Pertama Kali
Hmm mungkin karena sekarang saya sedang di rumah ya, makanya bawaan hati pengen buka-buka kenangan terus, hehehe. Akhirnya waktu tidur siang saya hari ini tergantikan oleh mengenang pengalaman pertama selama saya hidup sampai sekarang. Apa aja? Ini diaa…
- Pertama kali saya belajar sepeda motor adalah saat kelas 2 SMP bersama ayah saya, karena saat itu saya telah mulai ikut kegiatan ekstrakurikuler ini-itu dan orangtua saya merasa terlalu repot jika harus mengantar-jemput saya setiap saat. Di hari pertama saja, saya terjatuh enam kali dan ke semuanya gara-gara saya belum mahir dalam hal pengereman :p
- Pertama kalinya bolos sekolah adalah waktu kelas 3 SD karena merasa sebal didiskriminasikan oleh guru saya. Saat jam istirahat, saya melempar tas melalui jendela, kemudian mengendap-ngendap lewat pintu belakang sekolah, mampir ke mini market untuk membeli coklat dan permen, lalu duduk di bawah pohon beringin di atas bukit (nama bukitnya, bukit tangga seribu – padahal jumlah tangganya ya nggak sampe seribu hehe)
- Baca Lanjutannya…
Temannya Rara
Hari itu aku latihan basket di tempat yang tidak biasa. Pelatih membawa tim sekolah kami untuk bertanding melawan tim basket senior kota di gedung olahraga tepat di sebelah pusat perbelanjaan termashyur kota kami. Yah, satu-satunya pusat perbelanjaan modern di kotaku yang terbilang terpencil, sebenarnya.
Pertandingan yang memang direncanakan sebagai latihan menjelang kompetisi basket tahunan tingkat pelajar itu berjalan dengan sangat memuaskan. Perkembangan personal anggota tim sangat pesat, dan itu semua didukung oleh kerja sama yang baik. Kami kompak. Jika tahun lalu kami hanya bisa meraih peringkat ketiga provinsi, maka kali ini kami harus berhasil maju ke tingkat nasional.
Pertandingan usai. Pelatih mengatakan aku melakukan tugasku dengan sangat baik sebagai point guard kali ini, dan beliau berharap begitu pula seterusnya. Tidak seperti biasanya, beliau memujiku hari ini. Aku senang sekali.
Selesai latihan, Intan dan Rara, teman sekelas sekaligus satu timku, mengajak untuk jalan-jalan ke mall sebelah. Refreshing, katanya. Aku tidak biasa jalan-jalan ke mall, dan hari itu aku terbilang cukup canggung. Kami hanya berputar-putar saja. Benar-benar hanya jalan-jalan, lugas sekali.
Ketika Intan dan Rara sedang sibuk melihat deretan baju, mataku menangkap sebuah benda yang indah. Saputangan cokelat. Ada motif garis-garisnya, ada sulamannya juga. Saat berikutnya, aku hanya mengingat telah membawa kantong berisi saputangan itu dengan menyisakan uang secukupnya untuk pulang. Kemudian aku tersadar, Intan dan Rara sudah tidak di sana.
Gerhana
Tidak ada yang berbeda dari biasanya. Setelah mengenakan seragam merah-putih dan sarapan nasi goreng telur dadar, aku melangkah keluar. Pagi itu mendung. Angin berhembus kencang. Seperti biasanya, setelah keluar dari halaman rumah, aku mulai menghitung langkah kakiku ke sekolah. Satu. Dua. Tiga. Empat. Lima. Enam…
Pada langkahku yang ke-78, aku terhenti, menahan agar rokku tidak tersibak angin yang tiba-tiba berhembus. Kencang sekali. Masih dalam diam, aku menengadah. Langit gelap sekali. Sepertinya akan turun hujan yang sangat lebat. Lihat, bahkan matahari saja belum kelihatan. Padahal sekarang sudah jam… Ah, aku kan tidak punya jam tangan.
Pada langkah ke-129, aku sampai di gerbang. Sebelum masuk ke gedung, seperti biasa aku akan menoleh ke arah timur, memandang matahari. Tapi ada yang berbeda hari ini. Tidak ada matahari. Yang ada hanyalah bola jingga kemerahan yang dikelilingi awan kelabu pekat. Lagipula, bola itu tidak sepenuhnya bundar. Ada bayangan hitam yang seolah memakannya. Aku terkesiap. Ayah, aku melihat gerhana!
