Arsip | science world RSS for this section

Tuhan Telah Lama Pergi dari Afrika

Masih berkaitan dengan postingan saya sebelumnya tentang intervensi Tuhan, saya menulis postingan ini karena request dari salah seorang pembaca untuk mengulas salah satu quote yang diucapkan oleh Leonardo Di Caprio dalam film Blood Diamond.

Sedikit bercerita tentang film-nya ya (buat yang udah pernah nonton, silakan meloncati paragraf ini) hehe… Blood Diamond berisi tentang perburuan berlian Afrika dan pemberontakan yang terjadi di sana (saya lupa negaranya apa, yang pasti di Afrika). Di sana, penduduk pribumi dihantui teror pembinasaan yang dilakukan oleh kelompok pemberontak yang tidak segan-segan memusnahkan satu desa. Bagi laki-laki yang dianggap mampu bekerja sebagai buruh pencari berlian, mereka akan lolos dari pemotongan tangan hidup-hidup. Sisanya? Para wanita diperkosa lalu dibunuh, yang lainnya dipenggal, kepalanya dijadikan bola sepak, dan mayatnya ditumpuk begitu saja. Berlian-berlian dari negara konflik merupakan berlian ilegal yang sebenarnya dilarang beredar di pasaran, namun lolos begitu saja dan dijadikan alat tukar pasokan senjata bagi kaum pemberontak. Nah, Blood Diamond ini bercerita tentang berlian merah seukuran telur bebek yang tidak sengaja ditemukan oleh seorang buruh berlian (sebelum tertangkap, ia adalah seorang nelayan) kulit hitam lalu dikuburnya untuk disembunyikan. Danny Archer (Leonardo Di Caprio) menginginkan berlian itu sebagai gantinya ia berjanji akan membebaskan anak laki-laki si kulit hitam yang dijadikan tentara pemberontak. Baca Lanjutannya…

Intervensi Tuhan, Adakah?

Sekedar corat-coret ocehan hati yang tidak (sempat) tertampung (baca : disuarakan) ketika kuliah Agama Islam II siang ini. Materi diskusi hari ini cukup menarik ya (bagi saya tentunya), yaitu tentang penciptaan manusia (dan sedikit alam semesta) menurut sains dan Alquran, dan jadi semakin seru saja ketika telah masuk ke sesi diskusi.

Ada nggak sih, intervensi Tuhan dalam penciptaan alam semesta dan juga manusia?

Pasti ada. Dalam penciptaan alam semesta, misalnya. Silakan menjadi penganut teori Big Bang, atau boleh saja setuju dengan pandangan Hawking soal ini (kalau ingin tau teori Stephen Hawking tentang penciptaan, silakan baca bukunya yang berjudul The Grand Design). Teori Big Bang (ringkasnya) mengemukakan kalau alam semesta yang sebesar ini (saya juga tidak bisa membayangkan sebesar apa) bermula dari sebuah titik kecil yang amat sangat mampat oleh materi. Titik kecil ini kemudian meledak (makanya disebut teori Big Bang – atau ledakan besar) dan dalam sekejap saja mengembang menjadi alam semesta purba. Coba dibayangkan seperti bom yang meledak dan melontarkan massa ke mana-mana. Alam semesta ini mengembang dalam kecepatan yang luar biasa besar, sambil mengalami pendinginan, penyatuan ‘puing-puing’ ledakan yang nantinya akan menjadi komponen-komponen alam semesta, seperti bintang, planet, satelit, dan lain-lain.

Baca Lanjutannya…

Pengaruh Jangka Panjang Space Travel pada Tubuh Manusia

Artikel ini sebenarnya bermula dari perbincangan saya bersama salah seorang teman sekelas saya, Rangga, tentang pergi ke planet yang jauh, Pluto misalnya. Ada sebuah kalimat darinya yang begitu menyentak saya, “Embrio kan gak bisa berkembang kalau gak ada gravitasi, Sep. Jadi otomatis kita gak bisa punya keturunan, sedangkan bla bla bla…” oke, saya baru tau (benar-benar baru tau) kalau embrio butuh gravitasi untuk berkembang. Berawal dari itulah, perbincangan kita berlanjut ke hidup dalam lingkungan tanpa gravitasi di ruang angkasa. Karena merasa masih belum puas dan penasaran itulah, saya langsung googling selama beberapa hari dan saya dibuat ternganga oleh informasi yang saya dapat. Selama ini saya hanya memikirkan masalah space travel (penjelajahan ruang angkasa) dari sudut pandang fisikanya saja (tentang pesawat yang harus mampu bergerak mendekati kecepatan cahaya, ketersediaan energi yang tak-terbatas, dilatasi ruang-waktu, dan wah masih banyak lagi yang lain) tapi ternyata ada efek biologis yang juga menjadi hambatan bagi kita (manusia) untuk bereksplorasi di lingkungan tanpa gravitasi dalam jangka waktu yang lama. Pengen tau? Monggo dibaca..

Baca Lanjutannya…

Bagaimana Jika Tidak Ada Gravitasi di Bumi?

