salad days

Celah

*abu-abu langit praduga, part I

Pembaca yang budiman, pernah dengar kalimat bijak “Kebohongan dan kecurangan yang terorganisir akan mampu mengalahkan kebenaran yang tidak terorganisir”? Sebelum pemaparan yang akan saya berikan panjang-lebar dalam postingan ini (jika ini tidak disebut berlebihan), saya ingin mengawalinya dengan maksud dan tujuan tulisan ini. Tidak lain, saya mencoba merangkai dan menuliskan kembali pengalaman saya agar dapat dijadikan pelajaran bagi pembaca semua sehingga tidak terjadi kepahitan yang sama.

Mengiringi matinya bulan keduabelas tahun ini, dikelilingi saudara tersayang dan sahabat terbaik, saya akan sedikit (tidak sedikit, sebenarnya) bercerita tentang apa yang saya alami kemarin, tentunya dengan kaca mata milik saya sendiri dan sudut pandang berpikir saya. Meskipun sebisa mungkin saya telah berusaha berpikir dan bersikap objektif, tetap saja, tulisan ini tidak lepas dari ke-subjektif-an saya yang lemah dan terbatas.

Celah pertama. Kecerobohan yang bersumber dari ketidakmantapan pemahaman, ketidaksiapan konsep, serta pendeknya dan kurang awasnya pemikiran, berakibat tidak terjaganya aspek yang paling penting. Anak kunci. Baru sekitar dua belas jam kemudian saya menyadari, betapa bodohnya saya yang membiarkan hal itu terjadi.

Celah kedua. Rendahnya kuantitas didukung kualitas yang kurang memadai menyebabkan saya dan teman-teman (terpaksa) mengaplikasikan pepatah “tak ada rotan, akar pun jadi”. Lantas? Kurangnya sosialisasi, berujung pada ketidaksempurnaan pelayanan dan penjagaan. Pembelaan? Keterbatasan kemampuan.

Celah ketiga. Langsung masuk ke bab pembelaan. Khilaf.

Celah keempat. Bersumber dari kelamnya hati manusia (baca : saya) yang (mulai) dipenuhi prasangka dan praduga setelah melihat apa yang terjadi, terngiang kembali perkataan-perkataan menyesatkan dan tindakan (yang menurutku) menjebak. Pembelaan? Maaf, tapi saya (dan teman-teman, saya yakin) bukan orang yang dihantui ketidakpastian prasangka dan praduga sehingga tidak bisa mempercayai orang lain (terlebih, keluarga sendiri).

Celah kelima. Kelalaian. Tidak fokusnya pikiran. Terbagi. Tidak awas. Lalu pembelaan apa yang kami punya? Cukup sulit memegang dua kekang pada saat yang sama jika mengharapkan kesempurnaan kendali.

Celah keenam. Tidak konsisten. Plin-plan. Tidak berpikir panjang. Tidak mengikuti prosedur yang telah disepakati hanya karena alasan keterbatasan waktu. Muaranya? Celah keenam inilah yang sebenarnya mematikan kami. Celah keenam inilah yang seharusnya (mampu) menjadi pembela kami. Celah ini yang seharusnya (bisa) menjadi bukti kejujuran dan kebersihan kami. Lagi-lagi, prasangka bermain…

Celah ketujuh. Anak kunci diletakkan sembarangan. Inilah celah di mana prasangka terbesar kami bersembunyi. Menghantui tanpa henti. Penyesalan yang senantiasa membuntuti ketika hati burukku meneriakkan kata-kata, “andaiiii saja posisinya tidak di sana!”. Istighfar, hati baikku meredam.

Tujuh celah yang tidak sengaja ada, namun termanfaatkan dengan baik. Tujuh celah yang menerangi jubah abu-abu itu. Tujuh celah yang menorehkan luka karena terjatuh sandung. Tujuh celah yang meruntuhkan pilar kepercayaan itu. Tujuh celah di mana api keraguanku menyala, biru terang, tak seindah langitku, membakar angkasaku. Tujuh celah.

Sesak dada ini mendengarkan sindiran pengecut itu. Perih mata ini karena air mata yang tertahan. Aku ingin langit biruku. Aku perlu terbang.

Hahaha, permainan… Ya, permainan…

(Surabaya, 31 Desember 2010)

**Silakan Berkomentar~! ^.^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s