Berantakan

Tidak semua jalan harus kita tempuh dengan berlari. Mungkin kita harus berhenti—atau dipaksa berhenti. – Fahd Djibran

Kultur saya mati. Iya, mati. Kultur sel kanker kulit tipe ATCC M-19 berusia tiga minggu dua hari yang akan saya gunakan sebagai satu-satunya sampel penelitian saya. Iya. Satu-satunya.

Kalo mati ya tinggal ditumbuhkan lagi kan ya. Tinggal menunggu dua-tiga minggu sampai kultur itu siap dipanen. Menunggu dua-tiga minggu, ah, kecil. Saya pernah tidak pulang ke rumah selama dua tahun lebih.

Baca lebih lanjut

Pascal #2

Jadi ceritanya, Pascal #2 ini berisi penjelasan sejelas-jelasnya terhadap pertanyaan “Loh, Septi kok udah balik? Skripsinya gimana?” – atau dengan kata lain, mengapa saya yang seharusnya berada di Kota Pelajar selama kurang lebih dua minggu, harus menyerah dan kembali ke Kota Pahlawan hanya setelah dua hari di sana….

Jum’at, 17 Mei 2013

Hari ini seharusnya saya menjalani pelatihan pra-penelitian di LPPT UGM Unit I. Sekilas mendeskripsikan, LPTT UGM (Lembaga Penelitian dan Pengujian Terpadu Universitas Gadjah Mada) ini berlokasi di Jalan Kaliurang Kampus Sekip Utara UGM Yogyakarta. Tepatnya, pelatihan dan penelitian saya akan berlokasi di LPTT Unit I, dekat dengan Gedung Perpustakaan, dan Fakultas Kedokteran UGM.

Baca lebih lanjut

Pascal #1

Terlalu banyak yang ingin saya tuangkan ke dalam dua-tiga halaman tulisan. Bahkan sepertinya frasa-frasa seperti aku marah, gundah-gulana, diterpa kecewa, belum cukup deskriptif untuk mendeskripsikan; tak juga persuasif untuk membujuk anda, yang membaca, turut tenggelam dalam emosi yang saya rasa.

Jadi rencananya, hari Kamis tanggal 16 Mei pukul 13.45 saya dan rombongan berencana naik kereta Sri Tanjung dari stasiun Surabaya Gubeng dengan tujuan stasiun Lempuyangan Yogyakarta. Barang bawaan adalah dua ransel, satu tas bepergian, dan satu box ukuran 60 liter yang berisi setup laser untuk penelitian di LPPT UGM Yogyakarta.

07.00 – 11.00 Kuliah dan bimbingan skripsi seperti biasa, sarapan dengan hati deg-deg-an, lalu pulang dan menggoreng chicken nugget untuk bekal dengan riang.

Baca lebih lanjut

Dialogo

T : “Kau tau, S. Ujian itu tidak diperuntukkan untuk menilai seberapa keras seseorang berusaha, namun seberapa jauh kemampuannya. Nilai A, tidak dihadiahkan bagi mereka yang bekerja paling keras, tapi untuk mereka yang memiliki kapabilitas.”

S : “Antara kerja keras dan kapabilitas ada hubungan kausalitas. Kesuksesan terdiri dari 99% kerja keras dan 1% kecerdasan, keberuntungan, gifted, atau apalah itu.”

T : “Memang, tapi kerja keras harus didukung oleh metode yang tepat untuk mencapai kapabilitas yang baik. Berapa banyak yang menghabiskan waktu lebih lama namun memperoleh lebih sedikit?”

S : “Maksudmu yang harus aku perbaiki adalah metode, begitu? Untuk mencapai kualitas di atas kuantitas waktu belajar?”

