Fisika dan Kalkulator

Dulu, waktu aku baru-baru kenal sama yang namanya fisika, aku langsung berpikir kalau dunia yang satu ini hanya dihuni oleh dua hal : rumus dan angka. Yang pertama (rumus) jumlahnya sejuta, dan yang kedua (angka) jumlahnya tak-hingga menyesuaikan poin pertama (rumus). Setiap aku membaca artikel tentang fisika, aku akan menemukan berbagai ukiran aneh-aneh yang belakangan kuketahui sebagai abjad yunani. Setiap kali aku melihat penyelesaian soal fisika, minimal ada 7 angka di belakang koma, dan kesimpulanku cuma satu : aku butuh kalkulator kalau mau berinteraksi dengannya.

Benar saja, begitu aku masuk SMP, aku diwariskan kalkulator keramat ayahku (dan masih aktif kugunakan sampai sekarang). Sejak saat itu, kalkulator sifatnya sama seperti pulpen : tidak pernah tertinggal kubawa ke sekolah, les, dan selalu ada di atas meja belajar di rumah. Kebiasaan ini berlanjut terus sampe aku ikut bimbingan olimpiade waktu kelas 2 SMP. Saat itu, aku merasa aneh ketika melihat semua pertanyaan dalam soal olimpiade (baik waktu SMP maupun SMA) diawali dengan kalimat “tentukan persamaan blablabla” tanpa diketahui koefisien friksinya berapa, massanya berapa, ini berapa, atau itu berapa. Kalkulator? Gak fungsi! ~.~

Dan kejadian ini berulang belakangan ini, semenjak dua semester terakhir. Semakin tinggi semesterku kuliah di jurusan ini (fisika – red), semakin jarang aku mempergunakan kalkulator. Kuliahku (terutama kuliah wajib) hanya diwarnai oleh turunkan persamaan blablabla, buktikan persamaan blablabla, dengan metode blablabla buktikan bahwa blablabla, apakah persamaan blablabla relevan dengan blablabla, dan saudara sebangsa setanahairnya.

Terus apa pentingnya postingan kali ini? Di sini aku cuma ingin berbagi sedikit cerita tentang fisika. Fisika, emang identik dengan rumus-rumus. Mulai dari rumus yang cuma tambah-kurang-kali-bagi sampe integral kompleks dan antek-anteknya pasti ditemui di sini. Seperti yang dosen-dosen kuliah saya komandangkan, bagi seorang fisikawan, matematika hanyalah bahasa, bukan ilmu! Ya, bagi seorang fisikawan, yang namanya diferensial, integral, deret Fourier, lagrangian, de-el-el itu adalah makanan sehari-hari dan hanyalah bahasa untuk menyederhanakan pernyataan fisis yang jika dibahasakan akan lebih rumit daripada rumus itu sendiri. Nah lho? Bingung? Baca Matematika itu Bahasa.

Kesimpulan : fisika dengan tingkat yang semakin tinggi gak terlalu membutuhkan kalkulator, KARENA kalau persamaannya udah bener, tinggal masukin aja nilai-nilainya, jadi, bagian yang tersulit adalah nentuin persamaan atau rumusnya!

Seperti yang selalu dosen saya elu-elukan : “sisanya kan hanya matematis biasa!”

Long live physics yeaa!

About these ads

2 thoughts on “Fisika dan Kalkulator

**Silakan Berkomentar~! ^.^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s