Gravitasi adalah salah satu hal yang benar-benar kita butuhkan secara mutlak. Dan ada dua hal tentang gravitasi yang tidak dapat kita pungkiri : kenyataan bahwa ia selalu ada, dan fakta bahwa hal itu tidak pernah berubah. Jika gravitasi bumi (pernah) berubah secara signifikan, hal itu akan memiliki pengaruh yang sangat besar pada hampir segala hal karena begitu banyak hal yang dirancang di bumi ini berada pada pengaruh gravitasi.

Sebelum melihat perubahan pada gravitasi, akan sangat membantu jika kita memahami apa itu gravitasi. Gravitasi adalah gaya tarik antara dua atom. Misalkan saja Anda mengambil dua bola golf dan menempatkannya di atas meja. Akan ada daya tarik gravitasi yang sangat kecil antara atom-atom pada kedua bola golf. Jika Anda memiliki dua potong besar timah dan beberapa instrumen yang luar biasa tepat, Anda akan dapat mengukur daya tarik yang sangat kecil antara mereka. Hal ini hanya bila Anda mendapatkan nomor atom yang sangat besar (massa masif), seperti dalam kasus planet bumi, bahwa gaya tarik gravitasinya sangat signifikan.

Baca Lanjutannya…

Apa itu Gravitasi?

Kartun Road Runner yang bermain cepat dan bebas dengan gravitasi. Diberi kesempatan, Wile E. Coyote biasanya mengejar cepat kaki musuhnya dari tepi tebing, hanya merosot ketika ia menyadari ia berjalan di udara tipis. Tak perlu dikatakan, gravitasi tidak bekerja seperti ini dalam kehidupan nyata. Tapi apa yang terjadi ketika batu-batu atau landasan Acme menurun ke bumi? Mari mulai dengan kaki kita dan perlahan penjelasan kita akan mengarah ke seluruh alam semesta. Ambil kursi sebagai contoh, karena akan menghabiskan seluruh halaman untuk menjelaskan.

Gravitasi memegang kaki kita ke tanah karena massa planet memberikan sebuah gaya tarik gravitasi pada massa tubuh kita. Bahkan, gravitasi membangkitkan daya tarik antara dua benda di alam semesta: bulan, debu, partikel – apapun yang kita ambil sebagai contoh. Di mana pun kita menemukan materi, kita akan menemukan gravitasi. Kita tidak pernah bisa melakukan perjalanan ke sebuah planet bebas gravitasi – planet dengan massa yang lebih besar atau lebih kecil hanya akan memberikan gravitasi yang lebih besar atau lebih kecil.

Baca Lanjutannya…

Be Yourself??? Kayaknya Perlu Dikoreksi Lagi deh…

Sering saya (dan kita) mendengar kata-kata be yourself atau always be yourself – entah itu di komik, novel, film, iklan, atau bahkan motto hidup seseorang karena memang banyak yang menggunakannya. Namun, benarkah?

Ketika (sebut saja aku) berkata be yourself untuk diriku sendiri, apakah aku sudah benar-benar mengenal diriku? Dan apa alasanku berkata seperti itu, bahkan sampai dijadikan motto hidup?

Menurut saya, lagi-lagi sekedar pendapat saya, sebelum berkata be yourself dan sanak-saudaranya, yang perlu kita tanamkan pertama kali adalah kenali dirimu sendiri dulu. Seperti apa sosok seorang aku? Apa kualitas-kualitas yang aku miliki? Apa kekuranganku? Apa ancaman terbesarku? Dan pertanyaan-pertanyaan mendasar lainnya tentang hakikat diri yang sifatnya filosofis. Kenapa? Karena gak mungkin kan kita moro-moro (tiba-tiba – red) menyuruh untuk menjadi dirimu sendiri sedangkan kita sendiri gak tau seperti apa kita harus menjadi?

Jika kamu adalah seorang yang cengeng dan nekat, diputuskan oleh pacar, mengadu kepada sahabat, lantas sahabatmu memberikan nasehat ini-itu dan ujung-ujungnya ada kalimat ‘udaah, be yourself aja, kamu pasti bisa melalui ini semua kok…’ nah lho, apa yang bakal kamu lakukan? Mau tetap jadi seseorang yang nekatan dan nangisan? Baca Lanjutannya…

Manajemen Konflik dan Ikan Bandeng

“Lihatlah sesuatu secara keseluruhan, jangan hanya berpatokan pada beberapa segmen saja lalu langsung mengambil kesimpulan.”

Postingan ini bersumber dari materi yang saya dapat dari acara Leadership Motivation Training (LMT) 2011 yang diberikan oleh Mas Haris Sunhaji sebagai pemateri ‘Manajemen Konflik’.