Baca lebih lanjut

Fisika Eksperimental – Percobaan Franck-Hertz

LAPORAN PRAKTIKUM FISIKA EKSPERIMENTAL

PERCOBAAN FRANCK-HERTZ

ABSTRAK

            Percobaan Franck-Hertz bertujuan untuk membuktikan bahwa energi eksitasi elektron atom itu terkuantisasi serta untuk menentukan nilai energi eksitasi atom Neon dan panjang gelombang foton yang dipancarkan. Berdasarkan literatur, nilai energi eksitasi atom Neon berkisar antara 18,3 – 19,5 Volt. Melalui percobaan ini diperoleh nilai energi eksitasi atom Neon sebesar  dan panjang gelombang foton yang dipancarkan bernilai . Pada saat elektron terkuantisasi (berpindah ke tingkat energi yang lebih rendah) maka elektron tersebut akan memencarkan energi berupa foton dengan panjang gelombang tertentu. Panjang gelombang dari foton tersebut bergantung dari nilai energi eksitasi dari atom tersebut.

Baca lebih lanjut

Fisika Eksperimental – Percobaan e/m Elektron

LAPORAN PRAKTIKUM FISIKA EKSPERIMENTAL

PERCOBAAN e/m ELEKTRON

ABSTRAK

            Percobaan e/m elektron dirancang untuk mengetahui sifat-sifat medan magnet yang ditimbulkan oleh kumparan Helmholtz sekaligus untuk menentukan nilai e/m elektron. Kumparan Helmholtz digunakan agar medan magnet yang dihasilkan seragam. Berdasarkan pengamatan, diketahui bahwa diameter lintasan elektron berbanding terbalik dengan arus listrik, semakin besar arus yang diberikan, maka diameter elektron semakin kecil. Sebaliknya, diameter elektron sebanding dengan tegangan, semakin besar tegangan yang diberikan, maka diameter elektron akan semakin besar pula. Berdasarkan analisis data pengamatan, diperoleh nilai e/m elektron sebesar   dengan persentase kesalahan 5,47% dari literatur.

Baca lebih lanjut

Fisika Eksperimental – Percobaan Milikan

LAPORAN PRAKTIKUM FISIKA EKSPERIMENTAL

PERCOBAAN MILIKAN

ABSTRAK

Percobaan Milikan dirancang untuk mengukur muatan listrik elektron dengan menyeimbangkan gaya gravitasi dan gaya listrik pada suatu tetes kecil minyak yang berada antara dua buah elektroda. Melalui eksperimen ini terbukti bahwa muatan elektron terkuantisasi secara diskrit, sebesar 1,602.10-19 Coulomb berdasarkan literatur. Pengambilan data pada praktikum ini termasuk sulit, terutama karena tingkat kecerahan citra mikroskop yang buram sehingga menyebabkan mata pengamat cepat lelah. Berdasarkan pengamatan, pada tegangan 260 Volt tetes minyak berada dalam keadaan setimbang, sedangkan pada tegangan 520 Volt, tetes minyak berada pada keadaan dinamis. Tetes minyak dapat bergerak ketika diberikan tegangan karena tetes minyak mengandung muatan akibat listrik statis karena adanya gesekan. Melalui analisis data dengan metode dinamis, diperoleh nilai muatan elektron q sebesar (1,63±0,187).10-19 Coulomb, sedangkan dengan metode kesetimbangan sebesar (3,895±0,079).10-21 Coulomb sehingga dapat disimpulkan bahwa pengukuran muatan elektron dengan menggunakan metode dinamis memberikan hasil yang lebih akurat daripada dengan metode kesetimbangan. Ketidaktelitian ini dapat disebabkan oleh ketidakakuratan praktikan dalam melakukan pengambilan data.

