uncategorized

Yang Kurindu *part I*

Aku sedang berjalan-jalan. Ramai sekali. Ya, hari ini hari lebaran. Hmm… membuatku merindukan banyak hal. Banyak sekali hal. Sudah dua tahun berturut-turut aku tidak merayakan lebaran di tanah kelahiranku, Serambi Mekkah. Aku merindukan kotaku (baca : Lhokseumawe) yang belum memiliki tata kota yang baik (hehe). Aku merindukan becak-becak motornya yang berisik dan seringkali mengeluarkan asap putih yang bagiku harum baunya (hehe). Aku merindukan sawah, rawa, hutan, bukit, dan tanah kosong yang masih menjadi pemandangan umum terakhir kali aku melihatnya. Apa sekarang juga masih seperti itu ya?

Aku merindukan perumahan tempatku tinggal yang dikelilingi pagar beton dan besi tinggi jika dilihat dari luar. Aku merindukan gerbangnya yang kokoh dan menawan yang dijaga siang-malam. Aku merindukan air mancurnya yang menyambutku pulang. Aku merindukan pinus-pinus, cemara, dan pohon kapuk tinggi yang menaungi jalan menuju rumahku.

Aku merindukan rumahku…

Aku merindukan rumahku yang berada di pangkal gang, tepat di sebelah jalan raya perumahan. Aku merindukan jalan masuknya yang menurun. Aku merindukan garasi dan Panther hijau ayahku (apa kap mobilnya sedang terbuka dan ayahku sedang mengutak-ngatiknya ya?)

Aku bisa melihat Karisma jingga yang setia menemani ibuku ke pasar. Aku bisa melihat Supra hitam abu-abu yang selalu kuajak ke sekolah, dulu. Aku bisa melihat alat-alat bengkel ayahku tersusun, namun tak rapi, di salah satu sisi garasi. Aku bisa melihat rak dengan sepatu terjejer rapi (tidak ada lagi sandal dan sepatuku).

Aku pun beranjak ke dapur. Aku melihat kompor gas, wajan, panci, dan dandang yang membantu ibuku menyiapkan masakan-masakan paling lezat di dunia. Bisa kutemukan bumbu-bumbu dapur dan rempah-rempah di lemari. Kubuka lemari es ibuku. Berbagai macam lauk dan sayur ada di sana, menunggu diolah oleh tangan terampil ibuku.

Aku berjalan ke halaman belakang. Ada pohon pisang, mangga, sawo, cabai, juga ada rempah seperti jahe, kunyit, serai, lengkuas. Dua kolam ikan ayahku juga masih ada (apa ikan-ikannya sudah diberi makan ya?). Aku tersenyum. Ternyata ayahku masih suka berkebun dan beternak ikan. Bunga-bunga ibuku juga ada. Aku heran sendiri, tak satu pun hobi kedua orangtuaku yang menurun padaku, mulai dari ayahku yang suka otomotif, beternak, berkebun, sampai ibuku yang gemar memasak dan suka sekali bunga. Hehehe…

Hmm, saatnya beranjak ke dalam rumah. Yang pertama kali kulihat adalah komputer legendaris keluarga kami yang dibeli ayahku pada tanggal 6 September 2003, waktu aku kelas 1 SMP. Tapi bukan untuk hadiah ulang tahunku, hanya kebetulan saja dibeli pada hari itu. Selanjutnya karpet serta bantal-bantal besar empuk yang digelar di depan televisi. Aahh, betapa aku merindukan bersantai di depan tivi sambil menonton acara favorit (meski aku jarang nonton tivi, hehe). Menoleh ke kiri, ada ruang tamu dengan sofa-sofa merah maroon berjejer rapi : tempat favoritku menghabiskan waktu dengan tidur-tiduran di sana sambil membaca novel ataupun komik, ngemil, dan mendengarkan musik. Di sebelah tivi, ada rak buku tinggi sampai langit-langit rumah yang sudah benar-benar penuh oleh komik, novel, buku-buku agama, pengetahuan, dan segala jenis bacaan lainnya. Hmm, ingin kupindahkan semua buku itu ke kostku atau ke rumah Madiun supaya bisa kubaca kapan saja aku mau, hehehe. Menoleh ke kanan, ada ruang khusus tempat adikku les, atau bisa juga dijadikan tempat untuk belajar kelompok, tapi paling pas dijadikan tempat tidur siang, karena di situlah ruangan paling sejuk di rumahku (AC-nya paling banter kali ya?)

Kamar adikku. Ckckck, poster pemain bola (mungkin ada pembalap juga ya?) menutupi dinding-dinding kamar adikku. Sudahlah, langsung ke kamarku saja.

Hmm… ini dia teman setiaku. Tempatku belajar sampai larut malam, tempatku melampiaskan amarahku, perasaan stress dan depresi, ataupun sedih dan tangisku. Seandainya kamarku hidup, maka ia pastilah sahabat terdekatku. Ia tahu di saat orang lain tidak tahu. Bahkan mungkin ia tahu di saat aku tidak tahu (misalnya waktu tidur aku mengigau apa gitu, hehe). Bisa kulihat meja belajar yang telah menemaniku belajar sejak SD (sampai sekarang, aku benar-benar butuh meja untuk belajar atau mengerjakan tugas, karena kebiasaan), membantu menuntunku hingga seperti sekarang ini. Cermin di kamar, yang kutempeli stiker-stiker aneh hadiah dari kotak susu bubuk. Lemari baju, yang isinya tinggal sedikit. Juga lemari buku, tempat buku-buku pelajaranku dari masa SD dulu hingga barang-barang berharga sampai yang nggak penting sama sekali tersimpan di sana. Betapa aku rindu membongkar isinya untuk sekedar melihat-lihat dan mengenang kenapa benda itu ada di sana. Dan dinding, yang kuhiasi dengan poster-poster film ataupun tokoh favoritku.

Aku keluar kembali ke ruang tengah, ke rak buku. Kulihat-lihat koleksi buku-buku favoritku. Sejenak. Dan perasaan aneh yang sejak tadi kurasakan hadir kembali : ke mana perginya semua orang? Dan ya, aku tersentak, terbangun. Ternyata aku bermimpi…

Betapa aku merindukan tempat itu…

Iklan

**Silakan Berkomentar~! ^.^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s