science world

Ayah, Anak, dan Keledai

Sepenggal kisah yang cukup mendeskripsikan betapa relatifnya persepsi anak manusia.

Suatu ketika, ada seorang ayah dan seorang anak laki-laki yang akan melakukan perjalanan jauh dengan membawa serta seekor keledai. Di awal perjalanan, sang ayah mempersilakan anak laki-lakinya untuk menunggangi keledai sedangkan sang ayah berjalan kaki. Ketika sampai di sebuah perkampungan, penduduk di sana terlihat bisik-bisik dan membicarakan mereka.

“Astaga, tega sekali anak itu, membiarkan ayahnya berjalan kaki. Sungguh anak yang tidak berbakti!”

Mendengar komentar seperti itu, selepas keluar dari perkampungan, sang anak turun dan sang ayah yang gentian menunggangi keledai. Sampai di perkampungan berikutnya, bisik-bisik lainnya terdengar.

“Betapa tega ayah itu, membiarkan anaknya berjalan kaki. Sungguh ayah yang tidak memiliki kasih sayang terhadap anaknya!”

Mendengar komentar tersebut, sang ayah dan sang anak menjadi bingung. Akhirnya, diputuskan kalau mereka berdua yang menaiki keledai itu. Namun, di perkampungan berikutnya, lagi-lagi muncul pembicaraan negatif tentang mereka.

“Wah, apa-apaan orangtua dan anak itu, tidak berperike-hewan-an sekali, masa’ seekor keledai ditunggangi oleh dua orang?! Kasihan sekali keledai itu!”

Lagi-lagi, mereka berdua kembali bingung. Setelah berpandangan sesaat, mereka berdua turun dari keledai dan akhirnya berjalan kaki. Tapi tetap saja pendapat orang tidak pernah sama. Ketika bertemu sekelompok orang, ternyata apa yang ayah dan anak itu lakukan tetap saja mendapat gunjingan.

“Dasar ayah dan anak yang tidak tahu bersyukur. Ada keledai, tidak dimanfaatkan, malah dengan bodohnya memilih berjalan kaki.”

Dan mereka pun melanjutkan perjalanan…

Begitulah, betapa beragamnya pendapat manusia. Persepsi, jumlahnya sama dengan jumlah anak manusia di muka bumi ini. Jika menggunakan persepsi manusia yang sangat relatif sebagai kerangka acuan, nasibnya akan seperti kisah di atas. Karena itu, pintar-pintarlah memilah dan menyaring kritik, saran, masukan dan berbagai jenis pendapat orang lain demi kebaikan diri kita sendiri. Berpegang teguhlah pada kebaikan!

*diceritakan kembali oleh penulis dengan sulaman dan tambalan di sana-sini dan dengan versi penulis sendiri.

Iklan

**Silakan Berkomentar~! ^.^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s