Revisi Pertama :D
Hari ini presentasi opmod (Optika Modern – red), materinya adalah proposal skripsi masing-masing. Saya, yang semalam hanya tidur netto dua jam demi menyempurnakan proposal saya yang pada akhirnya juga belum sempurna
mendapat giliran presentasi urutan ketiga. Yang pertama, Mas Alan, dengan spektroskopi serat optiknya untuk mendeteksi kadar logam berat. Yang kedua, Awal, dengan desain serat optiknya untuk mendeteksi kadar pencemaran karbon dioksida di udara. Dan di urutan ketiga, ada saya, dengan spektroskopi autofluoresensi untuk deteksi kanker dini.
Kembali ke hari sebelumnya. Sudah sejak seminggu sebelumnya saya menyelesaikan bab pertama proposal penelitian saya. Ya, soalnya rencana awal adalah presentasi hari Selasa minggu lalu. Entah apa saja yang saya kerjakan selama long weekend kemarin, yang pasti, baru pada hari Minggu pagi menjelang siang lah, saya mulai mengerjakan bab kedua dan ketiga. Tidak tanggung-tanggung, sehari semalam saya alokasikan hanya untuk mengerjakan proposal dan powerpoint-nya, hanya menyisakan dua jam untuk mengerjakan tiga tugas lainnya (dua tugas fisika komputasi, dan satu tugas lab.radiasi). Alhasil, hingga pukul dua pagi dini hari tadi, tidak ada kemajuan pada setup eksperimen dan prosedur penelitian saya karena belum mencari literatur yang cukup. Pukul tiga, saya menyerah
Petik Buah di Kusuma Agrowisata
Liburan kali ini : Kusuma Agrowisata, Batu, Malang. Setelah memastikan mujair goreng + sup ayam tidak akan membuat adik saya kelaparan jika ditinggalkan, saya berangkat pada pukul sepuluh pagi. Tujuan awal : air terjun Coban Rondo, Batu, Malang. Tapi entah apa yang dipikirkan kekasih saya, di tengah perjalanan, ia tiba-tiba menyuruh saya untuk searching di ponsel pintarnya wisata agro yang ada di sekitar Malang. Ah, sudah biasa, dia memang tidak terduga :3
Di Pandaan, kami berhenti untuk membeli makan siang di Warung Santai yang kata kekasih saya enak. Nggak tanggung-tanggung, pengunjungnya bejibun banget sampe dibikin jalan aja susah. Dan begitu ngeliat lauk-pauk yang ada di etalasenya, wuihh warung masakan padang aja kalah! Saya sampe bingung mau milih apa. Ada ayam masak kari, goreng lengkuas, goreng tepung, goreng biasa; ikan bandeng tepung, bandeng kuah merah, pindang tepung, lele goreng, mujair goreng, sama ikan lain yang gatau dimasak apa; ada daging rendang, daging dendeng balado, daging krengsengan; ada udang goreng, udang bumbu, kerang bumbu, cecek bumbu, perkedel kentang, dadar jagung; dan berbagai jenis sayur lain kayak rawon, pecel, dan yang entah-apa-namanya. Pengen ngeborong semuanya! >.<
Tidak Biasanya
Sudah lama sekali tidak posting, ke mana sajakah saya selama ini? Yah, tidak ke mana-mana sih, hanya saja saya merasa disibukkan oleh beberapa hal belakangan ini, hehe boleh dong bergaya sibuk sesekali
#1 Coco Girl
Game fashion ini sukses mengalihkan perhatian saya dari game-game yang saya geluti selama ini. Perlu diperhatikan, saya bukan gamer, dan saya cenderung tidak menyukai game, kecuali game klasik macem harvest moon, crash bandicoot, catur, kakuro, atau the sims dan mystery case files lah yang lebih modern sedikit. Nah, biang keroknya ini Rynda sama Fiqih, semenjak dikenalkan sama Coco Girl awal bulan ini, dapat dipastikan setiap hari saya harus online facebook untuk ngegame, hahah. Game ini biasa aja sih sebenernya, kita ngumpulin uang lewat nyelesaiin puzzle, ngasih rating-rating di majalah fashion, dan uang yang kita dapat buat beli baju. Cewek banget ya. Yaahh, dari sisi mananya game ini klop dengan keseharian saya, saya pun tidak tahu. Maka dengan sedikit ogah saya mengakui, dialah yang bertanggung jawab menyita hampir satu jam saya setiap harinya
Baca Lanjutannya…
Selamat Ulang Tahun
Ia masih saja duduk bersandar pada dinding kamar. Sudah dua puluh enam menit berlalu, namun ia belum beranjak dari atas tempat tidur, tidak melakukan apa-apa. Tidak termenung, tidak membaca, tidak sedang berkirim pesan singkat, hanya duduk saja. Berpikir. Satu-satunya pemecah keheningan hanyalah playlist telepon genggamnya yang memutarkan lagu yang sama berulang kali, serta perdebatan antara hati dan pikirannya yang berusaha keras menerobos keluar sedari tadi.
