Arsip | uncategorized RSS for this section

Kuliah Hari Ini

saya menyesal :(

Kuliah Hari Ini.

 

reposting dari Fiqih :)

Niat Saja, Apa Cukup?

Ada hal yang lebih patut diperjuangkan daripada sekedar berhati baik. Apa itu? Merealisasikan hati baik itu ke dalam perbuatan. Bagaimana menurutmu?

Ini sepenggal percakapan saya dengan seseorang hari ini…

 “Menurutmu, orang yang baik itu yang seperti apa sih?”

“Emm yang nggak ngebohongin dirinya sendiri..”

 “Itu aja?”

“Hehe gak tau apa lagi..”

 “Terus kalau ada seseorang yang pengen bersenang-senang di tempat prostitusi, lalu dia benar-benar pergi ke sana karena nggak pengen membohongi dirinya sendiri, itu termasuk orang baik menurut definisimu?”

“Ya itu kesenangan orang lain. Dan pasti tiap orang punya privasi yang nggak akan diceritakan ke orang lain. Semua ada batasannya. Yang penting nggak membohongi diri sendiri.”

“Hehe, pertanyaan saya cukup sederhana kok, apa orang tadi termasuk baik?”

“Nggak tau juga, karena kita nggak tau dasar hatinya.”

Baca Lanjutannya…

Suka Tidak Suka, Akal Kita Ada Batasnya

Pernahkah kalian bertanya, sebenarnya apakah kita ini, dan dari manakah kita berasal? Saya pernah. Seringkali malahan. Ketika sampai pada suatu titik, mau tidak mau saya harus menerima kenyataan bahwa saya harus memiliki sebab keberadaan. Terlebih, tidak hanya saya, segala sesuatu harus memiliki sebab keberadaan, karena segala sesuatu terikat oleh hukum kausalitas. Dan dalam keyakinan saya, penyebab segala sesuatunya itu adalah Tuhan.

******

Dulu, Septia kecil pernah menanyakan hal yang kurang lebih sama. Septia kecil yang waktu itu duduk di bangku kelas 3 atau 4 sekolah dasar, baru saja membaca tentang Big Bang, salah satu teori permulaan alam semesta dari buku astronomi bergambar yang dibelikan ayahnya. Septia kecil pergi madrasah (sebutan untuk pengajian sore yang diikutinya) sambil masih berkhayal-khayal tentang Big Bang.

Baca Lanjutannya…

Kisah 5 Perkara Aneh

Abu Laits as-Samarqandi adalah seorang ahli fiqh yang masyur. Suatu ketika dia pernah berkata, ayahku menceritakan bahawa antara Nabi-nabi yang bukan Rasul ada menerima wahyu dalam bentuk mimpi dan ada yang hanya mendengar suara. Maka salah seorang Nabi yang menerima wahyu melalui mimpi itu, pada suatu malam bermimpi diperintahkan yang berbunyi, “Esok engkau dikehendaki keluar dari rumah pada waktu pagi menghala ke barat. Engkau dikehendaki berbuat. pertama; apa yang engkau lihat (hadapi) maka makanlah, kedua; engkau sembunyikan, ketiga; engkau terimalah, keempat; jangan engkau putuskan harapan, yang kelima; larilah engkau daripadanya.”

Pada keesokan harinya, Nabi itu pun keluar dari rumahnya menuju ke barat Baca Lanjutannya…