garden of words

Surat Untukmu, Bulan…

Ku goreskan pena ini
sebelum fajar menjemputku
sebelum hilang kelamku
untukmu, Bulan…

Bulan, Mentari ‘kan pergi jauh
ke tempat di mana cahayanya yang benderang pun
tak mampu menjangkaumu

Ia tak menunggu padi yang hijau menjadi kemuning
juga tak sampai katak-katak berhenti bernyanyi
tidak pula saat laut mulai surut

Bumi ‘kan kehilangan kehangatannya
Bumi ‘kan kehilangan sinarnya
begitu pula kau, Bulan
belum sadarkah dirimu?
Apakah Mentari begitu tidak pentingnya bagimu?
Ataukah sebaliknya?

Bulan, ia mengadu padaku…
Kau bilang kau ingin merasakan cahaya harapannya dalam hidupmu
demi hari esokmu
Tapi ketika dengan wajah berseri-seri ia memberikannya
kau malah menampiknya lembut dengan berkata,
“sekarang bukan saatnya”

Apa maksudmu, Bulan?
Tidakkah kau mengerti?
Mentari menjadi ragu
memancarkan sinarnya kembali untukmu

Ia bilang,
kau melarangnya membagikan secercah cahayanya
cahaya yang terpancar dari dalam dirinya begitu saja
Engkau ingin ia menyelubungi dirinya,
apakah agar tak ada lagi Bintang-bintang lain untuk menemaninya,
ataukah Bulan-bulan lain yang melirik mencari perhatiannya?
Kami tak tahu, Bulan
kami tidak mengerti…

Sekali lagi ku tanya, apa maksudmu?
Mungkinkah ia menahan terpaan sinar yang memancar dari dalam dirinya?
Iyakah kau meragukan hatinya?
Iyakah kau meragukan keikhlasannya menyinarimu?
Atau iyakah kau merasa cukup untuknya?
Hanya kau, Bulan?

Mentari semakin menarik dalam-dalam kerudungnya,
menutup cerah sinarnya…

Bulan, sebentar lagi ia akan pergi,
dan mungkin akan kembali, entah kapan…
Ia hanya singgah sesaat
untuk mengintip Bumi menuai padi, lalu pergi lagi…

Kali ini ia akan kembali
ketika ayam-ayam bangkit dari duduknya,
ketika rayap-rayap memutuskan benangnya,
ketika laba-laba menghentikan pintalannya,
ketika kupu-kupu keluar dari pupanya…

Saat itu, kau, maupun aku, tidak tahu
apakah ia akan tetap menjadi mentari bagimu,
apakah ia akan tetap menjadi pelitamu,
dan apakah ia yang akan tetap menjadi kolegamu menyapih Bumi?
Melainkan Dia,
Yang Memiliki aku, kau, dan dia…

Bulan, satu hal lagi,
kali ini aku akan bercerita tentang diriku
sudah beberapa masa aku memendam hasrat padanya
Namun, tak sekali pun ia melihatku
seperti ia melihatmu…
Tak sekejap pun ia memandangku
seperti pandangannya untukmu

Bulan, aku tak pernah menang darimu
cintanya tidak dimenangkan olehku
hati Mentari selalu menatapmu, Bulan
dan kau pasti tahu itu
tak ada celah bagiku untuk masuk ke dalam hatinya,
dan cintanya…

Bulan, tetaplah di depanku
karena yang diinginkannya bukanlah aku,
Bukan Bintang-bintang, atau Bulan-bulan yang lain,
melainkan dirimu…

3 thoughts on “Surat Untukmu, Bulan…

**Silakan Berkomentar~! ^.^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s