Ia bingung. Empat menit lagi genaplah setengah jam ia berada dalam dilema untuk mengirimkan pesan singkat itu atau tidak. Padahal tinggal menekan satu tombol saja maka rangkaian kalimat kurang dari seratus enam puluh karakter tersebut akan berubah menjadi pulsa listrik, terbang menumpang pada gelombang elektromagnetik termodulasi dengan kecepatan cahaya, dan tidak sampai dua detik kemudian, akan sampai ke alamat tujuan dalam bentuk rangkaian kalimat seperti yang ia ketikkan, tidak berubah satu huruf pun. Atau, ia bisa saja membatalkannya. Hanya perlu satu tombol yang lain untuk menghapus. Tapi, yah, tidak sesimpel itu.
Ibuku Mungkin Tak Pernah Tau
Aku tidak pernah suka perpisahan. Sensasinya membuatku merasa seperti memergoki suamiku selingkuh sehabis lari maraton : dadaku sesak, perut serasa mencelos dua setengah meter ke belakang, dan gigiku bergemeletuk sakit menahan tangis. Yah, meskipun aku belum pernah tahu rasanya memergoki perselingkuhan sehabis maraton. Dan aku juga belum punya suami…
Baru saja lima belas menit yang lalu aku mengantar ibuku berangkat ke bandara. Lebih tepatnya, hanya mengantar sampai depan kos saja karena tas ibuku yang begitu besar (dan juga berat) menghalangi niatku mengantarkan ibuku sendiri dengan sepeda motor ke bandara. Setengah jam yang lalu, boleh saja aku bersikap santai seperti biasa – tetap tidak banyak bicara, tetap terlihat cuek mengangkat tas besar itu ke bawah (kosku di lantai dua). Boleh saja aku tidak berkata apa-apa tentang ketidaksukaanku akan perpisahan, boleh saja aku tidak mengisyaratkan apa-apa kalau aku tidak ingin ibuku pergi!
Namun sekarang semuanya tumpah… Bendungan itu runtuh. Dan ruahlah semuanya…
Gado-gado
Sudah lama juga saya tidak posting, tidak tau harus menulis apa, lebih tepatnya begitu. Minggu lalu (dan juga minggu ini sebenarnya) menjadi minggu yang tidak biasa buat saya. Tidak ada inspirasi yang mengalir datang. Tidak ada pemikiran-pemikiran kritis terhadap sesuatu hal – padahal lagi panas-panasnya BBM kan?! Lantas mau menulis apa?
Postingan kali ini pun tidak memiliki topik dan arahan yang jelas, hanya seputar kebingungan saya akhir-akhir ini (saya kurang sudi menyebutnya galau -.-) – makanya saya kasih judul gado-gado.
Pertama. Dua minggu ini saya bingung dengan judul proposal (skripsi). Minggu lalu, setelah berkonsultasi dengan dosen, saya mengurungkan niat untuk meneruskan topik awal saya (tentang paparan laser untuk inaktivasi bakteri) – kenapa? Entah, memang sejak awal saya kurang sreg saja, ditambah lagi setelah terbeberkan fakta ini-itu, saya semakin tidak sreg -.-
Alhasil, sebelum long weekend minggu lalu, saya harus pulang kuliah pada hari Kamis sore dengan mengantongi tugas untuk sesegera mungkin menemukan topik baru untuk diposting paling lambat hari Senin. Beruntung, ketika iseng-iseng membaca powerpoint (untuk mata kuliah) spektroskopi hasil download, sepercik ide (ya, sepercik!) menembus tulang tengkorak saya yang keras ini (keras dalam arti sebenarnya maupun tidak
). Singkat cerita, setelah browsing dan baca jurnal sana-sini, saya memutuskannya : deteksi kanker dengan fluoresensi. Keren kan ya? Hahaha. Jujur, saya jatuh cinta sekali dengan yang ini
Bingung Provider dan Expired
Apa hubungannya provider sama expired? Yah, gak ada sih… Cuma pengen cerita-cerita aja…
Yang pertama, expired. Segalanya bermula ketika saya sedang beres-beres kamar sore ini (yah, bisa dibayangkan, setelah saya tinggal selama enam minggu, sudah banyak sekali penghuni yang tidak diinginkan ada di sini – dan semalam begitu sampai kos, saya terlalu tepar untuk mengusir segala yang tidak pantas berada di kamar -.-). Nah, ketika sedang beres-beres itulah, saya entah kenapa tertarik untuk melihat-lihat kardus yang isinya susu kiriman ayah saya (merk-nya bear brand, tapi saya biasa menyebutnya susu beruang). Dan kecurigaan saya benar ternyata, pada bagian bawah setiap kaleng tertulis “BEST BEFORE MAR 2012” – dan tidak hanya satu, sekardus isinya persis seperti itu!
