salad days

Serangan

*abu-abu langit praduga, part II

Bersamaan dengan membukanya lembaran baru Kitab Masehi edisi ke-2011, ditemani secangkir teh hijau hangat, dan diiringi alunan piano Maksim Mrvica yang luar biasa, saya menuliskan kelanjutan postingan abu-abu langit praduga ini. Mungkin ada yang bertanya-tanya, kenapa saya namakan abu-abu langit praduga? Alasannya tidak lain adalah karena tulisan ini, yang didasarkan pada pengalaman dan analisa saya sendiri, hanyalah sebatas hipotesa. Kenapa abu-abu? Karena hanya sebatas hipotesa itulah, saya sendiri tidak yakin apakah saya (dan pihak-pihak lain yang terkait) sedang terjebak dan dijebak dalam sebuah permainan kotor, ataukah sekedar kekeliruan belaka. Mungkin saja hipotesaku salah, dan semua pihak benar-benar bersih. Jujur saya sendiri tidak tahu.

Bermula dari ketidakpuasan, sempitnya cara pandang, penutupan diri dari (usaha-usaha untuk melakukan) perubahan (ke arah yang lebih baik, tentunya), dan didukung oleh banyaknya celah untuk masuk, maka dimulailah serangan.

Serangan pertama, sekedar praduga : pencurian anak kunci. Berbagai celah terbuka memungkinkan anak kunci diculik dan dimanfaatkan untuk serangan selanjutnya.

Serangan kedua. Pengujian penjara proteksi. Mulai dari tukang sayur, sampai bankir dan preman dikerahkan untuk mengetes tingkat keamanan benteng terdepan.

Serangan ketiga. Pengujian kekokohan pilar bangunan. Sama seperti serangan kedua, massa pendukung diterjunkan untuk menguji seberapa kuat dan kokohnya kekonsistenan itu. Bedanya, kali ini yang diutus adalah artis ibukota, algojo, dan pengangguran-putus-asa. Ckckck…

Serangan keempat. Pembobolan brankas. Pembobol sengaja memperlihatkan diri pada akhir aksinya. Waw!

Serangan kelima, sekedar prasangka : manipulasi penjara proteksi (lagi).

Serangan keenam. Koakan pengecut. Sindiran-sindiran rendah di balik punggung sang aktor. Pematukan dan penghancuran interior bangunan. Mental diuji. Usaha-usaha untuk memorak-porandakan seisi rumah yang telah tertata rapi terus gencar dilakukan melalui cara-cara yang tidak terhormat.

Serangan ketujuh, lagi-lagi sekedar prasangka : penyusupan.

Serangan kedelapan. Dakwah si bijak cendekia yang terpancing oleh alur yang dibawa sang aktor antagonis. Massa terhanyut.

Serangan kesembilan. Penarikan massa pendukung.

Serangan kesepuluh, prasangka terakhir : perakitan konsep dan teknis untuk menutup, atau setidaknya, menghambat jalan yang ada.

(sepertinya) Perang dimulai. Saatnya mempersiapkan strategi untuk menghadapi dan membalas serangannya. Kami tidak goyah. Kami tidak gentar. Kami tidak takut. Karena tempat yang akan kami tuju adalah suatu padang kreativitas luas yang di sana akan kami bangun rumah yang mencerminkan jati diri kita yang sebenarnya, rumah yang seharusnya masih kita miliki sampai sekarang, rumah yang ketika orang lain melihatnya, seketika mengenali itu rumah kita, karena kekhasan dan keistimewaan yang dipancarkannya. Kami akan membangun rumah itu. Rumah baru kita.

Kami siap bergerilya.

(Surabaya, 1 Januari 2011)

**Silakan Berkomentar~! ^.^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s