Nama Jepangku
Iseng-iseng blogwalking di tengah malem ini, sampailah aku di halaman Tentang Saya dari Asop dan entah kenapa jadi tertarik sama frasa yang ada di sana : nama jepang.
Menurut situs ini, nama jepangku adalah :
Sata Komatsuzaki
Sayangnya situs itu tidak mencantumkan makna dari nama tersebut. Dan setelah googling-googling pun, aku tidak berhasil menemukannya (sudahlah, udah malem jugak, hehe)
Sedangkan menurut situs yang lain lagi, nama jepangku adalah :
佐藤 Saitou (helpful wisteria) 美保 Miho (sustain beauty)
Tanpa meng-anaktiri-kan salah satunya, terang saja aku lebih menyukai yang kedua. Saitou Miho. Selain karena ada maknanya (dan bagus pula!), nama itu juga tidak asing lagi di telingaku, dan dari komik Jepang yang saya baca juga film-film dari negeri Sakura itu, nama itu emang mengindikasikan nama seorang cewek. Yeahh!
Saitou >> terdiri dari dua kata, yaitu helpful dan wisteria. Helpful artinya suka menolong, berguna, atau bermanfaat. Sedangkan wisteria ini yang agak mbingungin. Menurut salah satu sumber, wisteria merupakan salah satu jenis bunga vine dari genus Wisteria. Apa lagi vine itu? Menurut sumber yang sama, vine itu adalah sejenis tanaman menjalar berbatang lunak yang menghasilkan buah anggur. Oke, singkatnya, wisteria itu bunga!
Miho >> terdiri dari dua kata, yaitu sustain dan beauty. Kalo diartiin satu-persatu malah aneh, jadi langsung aja gabungan dari keduanya (versi Google Translate) : mempertahankan kecantikan (lho, sama anehnya ya?)
Intinya yaa biar enak didengar, gampang dicerna, juga mudah ditelan (#apasih -.-) Saitou Miho artinya bunga cantik yang bermanfaat (mohon maaf, terjemahan versi penulis ini sedikit maksa)
Ngomong-ngomong soal arti nama, jadi inget apa yang sering diucapkan teman-temanku akhir-akhir ini kalo ketemu, “Septia, udah bedakan belum hari ini?” hehe duuh – kalimat itu memiliki dualisme makna (kayak dualisme gelombang-partikel gitu) menurut hasil tangkapanku (emang mancing?). Satunya kuartikan sebagai sindiran sekaligus saran untuk rajin pake bedak kalo keluar atau ngampus, apapun jenis bedaknya, ini berdasarkan saran yang ngomong gitu juga, hehe.
Yang kedua adalah sebagai pujian karena yang nyadar kalau aku gak pernah pake bedak hanyalah orang yang mengamatiku lekat-lekat – dan ya, waktu kalimat itu tercetus untuk pertama kali pun, kondisiku baru bangun dari tidur siang di hima (sekre HIMAFI – red) dan wajahku acak-acakan – kusut, berminyak, plus ada guratan karpet himanya, haha. Agak melambung juga sih waktu dibilangin “Ah, Septia mah pake gak pake bedak sama aja, lha wong kulitnya cerah gitu, mana ketahuan.” katanya Zilda, dan ditimpalin Fiqih, “Gapapa Sep, biasanya mau sampe sore juga tetep kelihatan masih pagi…” – ahahaha langsung telingaku loncat ngelewatin kerudung ke langit-langit SC (student center – red)
Yaahh jadinya ngerasa aneh-tapi-nyata juga setelah tau nama jepangku seperti di atas tapi si empunya pake bedak aja males – ah, biarin! Boleh dong si penulis narsis di tulisan, soalnya juaraang narsis via foto-foto sih
Oke, satu lagi postingan gak penting akan berakhir di sini – tapi yang penting nulis kan!





Hasil yang pertama dengan yang kedua kok bisa gak sinkron ya?
Nama Jepang saya keren juga loh
山田 Yamada (mountain field) 和也 Kazunari (be harmonious)
ehheheheh nice info
namaku jadi Rikiya Adachi
Gyahahaha namanya bagus!
Ah tapi masih bagusan nama saya dong, saya sendiri sampe takjub ga percaya.
Morimasa, Fujiwara, Ichihara, seinget saya ketiga nama itu adalah nama pemimpin klan-klan ternama di Jepang jaman dulu.
Aih, senangnya punya kulit yang bagus…
*tersipu* **lho kok?**
Eh tunggu, kelupaan. Kamu tidur jam berapa??
Kok posting ini kayaknya dini hari…
*terpana*
hihi, saya memang sdikit aneh dgn jam biologis. biasanya tidur antara jam 8-1 malam, trus akhirnya bangun & melek sampe pagi
saya gampang ngantuk sih, jd jam segitu rasanya badan ini udah nuntut minta tidur (kayak anak TK)
Hohoho, itu malah menurut saya bagus.
Jangan lupa tahajjud.
Dulu waktu masih ngekos, waktu masih kuliah, saya juga sering gitu. Tidur habis makan malem, habis maghrib (saya makan jam 6), sekitar jam 7. Terus jam 1 saya bangun. Lumayan tidur 6 jam. Terus habis itu saya salat isya’, lanjut tahajjud, gak tidur ampe pagi. Biasanya saya pake buat belajar. Enak banget, sepi, sunyi, adem udaranya…
wuahh, bener2. jam segitu itu emang enak bgt suasananya, apalagi buat belajar. adem lg (surabaya kan panasnya luar binasa gt) hehe
wah, saya jadi penasaran kalau nama saya di Jepang-kan jadi apa ya? hehe