Sambil masih terduduk lemas memandangi kaleng susu beruang itu, saya berpikir-pikir. Apa bedanya ya expired sama best before? Apa jangan-jangan keduanya sama-sama memiliki arti kadaluarsa? Kalau memang kadaluarsa, apa memang udah nggak boleh dikonsumsi lagi ya? Atau jangan-jangan masih boleh tapi udah kurang baik, alias mepet sama basi? Kalau memang masih boleh, sampai kapan? Terus kalau memang udah nggak boleh, mau dibawa ke mana empat lusin susu beruang ini? Masa’ harus dibuang?!
Mau dioperasi Apa Enggak?
Kebayang nggak seorang dokter ngebilang kalimat seperti itu?
Jadi gini… Hmm, beberapa hari setelah saya sampai di rumah, saya langsung makan dengan kalap, bahkan ibu saya kaget sekali melihat porsi makan saya sama dengan porsi makan ayah saya. Sekitar minggu kedua saya di rumah, mulai timbul bengkak yang tidak biasa di mata kanan saya. Karena saya mengiranya hanya bintilan biasa, timbilan, atau istilah apalah yang lain, saya tidak ambil pusing – bengkak itu saya biarkan saja, toh juga kecil.
Yang membuat saya agak khawatir adalah setelah tiga hari, empat, lima, enam, bengkak itu tidak juga hilang – bahkan bertambah besar! Akhirnya saya pergi ke rumah sakit : dokter umum. Dokter Ida adalah teman ibu, juga ibu dari temannya Dayah, adik bungsu saya. Dokter Ida mengatakan bahwa itu adalah bintilan biasa karena saya terlalu banyak makan telur katanya. Sebelum memberi resep, beliau melarang saya untuk memakan telur, daging, atau mie agar bintilan itu cepat hilang.
Seminggu kemudian… Baca Lanjutannya…
Pulang ke Tanah Rencong -.-
Kenapa judulnya pake emot seperti itu? Tak lain dan tak bukan karena mencerminkan cerita di dalamnya. Hmm… Perjalanan pulang kali ini terhitung lancar-lancar saja sampai saya tiba di Medan.
Senin, 23 Januari 2012
Saya sudah terbangun sejak shubuh. Mandi, memasak, sarapan, beres-beres kamar, ngecek ulang barang bawaan, nguras bak mandi, mencopot sprei dan menyimpan selimut, cuci piring, lalu siap-siap berangkat. Tak lupa pamit ke ibu kos.
09.10 – Desy menjemput di kosan lalu tancap gas ke Terminal Bus Bungurasih.
09.50 – sampai di terminal, pamitan ama Desy, terus langsung naik Bus Damri khusus Bandara Juanda.
10.03 – bus berangkat, di dalam bus hanya ada tujuh orang termasuk sopir dan saya, satu penumpang turun di halte sidoarjo, bus berhenti sebentar karena pak sopir narikin bayaran ke penumpang.
10.40 – sampai di Juanda, karena jadwal check-in udah dibuka, langsung check-in.
Senangnyaaa :D
Saat menulis ini, saya sedang dilanda euforia dan kesenangan yang luar biasa karena sebentar lagi saya akan pulang ke tanah kelahiran saya : bumi serambi mekkah!
Ceritanya, selama dua bulan ini saya ‘galau’ (baca : dilema) masalah antara pulang atau PKL (praktek kerja lapangan – red). Sekitar tiga bulan lalu, ibu saya pernah berceletuk, “Yaa kalo emang gak ada PKL, pulang aja ya nak…” segera setelah itu saya merasa sedang berada di antara gumpalan awan yang empuk seperti kapas dan berloncatan di sana, yuhuuuu
#errr permisi, emang awan empuk ya?!
Nah, semenjak tiga minggu lalu, ibu saya sudah mulai meributkan masalah liburan saya – khawatir kalau saya jadi pengangguran dan sekarat kebosanan karena gak ada kerjaan sepertinya. Ah saya jadi terharu diperhatikan begitu. Tapi itu semua tidak berlangsung lama. Dari opsi-opsi yang ditawarkan ibu saya, tidak tersamar lagi kemungkinan kalau saya akan pulang! Oh Tuhan… Singkatnya, saya disuruh untuk pulang dan menjaga rumah di Madiun (yang sudah jelas saya akan sendirian), mengisi waktu dengan belajar memasak dan membaca buku (iya sih kelihatannya asik juga, tapi gak mungkin kan selama sebulan begitu terus?!) dan pergi rekreasi di sekitar sini aja (bayangan ibu saya, Jawa Timur itu banyak sekali tempat wisatanya, dan memang bener sih, tapi kan gak mungkin saya menjelajahi semuanya selama liburan, mana uangnyaaaa).
Puncaknya adalah seminggu ini. Saya merasa frustasi sekali karena tidak diminta untuk pulang. Baca Lanjutannya…





ekspedisi pembaca