Baca lebih lanjut

Fisika Eksperimental – Percobaan Efek Foto Listrik

LAPORAN PRAKTIKUM FISIKA EKSPERIMENTAL

PERCOBAAN EFEK FOTO LISTRIK

ABSTRAK

            Percobaan efek fotolistrik dirancang untuk menentukan nilai fungsi kerja sel foto, konstanta Planck, dan tenaga kinetik maksimum fotoelektron. Melalui percobaan ini diperoleh nilai tetapan Planck sebesar 6,63.10-34 J.s berdasarkan literatur. Pada praktikum kali ini praktikan mengambil sampel tiga panjang gelombang, yaitu 5769.59 Å, 5460.74 Å, dan 4347.50 Å. Berdasarkan analisis data hasil pengamatan, diperoleh nilai fungsi kerja sel foto sebesar 1,0502.10-19 Watt dan nilai tetapan Planck 3,9078.10-34 J.s, dengan perbedaan sekitar 41% dibandingkan literatur. Perbedaan nilai yang cukup jauh ini kemungkinan disebabkan oleh alat percobaan fotoelektron yang kurang hampa sehingga masih terdapat molekul-molekul udara di dalamnya yang memungkinkan elektron kehilangan energinya karena bertumbukan dengan molekul-molekul tersebut sehingga pada saat elektron sampai pada potensial penghalang energinya telah berkurang dan juga faktor ketidaktelitian praktikan dalam mengambil data. Melalui percobaan fotolistrik dapat pula diketahui bahwa laju pemancaran elektron dipengaruhi oleh intensitas cahaya namun tidak terpengaruh oleh panjang gelombang cahaya yang digunakan. Energi kinetik maksimum fotoelektron juga tidak tergantung intensitas cahaya, namun hanya bergantung pada panjang gelombangnya, dengan frekuensi dan energi kinetik berhubungan secara linear.

Baca lebih lanjut

KHS Semester IV

Minggu menjelang pengambilan KHS semester ini bener-bener bikin deg-deg-an. Gimana nggak, sejak pengumuman nilai secara online seminggu lalu, deretan huruf-huruf simbol hasil belajar satu semester ini belum ada yang bener-bener memuaskan buatku. Dan yang paling membuat aku shock adalah, huruf D yang nampang untuk pertama kalinya selama aku duduk di bangku kuliah dua tahun ini buat matkul elektro digital (yeahh sekarang jadi elektro Degital -______-). Tapi, tak disangka tak dinyana, malam ini keluar nilai matkul terakhirku yang menjadi penentu IP semester ini : fismat.

Mulanya aku sempat khawatir dan udah hampir putus asa, untuk mendapat IPS (indeks prestasi semester) tigakomasekian, nilai fismatku haruslah A, dan aku tidak banyak berharap untuk itu. Aku pikir, paling banter juga paling-paling B. Baca lebih lanjut

Profesor Seenak Dewa

Izinkan saya bercerita tentang fenomena dosen di kampus saya yang bergelar profesor. Mungkin ini cerita yang biasa-biasa saja, tapi sumpah, saya sangat sebal karenanya.

Hari ini seharusnya saya ada UAS Fisika Kedokteran jam 7 pagi. Sebelum jarum jam nunjuk angka 7 pun, mahasiswa udah pada siap di ruang ujian. Ada yang lagi belajar sendiri, diskusi, atau sekedar ngobrol ama temen sebelah. Saya sendiri nunggu Bu Dosen Modis sambil baca-baca Fisika Tubuh Manusia-nya Cameron. Menit demi menit berlalu, dan si Bu Dosen nggak nongol-nongol. Rasanya lamaaa banget.

Sampe akhirnya jam setengah delapan salah satu mahasiswa ngecek di ruang dosen sampe muter-muter ke ruang departemen. Dan sosok yang dicari, tidak ditemui di mana pun. Alhasil, jam delapan lebih lima menit, salah seorang perwakilan mahasiswa menelepon kontak ibu tersebut dan beginilah kira-kira percakapan yang terjadi…

Mahasiswa : Bu, sekarang ada UAS Fisdok jam ke 1-2. [dengan nada sesopan mungkin]
Profesor : Lho, hari ini ya ujiannya? Bukannya Rabu? [jdeerrr, padahal udah jelas-jelas Rabu kemarin libur nasional Isra’ Mi’raj]
Profesor : Wah saya lupa. [tuhkan lupa, kenapa gak ngaku dari awal]
Profesor : Yasudah, kalian cari pengganti di hari lain saja. [!@#$%*&&$%$!!!]

Akhirnya, mahasiswa sekelas yang udah emosi karena alasan klasik ‘lupa’ itu, pada berencana untuk ‘gantian mahasiswanya yang lupa’ meskipun nggak mungkin juga rencana itu bakal dijalankan. Baca lebih lanjut