uncategorized

Anomali

Halo… Selamat datang di langit senjaku. Selamat datang di abu-abu angkasaku. Di sini tak ada biru cerah untuk disongsong, jingga keemasan yang mempesona, ataupun hitam kelam yang meneduhkan dan melindungi. Di sini, hanya ada abu-abu. Ya, abu-abu.

Apa yang kau lihat? Lembaran kulit coklat ini tidak akan membantumu membaca tinta abu-abuku. Tidak, apalagi dalam temaram abu-abu ini. Samar. Pergilah saja ke arah barat, kan kau temui putih di sana. Tidak, jangan ke timur, di sana ada hitam yang akan menelan dan menahanmu dalam penjara sang Erebus yang mengerikan. Berhati-hatilah…

Oke, kalau kau memang bersikeras membaca papirusku, aku akan membantu menceritakannya. Dengarkan… Esensinya, papirus ini hanya berisi segepok prasangkaku. Tak lebih dari itu. Belum terlambat jika kau ingin pergi dan mendengarkan ceritaku yang lain.

Aku mulai…

“Aku terjaga. Bukan karena Nox yang saat itu sedang berkuasa menjauhi kedamaiannya, namun karena bunga tidurku tiba-tiba layu. Kelopak membuka. Tanganku menggapai-gapai. Mencari-cari. Seperti seorang bayi lemah yang mencari puting susu ibunya segera setelah dilahirkan.

Ketika jemariku menemukan kesejukan air tanah, tidak terpikir lagi olehku untuk menyirami bunga yang layu itu. Aku egois. Kuteguk nikmatNYA itu sendirian.

Kesadaran mendatangiku, seiring mengalirnya air membasahi kerongkonganku. Ada seseorang. Seseorang di sampingku. Menunggu di sana entah berapa lama sejak aku tertidur.

Resahnya merambat melalui angin malam yang membangunkan kudukku. Gundah. Gelisah. Seandainya bisa ku tatap wajahnya dalam, pasti akan ku lihat gurat-gurat kesedihan. Namun kegelapan ini tidak membantuku.

Dalam remang, ia berbicara. Tanpa suara. Menyuarakan teriakan tak terdengar dari dalam hatinya. Memohon pertolongan.

Maaf, aku tidak bisa mendengarmu, kataku. Mendekatlah…

Ia tidak bergeming.

Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan untuk menolongmu…

Ia tetap tidak bergeming.

Tolong, aku benar-benar ingin dan akan menolongmu, karena itu mendekatlah, katakan padaku apa yang kamu butuhkan, pintaku memohon.

Sekali lagi, ia bergeming, tersenyum simpul penuh luka, lalu pergi.

Dalam ketakutan, aku menangis. Aku tidak mengenalnya. Aku belum mengenalnya. Tapi sesak hatiku melihatnya pergi. Dalam tangis, aku menyadari, aku menyayanginya. Jika ia pergi, ia membawa sebagian hatiku bersamanya. Dalam tangis, aku menyadari, tubuhku mengenali kehangatannya. Tapi dalam sejenak kehadirannya, aku tak mampu merasakannya. Dalam tangis, aku menyadari, dan seluruh bagian diriku berontak tidak setuju, dan aku pun berharap ini tidak benar terjadi, bahwa ia akan pergi, maksudku, tidak kembali lagi.

Beberapa detik dalam diam, aku memutuskan. Sebaiknya aku tidur lagi. Mungkin saja ketika aku terbangun keesokan harinya, aku bisa menemuinya lagi untuk berkenalan dan lebih mengenalnya. Dan ini semua, oh syukurlah, ternyata (baca : semoga) hanya mimpi.

Dalam usahaku memejamkan mata, berbagai adegan muncul begitu saja dalam kepalaku. Menyesaki benakku. Menggetarkan dadaku. Ini kisahku. SkenarioNYA. Dengan aku sebagai lakon utama. Ku berdoa agar aku cepat tertidur dan menuju skenario yang sebenarnya esok pagi, ketika kegelapan telah pergi. Agar tidak terlalu lama aku terjebak dalam kegelapan prasangkaku sendiri.”

Selamat datang… Inilah abu-abu langit senjaku…

(Surabaya, 15 Januari 2011 – pukul 12.33)

*ditulis dalam kegalauan hati dan pikiran, disesaki bayangan-bayangan mengerikan akan perpisahan, dalam penantian panjang akan jawaban gundahku. Aku ingin mengerti. Aku ingin memahami…

One thought on “Anomali

**Silakan Berkomentar~! ^.^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s