uncategorized

Yang Kurindu *part II*

Setahun yang lalu, saat aku baru memasuki bangku perkuliahan di sini, di Surabaya, aku masih ingat, betapa rapuhnya aku saat itu. Dengan bodohnya, aku menyesali pilihanku dan aku ingin kuliah di Lhokseumawe saja! Ya, seperti itulah! Hanya karena saat itu aku sakit-sakitan, ditambah beratnya ospek yang (bagiku) nggak tanggung-tanggung, pikiran-pikiran bodoh seperti itu cepat sekali merasuk. Betapa mudah aku melupakan sulitnya perjuangan mendapatkan satu bangku saja. Meski berat, meski menyedihkan, meski memalukan, aku rindu saat-saat itu…

Aku ingat 2 tahun yang lalu, saat kami sekeluarga (kecuali ayahku yang sedang bekerja shift malam) keracunan makanan padahal hari itu aku ada lomba cerdas-cermat di sekolah. Aku ingat aku memaksakan diri pergi ke rumah sakit menebus obat untuk ibu dan adik-adikku (padahal aku juga sedang sakit, hehe) ditemani salah seorang sahabatku. Aku ingat sesampainya di Emergency (baca : UGD), aku (sambil muntah-muntah di wastafel UGD) dimarahi oleh petugasnya karena membiarkan ibu dan adik-adikku “terbaring lemas” di rumah (walah pak, saya juga pasien!). Aku ingat bagaimana teman-teman meneleponku ketika aku tidur di rumah dan mengatakan betapa cemas mereka (tapi pada akhirnya, memaksaku ke sekolah juga karena tidak ada penggantiku yang siap tempur untuk lomba itu). Aku ingat bagaimana dengan kepala pusing, perut sakit, mual-mual, dan badan menggigil aku berangkat ke sekolah. Aku ingat teman-teman menyambutku dan bernapas lega melihat kedatanganku. Aku ingat mereka membelikan berbotol susu dan roti untukku. Aku ingat, betapa dengan perhatian dan kasih sayang yang mereka berikan, betapa dengan dukungan mereka saat aku (dan kedua temanku bertanding) di depan, sakitku seakan lenyap (untuk sementara). Dan aku ingat, betapa keras teriakan kegembiraan mereka saat kami memenangkan perlombaan. Aku ingat, ingat dengan jelas, dan aku sangat merindukannya…

Aku ingat 3 tahun yang lalu, saat aku kelas 2 SMA dan aku mendapat juara 2 OSN Fisika tingkat provinsi. Aku ingat, saat SMP, aku mendapat juara pertama dan sainganku juara dua, sedangkan sekarang, dia juara pertama dan aku juara dua. Allah memang Maha Adil…

Aku ingat 4 tahun yang lalu, saat ada wisata religi ke Banda Aceh bersama teman-teman sekolah. Untuk pertama kalinya aku melihat mayat yang diawetkan dalam bak penuh formalin, otak yang diawetkan, ginjal, hati, paru-paru, bahkan kanker payudara dan kanker hati. Aku juga melihat lagi Kapal PLTD Apung yang terdampar jauh di daratan saat terbawa arus tsunami.

Aku ingat 5 tahun yang lalu, kami sekeluarga harus pindah rumah, padahal aku sangat menyukai rumahku yang lama. Meski kecil, namun sangat nyaman dan menyenangkan tinggal di sana. Aku ingat saat untuk pertama kalinya aku naik kereta api kelas eksekutif sebagai fasilitas karena menjadi delegasi untuk mengikuti TOP Challenge of Physics tingkat Nasional di UGM. Aku ingat, saat untuk pertama kalinya aku naik pesawat Garuda Indonesia (Banda Aceh-Jakarta) dan juga pertama kalinya menginap di hotel bintang lima (Hotel Kartika Candra, Jaksel) sebagai fasilitas yang aku peroleh karena menjadi delegasi perwakilan provinsi NAD untuk OSN Fisika tingkat nasional di Jakarta. Aku ingat tempat-tempat luar biasa yang kukunjungi : Balai Sarbini, Monas, Dufan, TMII, dll. Dan yang paling kuingat adalah, hukuman karena ketidaksukaanku pada fisika optik : saat ujian eksperimen, topik itulah yang keluar dan ya, aku tidak bisa menjawab apa-apa alias ngasal. Mungkin itulah salah satu dari sekian banyak alasan kenapa aku gagal. Berbagai kenangan dan pelajaran berharga yang kudapat, aku merindukannya…

Aku ingat 6 tahun yang lalu, saat aku ditawari untuk mengikuti pelatihan peserta olimpiade, aku bertanya-tanya : kenapa harus fisika? Aku ingin matematika! Haha… Aku juga ingat, saat aku merasa cintaku telah kandas waktu itu. Aku ingat, saat gempa mengguncang dan tsunami menghantam tanah rencong kami. Aku masih ingat betapa kerasnya guncangan, baju apa yang kukenakan, apa yang kupeluk, dan di mana aku duduk berlindung saat gempa terjadi. Aku masih ingat bagaimana mayat-mayat berbagai rupa dan bentuk dijejerkan sepanjang jalan seperti ikan yang dijual dipasar saja. Aku masih ingat betapa saat itu makanan yang berlimpah adalah ikan dan daging kalengan kiriman bantuan kemanusiaan (sampai bosan ~.~). Aku ingat beberapa minggu setelah itu pergi ke Meulaboh dan melihat sendiri bagaimana yang disebut “rata dengan tanah” itu.

Hmm… mungkin sampai di sini dulu bagi-bagi pengalamannya. Karena menguras cukup banyak tenaga (halah!) lanjutannya bakal ada di edisi selanjutnya, InsyaAllah. Sampai jumpa kembalii😀

**Silakan Berkomentar~! ^.^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s