Untuk memanage dan mengatasi suatu permasalahan, diperlukan beberapa poin penting dan mendasar untuk menganalisis terlebih dahulu keadaan sekitar baru kemudian mengambil langkah ke depannya. Poin penting itu terbagi menjadi empat dan bisa disingkat menjadi SWOT, yaitu :

  1. Strength (kekuatan)
  2. Weakness (kelemahan)
  3. Opportunity (peluang)
  4. Threat (ancaman)

Beliau memberi contoh melalui kisah seorang anak dan ikan bandeng. Seorang anak merasa tidak suka dan selalu malas ketika ibunya memasak ikan bandeng untuknya karena ia merasa ikan bandeng penuh dengan duri. Suatu ketika, saat ibu dan anak tersebut makan bersama dan menunya adalah ikan bandeng, si anak mengeluh. Sang ibu pun mengerti lalu dengan penuh kesabaran mengambil piring anaknya dan menyuiri daging ikan tersebut, memilah-milah dan memisahkan mana daging, dan mana duri. Setelah selesai, sang ibu berbicara kepada anaknya, Baca Lanjutannya…

Fisika = Rumus? Matematika itu Bahasa!

“Bagi seorang fisikawan, matematika adalah bahasa, bukan ilmu.”

– Pak Soegianto, dosen Mekanika, Pemrograman Komputer, dan Fisika Komputasi saya.

Sebenarnya, saya sudah agak sering mendengar kalimat seperti ini. Kalimat yang menyatakan bahwa matematika adalah bahasa ilmu pengetahuan. Lalu, apa kaitannya dengan fisika?

Saya selalu mengaitkan fisika dengan dua hal : rumus dan angka. Dunia fisika itu dunia sejuta rumus. Benar? Fisika tidak bisa dipisahkan dari rumus. Benar? Yang menyebabkan fisika adalah momok bagi pelajar dan mahapelajar (terutama di Indonesia) adalah karena banyaknya rumus yang mengambang mengerikan dalam akuarium bernama fisika. Tapi, benarkah?

“Rumus sebenarnya adalah penyederhanaan makna dari suatu aspek fisis yang kalau dijabarkan atau pun dicoba dideskripsikan dengan bahasa kita yang biasanya (bahasa indonesia – red) akan sangat rumit dan ribet.” – Pak Herri, dosen Gelombang dan Optika.

Maksudnya? Beliau memberi contoh melalui hukum kedua Newton yang dirumuskan melalui persamaan ΣF=ma. Mari saya jelaskan sedikit mengenai makna fisis dari rumus tersebut (saya harap anda tidak berhenti membaca sampai di sini, hehe)…

Hukum kedua Newton tersebut menjelaskan, bahwa apabila sebuah benda bermassa m Baca Lanjutannya…

Loyalitas dan Totalitas, Apa dan Bagaimana?

Banyak sekali yang berkecamuk dalam pikiranku akhir-akhir ini. Di antaranya ya judul di atas, loyalitas dan totalitas. Antara ujian-tengah-semester, PKM, tugas organisasi, kepanitiaan yang rasanya kok seabrek, juga pengkaderan. Khusus untuk yang terakhir, aku tidak mau terlalu banyak ikut campur tangan. Kenapa? Bukannya aku ingin lari dari tanggung jawab sebagai seorang kakak, tapi karena aku merasa belum mampu dan belum pantas. Lah, lantas kapan mampunya?

Aku sendiri masih mencari jati diri di komunitasku. Ketika pertama kali diperkenalkan tentang komunitas ini (pada waktu ospek departemen tentunya), aku sudah dijejali istilah-istilah seperti loyalitas, totalitas, tanggung jawab, komitmen, konsistensi, konsekuen. Well, buatku yang masih bau kencur saat itu, belasan eksposisi yang mereka paparkan, puluhan argumentasi yang mereka deskripsikan, serta ratusan bahkan ribuan kalimat-kalimat persuasif yang selalu terlontar di setiap pertemuan (ospek) langsung mantul gitu aja (bahkan gak sempat singgah di otak lewat masuk telinga kiri, keluar telinga kanan). Padaku yang masih seumur jagung, celotehan-celotehan seperti itu seperti bualan-bualan tak masuk akal. What the fu*k? Pikirku. Kenapa aku harus melakukan seperti yang mereka katakan? Baca Lanjutannya…

Pengkaderan dalam Botol Racun

Situs jejaring sosial yang (seingatku) mulai popular di tahun 2002-an ini tampaknya mulai memberikan dampak yang sangat serius bagi komunitas kami. Ya, aku berbicara tentang kami, komunitasku, lingkunganku, teman-temanku, dan ya, intinya antara aku dan mereka : kami.

Siapa sih yang tidak mengenal franchise jejaring sosial yang sangat mendunia ini? Layaknya Friendster di jamannya dan juga Twitter, pengguna Facebook berjuta-juta orang banyaknya. Hebatnya lagi, aku belum menemukan anggota komunitasku yang tidak punya akun Facebook.

Oke, cukup kalimat pembukanya, langsung ke pokok permasalahan.

FB, dengan kemampuannya berbagi status masing-masing pengguna, dapat digunakan oleh, dengan, dan untuk bermacam-macam kategori. Bisa berbagi kesenangan, aktivitas, kesedihan, pengalaman, everything! Di mana letak bahayanya? Ketika seseorang mulai mengeluhkan sesuatu yang berkaitan dengan orang lain, di situlah esensi racunnya! Baca Lanjutannya…