Tujuh Tahun Lalu
Saat ini, tujuh tahun lalu, aku sedang bingung menatap jalan-jalan yang retak, tanah yang merekah, dengan mata yang masih basah oleh air mata keterkejutan. Perabot-perabot rumahku yang pecah berantakan. Pohon-pohon tumbang. Sinyal komunikasi dan saluran televisi yang terputus. Dan kesunyian yang mencekam.
Dua jam sebelumnya, aku yang masih duduk di kelas 2 SMP sedang asyik-asyiknya menonton Doraemon dan berbagai film kartun di hari Minggu lainnya. Tanpa firasat. Dan semua terjadi begitu saja. Delapan-koma-sembilan skala richter.
Aneh, aku masih ingat guncangannya. Aku masih ingat sensasinya. Aku masih ingat gelombang kejutnya. Aku masih ingat rasa paniknya. Aku masih ingat teriakan-teriakannya. Aku masih ingat bau menyengat dari mayat-mayat yang dijejerkan begitu saja di sepanjang jalan. Baca Lanjutannya…
Tanahku
Di saat seperti ini, detik ini, menit ini, jam ini, aku tidak suka berada di kota ini. Seandainya aku berada di kotaku, kota kelahiranku, aku tinggal memacu kendaraanku dan tidak sampai lima belas menit, aku sudah akan sampai di tempat-tempat yang aku inginkan ada sekarang ini – tanah lapang tempat landasan helikopter, bukit kecil di hutan belakang rumah dekat tandon, tangga bukit pole, pohon beringin di bukit tangga seribu, bukit tarakan dekat tanki besar (heran, betapa banyak bukit di sekitar rumahku), di depan danau, jalanan balikpapan yang sepi, atau aku tinggal ke rumah lamaku di cilacap – dan aku bisa bebas berteriak semauku tanpa sungkan ada yang mendengar atau pun malu, untuk kemudian berjongkok dan menunduk sambil menangis tanpa perlu dipergoki siapa pun. Ya, tempat-tempat yang tidak akan kutemui di kota besar ini. Di Surabaya ini. Aku harus bersabar dengan pergi ke beranda untuk sekedar mengeringkan bekas-bekas tangis di pipiku oleh hembusan angin. Dan ya, aku harus bisa memuaskan diri dengan kamarku, dan guling untuk meredam geramanku alih-alih teriak, juga tangisku agar tidak terdengar tetangga kamar sebelah. Baca Lanjutannya…
38 Ksatria di Momen AMT 2010
Hari ini hari pertama liburan. Waktu beres-beres kamar tadi, aku nemu beberapa dokumen lama. Dokumen acara AMT setahun lalu. Achievement Motivation Training (AMT) adalah program kerja tahunan yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Fisika Universitas Airlangga. Kali ini, ada cerita mengalir begitu saja melalui jari-jariku teriring senyum. Ini dia kisahku dan kisah kami selama AMT.
AMT 2010 ‘TORSI’ dilaksanakan pada hari Jum’at – Minggu, 30 April – 2 Mei 2010 di daerah Kondang Merak, Desa Bantur, Kabupaten Malang Selatan. Kepanitiaan dan kepesertaan dipegang oleh arek-arek HIMAFI angkatan 2009, angkatanku. Secara struktural, saat itu aku memegang jabatan sebagai staff sie.kesekretariatan, namun, karena satu dan lain hal, tiga hari menjelang hari H aku ditunjuk sebagai koordinator sie.Acara di lapangan alias eksekutornya. Alasannya satu : karena gak satu pun anak sie. Acara yang hadir, wow!
Singkat cerita, yang berangkat ke lokasi adalah 38 anak angkatan 2009 yang bertugas sebagai panitia sekaligus peserta – belakangan Adip (temanku – red) menyebut arek HIMAFI 2009 yang ikut ini sebagai pasukan 38 spartans (haha, ngikut-ngikut film 300 spartans). Baca Lanjutannya…
Fisika dan Kalkulator
Dulu, waktu aku baru-baru kenal sama yang namanya fisika, aku langsung berpikir kalau dunia yang satu ini hanya dihuni oleh dua hal : rumus dan angka. Yang pertama (rumus) jumlahnya sejuta, dan yang kedua (angka) jumlahnya tak-hingga menyesuaikan poin pertama (rumus). Setiap aku membaca artikel tentang fisika, aku akan menemukan berbagai ukiran aneh-aneh yang belakangan kuketahui sebagai abjad yunani. Setiap kali aku melihat penyelesaian soal fisika, minimal ada 7 angka di belakang koma, dan kesimpulanku cuma satu : aku butuh kalkulator kalau mau berinteraksi dengannya.
