya dan jaga dia sebagai Fahri. Bimbing dia dan jangan pernah menyakitinya! Demi Allah, aaahh…!!!”, kalimatnya terputus. Sebuah balok kayu yang besar menghantam kepalanya lalu pegangan tangan kami terlepas. Aku terus berusaha meraihnya. Sia-sia. Amukan air menyeretku jauh hingga semuanya mendadak gelap.

Aku tersadar di sebuah ruangan serba putih namun sangat ramai. Orang-orang yang mengunjungiku berhamdalah memuji Allah atas kesadaranku. Kulihat keluargaku. Alhamdulilah semua selamat. Dan teman-temanku. Kupandangi satu per satu. Tidak! Fahri tidak terlihat! Aku memaki diri sendiri karena tidak berhasil menyelamatkannya. Dimana itsarku sebagai muslim!? Mengapa aku tidak lebih dulu mendahulukan nyawanya?!

Kuingat pesan terakhirnya. Menjaga gadis yang sangat ia cintai. Tapi bagaimana caranya membangun kebohongan di atas pilar-pilar serapuh diriku? Bagaimana bisa, Ya Allah? Tapi aku tidak ingin mengecewakannya. Kulakukan, walaupun berat. Dan sekarang, semua telah terbongkar. Fahri, maafkan aku. Tapi aku tidak mungkin selamanya hidup dalam kebohongan. Aku sudah menemaninya sebagai dirimu. Tapi, bolehkah aku meneruskan perjuangan ini? Aku merasa menemukan secercah harapan. Aku ingin menjaganya sebagai seorang teman sejati yang halal untuk kujaga dan yang akan menemani perjuanganku, perjuanganmu, perjuangan kita, selamanya… Uhibbuka fillah, yaa ikhwan! Izinkan aku…

Intan

Ternyata aku belum mengetahui apa-apa. Pantas saja, ketika melihatnya, aku seperti melihat Fahri. Karena ia memang Fahri. Hanya saja dalam wujud yang berbeda. Aku mencintai Fahri yang dulu, tapi aku juga tidak bisa berbohong bahwa Fahri yang sekarang sangat kubutuhkan. Semangatnya akan menyemangatiku. Fahri-ku tetap satu, yaitu Fahri yang memiliki bank nasihat yang siap ditransfer kapan saja. Dan sekarang Fahri itu bernama…Putra.

Bandung, 19 September 2005…

Intan

Sebenarnya aku sudah menawarkan agar orang tuaku saja yang ke Aceh, tapi Putra menolak. Ia bersikeras akan melamarku di Bandung. Itulah Putra, yang tidak pernah membuatku berhenti tersenyum. Meskipun gajinya sebagai illustrator jauh dari ukuran pas-pasan pejabat perut buncit, tapi setidaknya ia bukan pengangguran. Dan pastinya, aku harus menerima kenyataan bahwa ia juga bukan Fahri.

Bersama kedua orang tuanya, Putra menemui orang tuaku untuk ber ta’aruf dan proses khitbah itu berlangsung begitu menegangkan. Tak lama kemudian, khitbah selesai dengan hasil yang membahagiakan. Seminggu lagi, tepatnya pada tanggal 26 September aku dan Putra akan melaksanakan Sunah Rasul, yaitu bersatu dalam satu ikatan suci yang disebut pernikahan… Maha Besar Allah, yang telah menakdirkan manusia untuk hidup berpasang-pasangan. Dan aku bersyukur cinta kali ini tidak ternoda nafsu sebelum waktunya.

Putra

Keringat dingin mengucur dari seluruh tubuhku. Ya Allah, malam ini kuserahkan seluruh jiwaku padamu. Dalam sujud, aku berdoa,
“Rabbana hab lana min azwaajina wa dzurriyyatina qurrata a’yun waj’alna lil muttaqiina imaama! Wahai Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami dan keturunan kami sebagai penyejuk hati kami, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa!” (Q.S. Furqaan: 74)

Fahri (on the wings of angels)

Putra, akan kulanjutkan kalimat yang sempat terputus waktu itu. Demi Allah, aku ikhlas jika suatu saat kamu menjaganya sebagai teman sejatimu. Karena kita satu. Dan kalian adalah orang-orang yang aku cintai…Uhibbuka fillah! Selamat berbahagia!

[Dedicated to the next Fahri, Insya Allah…]
Writed by N4dZ Al-Idrus

*Kamus:
Uhibbuka fillah, yaa ikhwan : Aku mencintaimu karena Allah, saudaraku
Anti : Kamu (perempuan)
Ukhti : Saudariku (panggilan untuk wanita)
Afwan : Maaf
Ukhuwah : Hubungan persaudaraan sesama muslim
Kaifa haluk? : Apa kabar?
Itsar : Sikap mendahulukan saudara sesama muslim
Khitbah : Lamaran

Iklan

**Silakan Berkomentar~! ^.^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s