sky of words

Sejingga Ibukota, Semegah Bianglala

Sejingga ibukota.
Tatanan kasih dalam asa.
Kini terurai dalam ruah.

Semegah bianglala.
Bukan dia.
Bukan mereka.
Akulah yang menggoreskan kata sudah.
Bulan baru lahir dalam hatiku.
Menjadikan benang-benang cinta yang dulu terjalin indah, patah.
Cerita yang dulu merekah, musnah.

Aku begitu tidak menyadari matahari yang begitu hangat menyinari.
Ada segunung es di sana yang menimbulkan kesan berbeda.
Begitu rapuh sebelah sayapku.

Terlepas dari dingin yang menyesakkan dan terkadang menyakitkan,
begitu ingin ku menyentuh es itu.
Ingin kujadikan ia hangat sehangat mentariku.

Sejingga ibukota.
Semegah bianglala.
Kini aku harus rela kehilangan mentariku.

(Surabaya, 24112010)

**Silakan Berkomentar~! ^.^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s