Benar saja, begitu aku masuk SMP, aku diwariskan kalkulator keramat ayahku (dan masih aktif kugunakan sampai sekarang). Sejak saat itu, kalkulator sifatnya sama seperti pulpen : tidak pernah tertinggal kubawa ke sekolah, les, dan selalu ada di atas meja belajar di rumah. Kebiasaan ini berlanjut terus sampe aku ikut bimbingan olimpiade waktu kelas 2 SMP. Saat itu, aku merasa aneh ketika melihat semua pertanyaan dalam soal olimpiade (baik waktu SMP maupun SMA) diawali dengan kalimat “tentukan persamaan blablabla” tanpa diketahui koefisien friksinya berapa, massanya berapa, ini berapa, atau itu berapa. Kalkulator? Gak fungsi! ~.~ Baca Lanjutannya…
Dari Mereka Aku Belajar
Dari mereka aku belajar, berbagai nilai dalam hidup. Dari mereka aku belajar…
Suci, darinya aku belajar pengabdian. Darinya aku belajar untuk berlapang dada, melembutkan hati, dan menebarkan kasih sayang kepada siapa saja…
Hanny, darinya aku belajar untuk berpendirian teguh. Darinya aku belajar keluwesan, ketegasan dan juga untuk lebih terbuka – meskipun poin terakhir ini sepertinya belum terlalu berhasil…
Bang Hafizh, darinya aku belajar ketaatan. Darinya aku belajar kebijaksanaan dan semangat bergerak pada jalan yang benar. Darinya aku belajar, bahwa ‘kita pasti bisa!’…
Bang Madi, darinya aku belajar untuk berkepala dingin dalam menghadapi masalah. Untuk bersikap tenang dan tidak terburu-buru, namun tetap menyerang dengan pasti. Darinya aku belajar, bahwa hidup tidak sesulit yang dikhawatirkan, tapi juga tidak semudah yang diangankan…
Ndang, darinya aku belajar kejujuran dan kesabaran. Darinya pula aku belajar agar tidak menahan diri untuk meminta maaf. Darinya aku belajar Baca Lanjutannya…
Yang Kurindu *part III*
Ini dia lanjutan dari Yang Kurindu *part II* yang isinya pengalaman-pengalaman yang paling kuingat selama aku hidup sampai sekarang. Selamat membaca kelanjutannya!
…
Aku ingat 7 tahun yang lalu, kami sekeluarga pulang kampung ke Madiun dengan berbagai macam kendaraan yang ada, mulai dari pesawat, taksi, kapal laut, kereta api, delman, bus, sampai becak (hehe). Aku ingat tempat-tempat wisata yang kami kunjungi. Dufan, candi Borobudur, candi Prambanan, candi-candi lain di sekitar Yogyakarta, terus ke pantai dan gua-gua di Pacitan, ke Tulungagung, Ponorogo, telaga Sarangan, shopping di Surabaya, hmm terus ke mana lagi ya…
Aku ingat 8 tahun yang lalu, saat itulah aku bertemu dengan cinta pertamaku, awal mula sebagian besar kisah sedih dan bahagiaku di masa-masa mendatang. Saat itu juga pertama kali aku Baca Lanjutannya…
Yang Kurindu *part II*
Setahun yang lalu, saat aku baru memasuki bangku perkuliahan di sini, di Surabaya, aku masih ingat, betapa rapuhnya aku saat itu. Dengan bodohnya, aku menyesali pilihanku dan aku ingin kuliah di Lhokseumawe saja! Ya, seperti itulah! Hanya karena saat itu aku sakit-sakitan, ditambah beratnya ospek yang (bagiku) nggak tanggung-tanggung, pikiran-pikiran bodoh seperti itu cepat sekali merasuk. Betapa mudah aku melupakan sulitnya perjuangan mendapatkan satu bangku saja. Meski berat, meski menyedihkan, meski memalukan, aku rindu saat-saat itu…
Aku ingat 2 tahun yang lalu, saat kami sekeluarga (kecuali ayahku yang sedang bekerja shift malam) keracunan makanan padahal hari itu aku Baca Lanjutannya…





ekspedisi pembaca